Robert Cribb (Indonesia Beyond Soeharto) : Memandang peta rasanya cukup untuk memberi kesan tidak mungkin mengenai adanya Negara Indonesia. Dengan lebih dari 13.000 pulau, yg terbentang lebih dari 5.000 km melintasi 3 zona waktu, serta lebih dari 200 kelompok etnis, Orang menduga kepulauan yg sebanyak itu sekurang-kurangnya terdapat beberapa Negara, tetapi ternyata hanya ada satu, Republik Indonesia

Presiden Soekarno :  dalam pidato 1 Juni 1945 antara lain mengatakan: “Seorang anak kecil pun, jikalau ia melihat peta dunia, ia dapat menunjukkan bahwa Kepulauan Indonesia merupakan satu kesatuan. Pada peta itu dapat ditunjukkan satu kesatuan gerombolan pulau-pulau di antara dua lautan yang besar; lautan Pasifik dan lautan Hindia, dan di antara dua benua, yaitu benua Asia dan Benua Australia. Seorang anak kecil dapat mengatakan, bahwa pulau-pulau Jawa, Sumatra, Borneo, Selebes, Halmahera, Kepulauan Sunda Kecil, Maluku, dan lainlain pulau kecil di antaranya, adalah satu kesatuan”.

Kesatuan bangsa Indonesia tidak bersifat alami melainkan historis, artinya Bangsa Indonesia bersatu bukan karena dibersatukan oleh bahasa ibu atau oleh kesatuan suku, budaya ataupun agama. Yang mempersatukan masyarakat di Indonesia adalah sejarah yang dialami bersama, sebuah sejarah penderitaan, penindasan, perjuangan kemerdekaan dan tekad pembangunan kehidupan bersama. Dari “nasib”bersama itu tumbuh hasrat untuk tetap bersama. Persatuan Indonesia tidak bersifat etnik melainkan etis

 

 Baca selanjutnya

Menurut  Guibernau : 1996 Bangsa adalah… “ ..a  human group conscious of forming community, sharing a common culture attachd to clearly demancated territory, having a common past and a common project for the future and calaiming the right to rule itself. Thus nation includes five dimensions ; psychological, cultural, territorial, political, and historical.”

Negara kebangsaan memiliki unsur-unsur yang penting pengikat, yaitu ; psikologi (sekelomppk manusia yg memiliki kesadaran bersama untuk membentuk satu kesatuan masyarakat/adanya kehendak utk hidup bersama, Kebudayaan (merasa menjadi bagian dari suatu kebudayaan  bersama), territorial (batas wilayah atau tanah air), sejarah dan masa depan (merasa memiliki sejarah dan dan perjuangan masa depan yang sama) dan politik (memiliki hak untuk untuk menjalankan pemerintahan sendiri)

Memang pemikiran mengenai paham kebangsaan berkembang dari masa ke masa, dan berbeda dari satu lingkungan masyarakat ke lingkungan lainnya yang dicirikan oleh berbagai aliran atau haluan (Dinamis). Dalam sejarah bangsa-bangsa, dapat dilihat betapa banyak paham yang melandaskan diri pada kebangsaan. Ada yang menggunakan pendekatan ras atau etnis seperti nasional sosialisme (Nazisme) di Jerman, atas dasar agama seperti dipecahnya India dengan Pakistan, atas dasar ras dan agama seperti Israel-Yahudi, dan konsep Melayu-Islam di Malaysia, atas dasar ideologi atau atas dasar geografi atau paham geopolitik, seperti yang dikemukakan oleh Bung Karno

Perubahan lingkungan internal dan eksternal yg dihadapi suuatu bangsa senantiasa memiliki aspek positif dan negative, ada pihak yg diuntungkan dan ada pihak yg dirugikan oleh perubahan tsb. Tanpa pemahaman wawasan kebangsaan yg benar, perubahan lingkungan tsb akan sulit di kelola dan dimanfaatkan utk kemajuan bangsa.

Pertubahan merupakan suatu keniscayaan bagi suatu bangsa, namun bagaimana bangsa tersebut menyikapi perubahan, disanalah perbedaan bangsa yg maju dengan bangsa yg terus tetinggal dan terbelakang

Rasa kebangsaan atau nasionalisme pada masyarakat Indonesia saat ini menunjukkan indikasi yang semakin pudar,

  1. Survey Media Group pada tanggal 1 Nopemeber 2007 tentang persepsi masyarakat Indonesia terhadap Malaysia, 48 % mempersepsikan sebagai ancaman, 34 % sebagai sahabat, 18 % tidak memberikan jawaban. Sedangkan perasaan publik terhadap Malaysia, 65 % biasa?biasa saja, hanya 25 % yang mengatakan tidak suka, 10 % tidak memberikan jawaban. Survei yang dilakukan oleh Media Group dilatarbelakangi oleh keadaan dan situasi yang berkembang dalam masyarakat di sebagian besar wilayah Republik Indonesia yang memberikan reaksi terhadap sikap Malaysia yang mengklaim beberapa karya budaya masyarakat Indonesia sebagai karya budaya Malaysia, seperti batik dan tarian reog.
  2. Penelitian oleh Lemhannas tahun 2007 mengungkapkan tentang bagaimana sikap dan perilaku masyarakat di daerah penelitian berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat, berpolitik dan bernegara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran ideologi dalam kehidupan bermasyarakat rendah, dalam kehidupan berpolitik cukup dan tinggi dalam kehidupan bernegara. Selanjutnya diungkapkan bahwa peran agama dalam kehidupan bermasyarakat tinggi, dalam kehidupan berpolitik cukup dan dalam kehidupan bernegara peran rendah.

