Menurut Perwakilan Kantor Berita Rusia di Jakarta, RIA Novoski, Selasa (31/10), kedua pesawat yang terbang dari kota Khabarovask di timur jauh Rusia telah mendarat di Bandara Palembang pada Senin (30/10) dan sejumlah awak Rusia kini mulai bertugas. Sementara itu, Juru Bicara Kepresidenan, Dino Patti Djalal mengatakan pemerintah Indonesia telah menandatangani kontrak dengan pemerintah Rusia untuk meyewa kedua pesawat tersebut. "Kami benar-benar membutuhkan pesawat ini karena kemampuan kami tidak cukup untuk melawan kebakaran yang terjadi di Kalimantan dan Sumatera," katanya. Dino mengatakan sebagai tambahan dari kontrak tersebut, pemerintah Indonesia juga berharap dapat membangun kerjasama jangka panjang yang konstruktif dengan Rusia karena kebakaran selalu terjadi di Sumatera dan Kalimantan. Menteri Riset dan Teknologi, Kusmaryanto Kadiman, mengatakan pesawat pemadam kebakaran milik Rusia memiliki kemampuan teknik dalam mengambil air dari tempat penampungan. Ia bahkan mengakui bahwa kedua pesawat itu adalah satu-satunya model pesawat besar yang mampu melakukan tugas pemadaman. Juru Bicara Kementerian Gawat Darurat Rusia, Yevgeny Filatov mengatakan kontrak dilakukan pemerintah Rusia dengan Bakornas dengan jangka waktu enam minggu. Sebelum kerjasama ini, menurut Filatov, pemerintah Rusia juga membantu Indonesia ketika gempa di Nias dan tsunami di Aceh terjadi. "Kami mengirimkan rumah sakit berjalan dan tim pencarian dan penyelamatan di Aceh pada Desember 2004 dan Nias pada Maret 2005," katanya. Pesawat Amphibi BE-200 memiliki berat maksimum ketika lepas landas 37,2 metrik ton, dengan kecepatan maksimum 610 kph. Pesawat setinggi 8,9 meter ini yang tercatat pernah memadamkan kebakaran di California, AS pada tahun 2003. BE-200 memiliki ketinggian maksimum yang dapat dicapai hingga 8.000 meter dengan jarak tempuh 3.850 km. (Ant)Sumber :www.analisa.online