Yusron Mahmud alias Mahfud alias Yusron,tersangka teroris yang ditangkap di Banyumas, Sabtu (9/6) lalu, diyakini sebagai orang dekat Abu Dujana. Polisi mengetahui, warga RT 03/03 Desa Kebarongan,Kemranjen, Banyumas, Jawa Tengah ini sering bertemu Abu Dujana di lokasi penangkapan.

”Yusron berbeda dengan Abu Dujana. Tapi, dia adalah orang dekat Abu Dujana,” ujar Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Sisno Adiwinoto kepada SINDO, tadi malam. Yusron yang tertangkap setelah ditembak kakinya oleh anggota Densus 88/Antiteror itu sempat disebut sebagai Abu Dujana, pemimpin Jemaah Islamiyah (JI), kelompok militan Asia Tenggara yang jadi buron utama polisi. Dujana juga disebut-sebut sebagai pengganti Noordin M Top, tersangka kasus bom Bali yang hingga kini masih buron. Sisno menjelaskan, polisi menangkap Yusron karena diinformasikan bahwa dia sebelumnya sering melakukan pertemuan dengan Abu Dujana di lokasi penangkapan. ”Saat penangkapan memang terdapat seseorang selain Yusron.

Orang itu melarikan diri.Nah,kami sampai saat ini belum memperoleh informasi identitasnya,” tuturnya. Sisno menjelaskan pula adanya beberapa orang yang diamankan polisi. Namun, dia belum mendapatkan informasi tentang identitas mereka, termasuk apakah terkait dengan kelompok Abu Dujana. Mengenai informasi Yusron ditembak Densus 88 di depan anaknya, Sisno membantah kabar itu. ”Saya rasa tidak. Penembakan itu kemungkinan karena ada perlawanan,” tandasnya. Sisno menjelaskan, kemungkinan besar Yusron masih diamankan di Polda Jawa Tengah demi pengembangan penangkapan Abu Dujana.

Densus 88/Antiteror juga melakukan penggerebekan di sejumlah tempat di Sukoharjo,Karanganyar (Jateng), dan Sleman (DIY). Menurut informasi dua orang berhasil ditangkap. Sebelum ditangkap Sabtu (9/6) lalu, polisi sempat menembak kedua kaki Yusron yang berusaha kabur. Menurut saksi mata,Yusron ditembak dua kali di depan kedua anaknya. Saat ditangkap, Yusron yang asli warga Nepak RT 08/02, Desa Bulurejo, Mertoyudan, Magelang, itu sedang menyaksikan pemilihan kepala desa (pilkades) di desanya.

Dia mengajak tiga dari empat anaknya, masing-masing Yusuf Sidiq, 8; Salman Fariz, 5; dan Hilma Shofia, 2. Merasa diawasi,Yusron bergegas pergi dari tempat pemungutan suara (TPS) pilkades itu.Dia mengajak ketiga anaknya pergi dengan sepeda motor Astrea Prima buatan 1991. Baru 150 meter, dua orang anggota Densus 88 mencegatnya. Yusron berusaha kabur. Satu dari dua petugas itu memberikan tembakan peringatan ke udara. Namun, Yusron tidak berhenti. Akhirnya, petugas menembak kaki kanan Yusron yang masih berada di atas motor. Yusron terjatuh dan masuk ke parit bersama motornya. Ketiga anaknya juga terperosok ke parit sedalam satu meter itu.Namun,Yusron masih berusaha kabur sambil memekikkan takbir.

Polisi pun menembak kaki Yusron lainnya. Usai penembakan itu, ketiga anaknya berteriak histeris sambil menangis. Menurut saksi mata, Naryo, 40, dua anak Yusron, yakni Yusuf Sidiq dan Salman Faris, berlari sambil menangis saat ayahnya ditembak. Keduanya langsung menuju rumah memberi tahu ibunya, Sri Mardiyati, 34.Kebetulan lokasi penangkapan dan rumah keluarga ini tidak terlalu jauh. ”Anak Yusron lainnya,Wilma Sofia, saya gendong dan saya antarkan ke rumahnya. Saat itu saya sedang berada di lokasi, bahkan sempat berbincang dengan petugas itu,” kata Naryo.

Naryo membeberkan, saat itu ada sekitar sepuluh anggota Densus 88. Enam di antaranya mengenakan pakaian preman, dan empat lainnya berseragam. Naryo mengaku mendengar tiga kali suara tembakan. Setelah penembakan itu, kata Naryo,Yusron langsung diborgol dan dibawa ke rumah. Dalam perjalanan pulang,Yusron yang dikawal ketat petugas itu tidak hentihenti mengucapkan takbir. Kemarin sore, rumah Yusron, yang baru delapan bulan ditempati, masih dikerumuni warga.Sejumlah polisi masih berjaga-jaga di rumah yang dikelilingi police line. Kondisi dalam rumah sudah acakacakan. Diduga, polisi juga memeriksa semua ruangan untuk mencari bahan peledak atau senjata api. Menurut Kepala Dusun I Muhdirin, keluarga Yusron memang tipikal warga yang suka berpindah- pindah, meski masih tetap di satu kecamatan.

