Dari total nilai investasi itu, sekitar Rp.500 miliar dari investor asal dari Malaysia. Rencana investasi China senilai Rp. 500 milyar itu, akan direalisasikan sebelum masa berlaku perjanjian kerja sama bilateral Indonesia-Cina yaitu bilateral arangement 2001 dan protocol amanding the bilatreral arrangement 2004 akan berakhir pada Juli 2007.

Sesuai perjanjian kerja sarna bilateral Indonesia- China,  yang a kan berakhir pada Juli 2007 itu pemerintah  memberikan alokasi 381 unit kapal China untuk beroperasi di   zona eko­nomi ekslusi fIndonesia. Namun, dari jumlah itu, jumlah itu yang ditindak lanjuti dengan pengurusan surat izin usaha penangkapan untuk 274 unit, hanya 60 unit kapal yang beroperasi.

Rencana investasi itu diungkapkan langsung delegasi pengusaha per­ikanan dari negeri Tirai Bambu yang      dipimpin Dirjen Perikanan Depar­temen Pertanian China, Chien Hoa saat bertemu dengan Menteri Kelaut­an dan Perikanan, Freddy Numberi.

Dalam pertemuan itu dikatakan se­jumlah investor dari China menyata­kan keseriusan membangun industri pengolahan secara terpadu dan pela­buhan pendaratan ikan dengan inves­tasi sedikitnya Rp500 millar.

Para pengusaha itu rencananya akan membangun industri pengolah­an hasil perikanan sebagai kewajiban atas pengoperasian armada kapal asing di zona ekonomi eksklusif Indo­nesia yang akan diberlakukan akhir tahun ini.

Dirjen Perikanan Tangkap Departe­men Kelautan dan Perikanan (DKP), Husni Manggabarani mengatakan mereka sudah melihat potensi pela­buhan perikanan di kawasan timur Indonesia a.l. di Tual, Biak, dan Mi­mika, yang berdekatan dengan per­airan Arafura dan bagian dari 12 unit pelabuhan di lingkar luar (outer ring port) wilayah Indonesia.

"Investasi yang hendak mereka tanamkan besar, karena untuk mem­bangun sau unit pelabuhan saja di­butuhkan sekitar Rp500 miliar," kata­nya saat berdialog dengan komunitas wartawan kelautan dan perikanan (Komunikan) di Jakarta kemarin.

Hingga kini, investasi asing yang te­lah direalisasikan adalah PT RD Anu­grah Indonesia, perusahaan joint ven­ture antara RD Corporation (Filipina) dan PT Anugrah Bahari Utama (Indo­nesia), dengan investasi senilai US$ 9 juta yang terbagi untuk pembangun­an kapal, galangan dan coldstorage se­besar US$ 7,5 juta serta pembangun­an fisik pabrik dengan segala fasilitas­nya sebanyak US$ l,5 jura.

Selain itu, Signal Marine Corpora­tion (Filipina) juga telah menjalin kerja sarna dengan PT Sinar Pure Food International yang menggarap usaha penangkapan ikan tuna dan pengalengannya di Bitung, Sulawesi Utara.

Sementara itu, Wali Kota Padang Fauzi Bahar mengatakan investor Malaysia akan merealisasikan ren­cana investasi di sektor kelautan dan perikanan di Kota Padang yang berni­lai Rp 200 miliar. Terutama untuk pengadaan kapal. penangkap ikan berkapasitas 60-100 GT dan pendiri­an pabrik pengalengan ikan.

Investor itu akan kirim 100 kapal ikan yang dipesan dari Jepang seba­gai bukti komitmen merealisasikan kesepakatan rencana berinvestasi di Padang.(K13)(nurudin.abduUah@bisnis.co.id/martinsihombing@bisnis.co.id)

Sumber :Bisnis Indonesia