Nilai itu sama dengan 14 persen produk domestik bruto (PDB)," kata Lead Financial Economist Bank Dunia P.S. Srinivas dalam acara peluncuran buku "Membuka Potensi Sumber Daya Keuangan Dalam Negeri Indonesia" di kantor Bank Dunia, Jakarta, kemarin. "Itu angka yang signifikan dan perlu dikelola lebih baik," tutur dia lebih lanjut. Srinivas memaparkan, suatu negara membutuhkan sektor perbankan dan LKNB agar sistem keuangan mapan. Lembaga keuangan non bank, kata dia, mampu menggerakkan dan mengalokasikan sumber daya domestik jangka panjang untuk membiayai pembangunan. Saat ini, Indonesia membutuhkan tambahan investasi di bidang infrastruktur sebesar US$ 5 miliar. "Strategi peminjaman pemerintah adalah butuh menambah porsi utang dalam negeri jangka panjang," katanya. Menurut dia, skala lembaga keuangan non bank di Indonesia masih berskala kecil dibandingkan dengan bank yang beraset Rp 1.500 triliun. Di Malaysia, aset LKNB mencapai 138 persen PDB, Thailand 32 persen, dan Singapura 170 persen. Bank Dunia memproyeksikan, lembaga keuangan non bank di Indonesia berpeluang tumbuh pesat. Alasannya, pertama, jumlah penduduk yang punya polis asuransi baru sedikit di atas 10 persen. Kedua, yang memiliki tabungan pensiun pun baru 15 juta orang. Ketiga, ada sekitar 100 ribu rekening investor ritel domestik di bursa saham. Keempat, investor reksa dana baru 255 ribu. "Faktor lain, perusahaan leasing dan modal ventura juga belum berperan penting dalam mendanai pengusaha dan UKM," ujar Srinivas. Setiap tahun, menurut dia, aset dana pensiun dan asuransi di Indonesia tumbuh 20 persen. Namun, penempatan aset lembaga keuangan non bank ini perlu diperbaiki. Saat ini, perusahaan asuransi menginvestasikan sepertiga dananya (Rp 23 triliun) dalam deposito jangka pendek dan reksa dana, sementara, dana pensiun 40 persen (Rp 42 triliun). Deputi Menteri Koordinasi Perekonomian Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Sahala Lumban Gaol mengakui sektor finansial masih dikuasai industri perbankan hingga 80 persen. Pemerintah, kata dia, pun menyadari pertumbuhan membutuhkan dukungan lembaga keuangan non bank. Itu sebabnya, pemerintah akan mendukung pengembangan LKNB yang kredibel. Meski diakui, pertumbuhan lembaga ini membutuhkan waktu jangka panjang. KURNIASIH BUDISumber :Tempo