Hal itu menyusul kebijakan baru soal pembebasan bea masuk kedelai. Demikian dikatakan Sekretaris Badan Informasi Komunikasi dan Kehumasan (BIKK) Jateng, Urip Sihabudin, Rabu (16/1) siang ini.

Urip mengatakan, sulitnya memantau pola distribusi ini terjadi karena kedelai tidak termasuk dalam komoditas strategis seperti beras, gula dan minyak goreng.

Menurutnya kenaikan harga kedelai hingga dua kali lipat di pasaran sejak sebulan terakhir ini merupakan bagian dari mekanisme pasar dan dampak dari pasar bebas. Sehingga Pemprop Jateng hanya bisa memantau.

Ditambahkan Urip, dirinya yakin bahwa harga kedelai di pasaran akan kembali turun menyusul adanya kebijakan baru soal pembebasan bea masuk impor kedelai. (DW)Sumber :elshinta