“Demokrasi harus terus jalan. Itu pilihan kita. Begitu juga kebebasan pers sebagai pilar keempat demokrasi. Tidak ada pikiran untuk menghentikan proses transformasi dan reformasi yang saat ini tengah berjalan,” ujar Presiden dalam sambutan acara buka puasa bersama pemimpin redaksi dan wartawan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (28/9). Pernyataan itu disampaikan Presiden untuk menanggapi pertanyaan pengusaha Malaysia yang takut berinvestasi di Indonesia lantaran kebebasan pers yang menampilkan gambaran tidak kondusifnya Indonesia. Bulan Agustus 2006 Presiden berada di Malaysia ketika mengikuti pertemuan tingkat tinggi Organisasi Konferensi Islam (OKI). Ketika berada di negeri jiran itu, Presiden mengadakan pertemuan dengan para pengusaha Malaysia. Presiden mengemukakan, kebebasan pers dan kebebasan rakyat mengemukakan pikiran melalui media massa merupakan keniscayaan dalam transformasi menuju demokrasi. “Kebebasan pers bagian dari kehidupan demokrasi. Pers penyumbang utama tumbuhnya demokrasi menuju kemapanannya. Saya yakin, dalam perjalanannya akan ada suatu ekuilibrium baru yang diharapkan lebih baik dari yang ada saat ini,” ujarnya. Dari kasus takutnya pengusaha Malaysia berinvestasi di Indonesia karena pemberitaan media massa, Presiden melihat perspektif lain agar media massa berimbang atau istilahnya menampilkan the real picture of Indonesia. “Lakukan peliputan secara utuh dan berimbang untuk menampilkan the real picture of Indonesia berikut hal positif dan negatifnya,” ujarnya. Meskipun demokrasi banyak variasi dan artinya, Presiden yakin nilai dan norma demokrasi dengan kebebasan di mana pun sama. Pengalaman Indonesia mengekang kebebasan ternyata telah membawa keburukan. Menurut dia, demokrasi adalah pilihan yang tepat bagi Indonesia untuk suatu saat,menjadi lebih berdaya tahan.Empat manfaatPresiden mengemukakan empat manfaat demokrasi. Pertama, demokrasi mencegah tirani, diktator, dan pemaksaan kehendak. Kedua, demokrasi membuka ruang bagi setiap orang untuk menyampaikan pendapatnya. Ketiga, demokrasi membuat kekuasaan bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan dan yang tidak dilakukannya untuk rakyat karena tuntutan transparansi. Keempat, demokrasi memungkinkan partisipasi rakyat lebih besar untuk keputusan yang memengaruhi hajat hidup orang banyak. “Empat hal itu tidak dijumpai di suatu negara yang tidak demokratis. Memang demokrasi sering menimbulkan kegaduhan dan prosesnya lama. Tidak apa-apa karena setelah diterima semua, hal itu akan lebih abadi karena semua rakyat terlibat,” ujarnya. Untuk memekarkan dan maju terus dengan demokrasi, Presiden mengingatkan tiga pilar demokrasi. Pertama, kebebasan yang tidak bisa digantikan dengan apa pun. Kedua, aturan hukum yang dipatuhi agar kebebasan yang dijamin tidak saling bertabrakan. Ketiga, toleransi setinggi-tingginya mengingat kemajemukan Indonesia di segala segi. “Dengan aturan hukum, kita ingin demokrasi yang tertib. Semua pihak yang dijamin kebebasannya mematuhi aturan perundang-undangan dan aturan main. Aturan main membuat segala sesuatu menjadi pasti jika ada konflik,” ujarnya.“Hate and love”Dalam demokrasi, kebebasan pers dijamin. Presiden menganalogikan hubungan pemerintah dengan media massa, hubunganpresiden dengan wartawan sebagai hubungan hate and love’ (benci dan cinta).“Hate and love relations saya terjemahkan sebagai kasih sayang meskipun ada hate-nya,” ujarnya. Terkait dengan kritik kepada pemerintah yang dialamatkan kepadanya, Presiden mengatakan, hal itu dilandasi niat baik agar keputusan yang diambil pemerintah benar dan agar Presiden memimpin dengan benar. Presiden tidak mempersoalkan diangkatnya hal-hal yang belum baik dan sejumlah kegagalan yang memang benar adanya diangkat media. “Kalau saya mendudukkan persoalan setelah dikritik, tidak boleh diatakan bahwa saya tidak boleh dikritk. Boleh dikritik, tetapi beri penjelasan dengan tujuan yang baik. Saya ingin rakyat mendapatkan penjelasan yang lengkap,” ujarnya. Sebelum memaparkan hubungan demokrasi dan kebebasan pers, Presiden atas nama keluarganya meminta maaf apabila dalam kerja sama dan hubungan profesi selama ini dengan media massa dan wartawan mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Presiden juga mengatakan bahwa pentingnya berhubungan dengan wartawan tidak hanya bersifat profesi, tetapi juga yang bersifat rohani. Presiden juga bicara soal kasih sayang yang bisa menembus berbagai perbedaan, seperti ras, etnis, dan kultur. Kasih sayang, kata Presiden, juga bisa mencegah berbagai konflk dan aksi kekerasan. Hadir dalam acara kemarin antara lain Nyonya Ani Yudhoyono, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, Menteri Perhubungan Hatta Rajasa, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo, Menteri Komunikasi dan Informatika Sofyan Djalil, Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng, serta para wartawan yang tinggal di Jakarta maupun dari daerah-daerah. Acara buka puasa kemarin juga ditandai ceramah oleh Nasaruddin Villar. (INU)Sumber :Komas