"Itu cukup untuk kebutuhan selama dua minggu," kata Kasubdit Arbovirosis Dirjen P2PL Departemen Kesehatan, Rita Kusriastuti, di sela penyemprotan nyamuk demam berdarah di Kompleks Kehakiman, Utan Kayu, Jakarta Timur, Jumat (20/04).
Rita mengatakan penyemprotan secara serentak di wilayah DKI tidak akan efektif jika tidak disertai pemberantasan sarang nyamuk. Penyemprotan, tambahnya, hanya untuk membasmi nyamuk, tapi tidak membunuh jentik. Karena itu, ia meminta setiap warga untuk berpartisipasi aktif melakukan pemberantasan sarang nyamuk. "Jentik nyamuk juga bisa dibunuh dengan air yang sudah terkena polusi, misalnya air sabun," katanya.
Ia juga meminta pemerintah mendesak pihak swasta yang secara tidak langsung turut menciptakan masalah demam berdarah. Ia mencontohkan, produsen ban harus bertanggung jawab terhadap ban-ban bekas yang dapat menampung air sehingga menjadi sarang nyamuk. "Kita bisa tekan mereka untuk membeli kembali ban-ban bekas yang mereka produksi," katanya.
Kepada Pemerintah DKI Jakarta, Rita mendesak agar Peraturan Daerah tentang Jentik atau Sarang Nyamuk bisa segera diselesaikan, agar penanganan kasus demam berdarah dapat lebih efektif.
Saat ini DKI masih tercatat sebagai daerah dengan korban DBD terbanyak di atas Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. "Jumlah pasien DBD di Lampung sudah turun," katanya.
Selain dihadiri Walikota Jakarta Timur, Koesnan Halim, aksi penyemprotan nyamuk DBD di Kompleks Kehakiman Utan Kayu juga dihadiri Gubernur DKI Sutiyoso. Dalam kesempatan tersebut, Sutiyoso sempat mengikuti penyemprotan secara langsung di beberapa rumah warga. [Dwi Riyanto Agustiar]Sumber :www.tempointeraktif.com