Kapal perang yang dimiliki TNI AL saat ini sebanyak 120 unit. Menurut dia, jumlah itu tidak sebanding dengan luas perairan Indonesia. Akibatnya, wilayah perairan RI selalu mendapat ancaman dari negara luar. ”Lemahnya pengawasan dan armada yang dimiliki jelas membuat kebocoran di perairan laut sangat tinggi, perlu ada penambahan kapal perang agar kekuatan TNI AL dalam melaksanakan tugas serta menegakkan keutuhan NKRI bisa terjamin,” tegasnya,kemarin.

Djoko mengungkapkan, potensi gangguan keamanan laut hingga kini masih sangat tinggi. Hal itu dapat dilihat dari tingginya aksi pencurian ikan di wilayah laut Indonesia yang dilakukan nelayan asing. Selain itu, perairan RI juga mudah disusupi pelaku penyelundupan seperti penyelundupan kayu, pasir, bahkan senjata berbahaya. ”Saya kira kekuatan TNI AL,Pol Air,Bea Cukai, dan lain-lain masih belum cukup efektif menangani persoalan ini.Kita akan melakukan koordinasi satu sama lain sehingga pengamanan akan semakin kuat,” tandasnya.

Menurut Djoko, aksi kejahatan transnasional yang terjadi di wilayah perairan Indonesia terbesar adalah penyelundupan kayu yang dikirim ke negara lain seperti China. Dia berharap, petugas pengamanan yang berada di darat pun bekerja maksimal dengan menindak para cukong pelaku illegal logging. ”Kalau perompakan di Selat Malaka, alhamdulillah sedikit tertangani atas kerja sama kita dengan patroli Singapura dan Malaysia,” jelasnya. Mengenai fungsi dan tugas Bakorkamla, Djoko mengatakan, lembaga yang dipimpinnya itu didirikan atas dasar PP 81/2005.

Dalam PP itu,Bakorkamla disebutkan bertujuan melaksanakan penyusunan kebijakan dan pelaksanaan kegiatan operasi keamanan laut secara terpadu. Anggota Komisi I DPR Andreas Pareira menyatakan bahwa selama ini memang perhatian kepada Angkatan Laut (AL) masih kurang. ”Ini kan soal anggaran prioritas dari strategi pertahanan kita yang kurang perhatian pada Angkatan Laut,” ujarnya.

Anggota DPR dari PDIP itu mengatakan, keluhan AL yang kekurangan alutsista bukanlah hal baru.Pasalnya,memang selama ini Angkatan Darat (AD) lebih diutamakan daripada AL, dan kenyataan yang ada, sejak Orde Baru tersebut belum hilang sampai sekarang. Karena itu,Andreas mengharapkan agar ke depan AL lebih diperhatikan lagi. ”Strategi pertahanan ke depan harus fokus pada laut dan udara.Karena keduanya adalah wilayah terbuka yang harus mendapat perlindungan lebih,” tandasnya.

Sumber :SINDO