Hasil penelitian di atas, mengindikasikan bahwa terjadi perbedaan yang signifikan antara peran agama dibandingkan dengan peran ideologi dalam kehidupan bermasyarakat, berpolitik dan bernegara, yang seharusnya berjalan paralel, karena ideologi dan agama dalam falsafah Ideologi Pancasila tidak dapat dipisahkan. Agama dalam Ideologi Pancasila adalah merupakan roh (sila I Ketuhanan Yang Maha Esa) untuk kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam negara kesatuan Republik Indonesia. Hal yang serupa juga ditunjukkan dari hasil survei yang dilakukan oleh Media Group, juga menunjukkan sesuatu yang tidak sama antara persepsi tentang ancaman dengan perasaan tidak suka terhadap Malaysia. Adanya ketidaksamaan peran agama dan ideologi dalam kehidupan bermasyarakat, berpolitik dan bernegara dan antara persepsi sebagai ancaman dengan perasaan tidak suka terhadap Malaysia sebagaimana yang diungkapkan di atas, jelas memberikan indikasi kuat bahwa pada masyarakat kita terjadi apa yang disebutkan sebagai pudarnya rasa nasionalisme sebagai bangsa.

Disamping itu masih ada fenomena terkikisnya nasionalisme yang lain yaitu munculnya sparatisme, terorisme, dan berkembangnya ideologi trans-nasional yang mengingkari paham kebangsaan, cinta tanah air dan negara. Fenomena lain dari terkikisnye nasionalisme adalah enggan memakai produksi dalam negeri, baik dalam bentuk makanan, pakaian, dan teknologi.

Indonesia sejatinya adalah bangsa dan negara besar: negara kepulauan terbesar di dunia, jumlah umat muslim terbesar di dunia, bangsa multi etnik dan bahasa namun bersatu, memiliki warisan sejarah yang menakjubkan dan kreatifitas anak negeri seperti batik, aneka makanan dan kerajinan yang eksotik, kekayaan serta keindahan alam yang luar biasa. Predikat sebagai bangsa dan negara yang positip itu seakan sirna karena mendapat predikat baru yang negatip seperti terkorup, bangsa yang soft nation, malas, sarang teroris, bangsa yang hilang keramah tamahannya, banyak kerusuhan, banyak bencana dan lain sebagainya.

Indonesia memiliki modal atau kekuatan yang memadai untuk menjadi bangsa besar dan negara yang kuat. Modal itu antara lain: luas wilayah, jumlah penduduk, kekayaan alam, kekayaan budaya, kesatuan bahasa, ketaatan pada ajaran agama, dan sistem pemerintahan republik yang demokratis. Akan tetapi modal yang besar itu seakan tidak banyak berarti apabila mentalitas bangsa ini belum terbangun atau belum berubah ke arah yang lebih baik. Mentalitas bangsa Indonesia yang kurang kondusif atau menjadi penghambat kejayaan bangsa Indonesia menjadi bangsa maju antara lain: malas, tidak disiplin, suka melanggar aturan, ngaji pumpung, suka menerabas, dan nepotisme. Selama mental sebuah bangsa tersebut tidak berubah, maka bangsa tersebut juga tidak akan mengalami perubahan dan akan tertinggal dengan bangsa-bangsa lain, meskipun bangsa tersebut sesungguhnya memiliki potensi dan modal yang besar

Pada masa Presiden Sokarno, agenda kebangsaan dan wawasan kebangsaan terus berkembang, dalam konteks kehidupan bernegara dan berbangsa pada waktu itu, agenda kebangsaan dan wawasan kebangsaan  yg menonjol, disamping nilai dasar yg sdh ada adalah persatuan, kedaulatan dan pembentukan karakter bangsa (nation and character building)  Bung karno berhasil mengangkat tinggi kehidupan kebangsaan yg terus hidup hingga saat sekarang.

Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, didorong oleh kebutuhan zaman maka agenda kebangsaan yg mengemuka pada waktu itu adalah pentingnya stabilitas, tatanan, pembangunan ekonomi dan pembangunan system (system building)

Pada masa pemerintahan Presiden Habibie, Gusdur, megawati dan Soesilo Bambang Yudhoyuno sekarang , meski transisi masih terus berlangsung tapi tidak sulit kita bersepakat bahwa agenda kebangsaan yg utama adalah reformasi dan rekonstruksi menuju kebangkitan kembali Indonesia sbg Negara kebangsaan.

Kesalahan berpikir kita adalah memberi makna reformasi itu hanya sebagai perubahan (change), kita lupa bahwa sesungguhnya reformasi itu suatu proses yg dlm perubahan (change) itu juga harus dipertahankan suatu keberlanjutan yang kita sebut dengan kesinambungan (continuity). Rasa kebencian pada masa lalu tidak jarang menumbuhkan pemikiran ekstrim bahwa segala sesuatu dimasa lalu adalah sudah pasti using, misalnya periode 1966-1998 memandang segala yg berbau orde lama dianggap perlu ditinggalkan demikian juga padsa kurun waktu 1998-sekarang, segala yg berbau orde baru dianggap tidak baik, jarang sekarang kita mendengar istilah-istilah, ketahanan nasional, wawasan kebangsaan, dll, padahal jika kita beranggapan reformasi sebagai suatu perubahan yang berkelanjutan yg perlu kita lakukan sekarang adalah Pemantapan pembentukan karakter bangsa (nation and character building)sebagaimana yg digagas oleh Presiden RI yg pertama  dan Pemantapan pembangunan system (system building)sebagaimana yg digagas oleh Presiden RI yg kedua.

 

Sumber :http://adilesmana.wordpress.com
Tags :Opini