Tempat tinggal pertama Yusron di rumah kontrakan di Dusun Tipar, Desa Alasmalang. Kedua, di Dusun Teleng, Desa Kebarongan Kidul. Ketiga, di RT 3 RW 3 Desa Kebarongan. ”Di tempat ini dia sudah delapan bulan membeli sebidang tanah milik Sugino,guru SD Adisena Kemrajen, seluas 20 ubin. Di atas tanah itu,Yusron membangun rumah dari papan berukuran 4x7 meter persegi,” katanya. Selama tinggal di rumah itu,Yusron menggantungkan hidup dengan membuat kerajinan tas sekolah. Biasanya, kerajinan itu dijual keliling di sekitar desa atau dijual di Pasar Sumpiuh dan Kemranjen. Sementara itu, warga Dusun Nepak, RT 8 RW 2 Desa Bulurejo, Mertoyudan, Magelang, membantah informasi ada anggota jaringan teroris Abu Dujana yang tinggal di desa mereka. Ketua RT 2 Kabul Hadi Prayitno, 54, mengatakan, dalam data penduduk yang dia pegang selama 12 tahun, tidak pernah terdaftar nama Yusron Mahmud maupun Sri Mardiati.

”Data ini juga terus saya pantau, apakah ada warga yang pindah atau datang. Sehingga, tambah atau berkurangnya juga tercatat,” kata Kabul. Jajaran Polda Jateng mengaku tidak tahu soal penangkapan Yusron. Kabid Humas Polda Jateng AKBP Syahroni menyatakan belum mendapat laporan terkait pergerakan Densus 88 di Banyumas. ”Sampai sekarang saya belum dapat informasi tentang itu. Saya juga tidak tahu dia itu ditangkap karena terlibat apa,” terangnya. Beredar kabar,Yusron sempat dibawa Densus 88 Mabes Polri ke Mapolda Jateng, sekitar pukul 23.00 WIB Sabtu (9/6).”Apakah dibawa ke sini (Polda Jateng) atau tidak, saya juga belum dapat laporan,” terangnya.

Wadireskrim Polda Jateng AKBP Zaenal Arifin Paliwang mengatakan hal serupa.”Saya malah tahunya dari running text televisi. Apakah benar ada penangkapan orang yang diduga terlibat teroris atau tidak,saya belum dapat informasi. Untuk masalah yang terkait Densus 88 saya tidak pernah mendapat laporan.”

Rumah Digerebek

Rumah Taqwim Billah di Kampung Tangkil Baru RT 3 RW 7 Desa Manang, Kec Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah dini hari kemarin didatangi Densus 88/Antiteror Mabes Polri.Kedatangan polisi ini diduga terkait penangkapan Yusron di Banyumas. Menurut keterangan salah satu saksi mata, Ngatimin, warga setempat, kedatangan Densus 88 ini mengendarai tiga mobil dan sepeda motor. Beberapa di antaranya mengenakan pakaian hitam-hitam. Namun, tidak semuanya memakai penutup kepala.

Sementara penggerebekan itu berlangsung antara pukul 02.00– 03.00 WIB. Saat itu, Ngatimin terbangun setelah mendengar suara pintu mobil ditutup dengan keras di depan rumahnya. Setelah itu, lelaki yang rumahnya berada persis di depan rumah Taqwim ini mendengar suara orang memberi perintah. ”Ketika keluar (dari) rumah, sudah ada beberapa personel polisi yang mengepung rumah Taqwim. Salah satu dari mereka bilang agar saya tidak usah ke mana-mana,”tuturnya. Ngatimin sempat mendengar suara kaca pecah dan suara istri Taqwim, Mutmainah, yang berteriak kaget.

Setelah itu, suasana menjadi sepi kembali.Dia juga melihat beberapa personel membawa senjata laras panjang.”Dua di antaranya berjaga di depan pintu.Yang lain saya tidak tahu karena saya cuma lihat dari depan rumah. Mungkin ada juga yang berjagajaga di belakang,”tutur Ngatimin. ”Kelihatannya, tadi malam Taqwim tidak ada di rumah.Tapi, kalau misalnya dia dibawa Densus, saya juga tidak tahu karena saya tidak lihat,”ujarnya. Istri dan anak-anak Taqwim diperkirakan ada di rumah saat penangkapan.Ngatimin menuturkan, dalam keseharian, hubungan keluarga Taqwim dengan tetangga sekitar baik. ”Orangnya juga baik, tidak menunjukkan tingkah laku mencurigakan,” tandasnya. Kapolwil Surakarta Kombes Pol Yotje Mende mengaku belum mendapat konfirmasi terkait penggerebekan yang dilakukan Densus 88 di rumah Taqwim.

”Saya belum mendapat konfirmasi. Jadi saya belum tahu apa yang terjadi dan aktivitas apa yang dilakukan di rumah Taqwim. Personel Polwil juga tidak ada yang dilibatkan,”jelas Yotje. Taqwim disebut-sebut sebagai salah satu buron Densus 88/Antiteror. Pada 2003, dia lolos dari penyergapan karena meninggalkan rumah sebelum Densus 88 datang. Beberapa pelaku terorisme lain yang ditangkap pernah didatangkan ke rumah Taqwim dan mengaku pernah melakukan simulasi pembuatan bom di rumah ini.

Jawa Jadi Basis

Pakar terorisme Asia Tenggara Sidney Jones berpendapat, Abu Dujana merupakan tokoh kunci jaringan teroris di Indonesia, khususnya kelompok JI. Karena itu, polisi pasti sangat ingin menangkapnya. ”Apabila Abu ditangkap, tentu banyak informasi yang didapat tentang gerakan teroris di Indonesia,” ungkap Sidney. Mengenai basis tersangka teroris di Pulau Jawa, Sidney menilai kultur gerakan atau organisasi di sana masih sangat kuat. Karena itu, tidak mustahil berbagai basis gerakan tumbuh. Bahkan, Pulau Jawa menjadi tempat yang cukup aman bagi teroris. Dia menilai upaya Polri untuk memberantas jaringan teroris sudah cukup baik.Itu dibuktikan dengan berbagai penangkapan tersangka. ”Saya rasa sudah bagus dan tinggal meneruskan kesungguhan itu,” tandasnya.

Sumber :www.seputar-indonesia.com