Penandatanganan dilakukan oleh Menteri Perindustrian dan Sumberdaya Utama Brunei Darussalam, Menteri Kehutanan RI dan Menteri Sumberdaya Alam dan Lingkungan Malaysia, mewakili negara masing-masing. Deklarasi Heart of Borneo (HoB) yang memuat komitmen bersama Pemerintah Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam berisi: a. Melalui satu kesatuan visi konservasi dan dengan maksud untuk meningkatkan kesehjahteraan rakyat, kami akan bekerjasama dalam menumbuhkan manajemen sumberdaya hutan yang efektif dan jaringan konservasi pada area lindung, hutan produksi dan pemanfaatan lahan berkelanjutan pada area di perbatasan tiga negara yang akan menandatangani deklarasi "Heart of Borneo (HoB)", dengan maksud untuk mempertahankan warisan alam Borneo (Kalimantan) untuk manfaat sekarang dan generasi yang akan datang, dengan sepenuhnya menghormati kedaulatan dan batas-batas teritorial masing-masing negara serta tanpa prasngka untuk terus menerus bernegoisasi atas batas-batas demarkasi lahan. b. HoB adalah ikatan antar lintas batas yang bersifat sukarela antara tiga negara ditambah dengan pihak-pihak terkait, didasarkan atas kearifan lokal, pengakuan dan penghormatan terhadap hukum, kebijakan-kebijakan, peraturan-peraturan yang berlaku dalam masing-masing negara serta memuat ketentuan dan kesepakatan-kesepakatan lingkungan multilateral yang relevan sebagai pertimbangan bagi kesepakatan bilateral dan regional. c. Kami sepakat untuk bekerjasama didasarkan atas prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan melalui riset atau penelitian dan pembangunan, pemanfaatan berkelanjutan, perlindungan, pendidikan dan latihan, pengumpulan dana sebagaimana aktifitas-aktifitas lain yang relevan bagi manajemen lintas batas, konservasi dan pembangunan dalam lingkup HoB. Maksud dari inisiatif program Heart of Borneo (HoB) adalah untuk memberikan input kebijakan dalam merumuskan pengelolaan perbatasan dengan mempertimbangkan tipologi SDA, pengembangan wilayah dan masyarakat serta lingkungan. Pada tahapan awal dilakukan melalui membangun komitmen politik dan sekaligus menjaring kegiatan-kegiatan prioritas untuk diimplementasikan. Sedangkan tujuannya adalah tercapainya konektivitas kawasan konservasi dengan mendorong pengelolaan yang bertanggung jawab di kawasan budidaya kehutanan dan non kehutanan (Perkebunan). Oleh karena itu, Heart of Borneo (HoB) dapat menjadi alternatif bagi program pembangunan di perbatasan yang mengintegrasikan program konservasi dan pembangunan berkelanjutan. Sinergi dan komitmen jangka panjang dari berbagai pihak dalam pengembangan perbatasan diharapkan dapat mewujudkan daerah perbatasan sebagai 'beranda depan' Indonesia. Kerjasama lintas batas sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan berbagai masalah lintas batas di Borneo seperti illegal logging, perdagangan illegal satwa liar dan kebakaran hutan. Bahkan kerjasama lintas batas pengelolaan 3 Taman Nasional Betung Kerihun (Indonesia) dan Batang Ai dan Lanjak Entimau (Sarawak-Malaysia) menjadi World Heritage Site pada saat ini sedang dirintis. (Ant)Sumber :www.analisa.online