Bermula dari aksi damai kelompok massa pendukung pasangan Abdul Gafur-Abdurahim Fabanyo (AGAR) yang dilakukan sekitar pukul 12.00 WIT di depan halaman kantor gubernur. Saat aksi berlangsung, tiba-tiba sekelompok massa pendukung pasangan Thaib Armaiyn-Gani Kasuba (TAGK) bergerak dari Utara menuju Selatan melalui ruas Jalan Pahlawan Revolusi, mendekati massa AGAR yang tengah berunjuk rasa di depan kantor gubernur.

Aparat kepolisian pun langsung mengantisipasi dengan membentuk barikade pagar betis, guna menghindarkan kedua kelompok bentrok. Namun saat polisi berhasil membentuk barikade, dari arah kelompok massa pendukung TAGK tiba-tiba sejumlah batu melayang ke arah aparat. Aparat yang terpancing langsung mengadakan perlawanan dengan mencoba memukul mundur massa pendukung TA-GK. Tameng dan pentungan digunakan untuk menghalau massa.

Namun massa TAGK terpancing emosinya dan kembali melakukan perlawanan dengan melakukan pelemparan ke arah aparat. Bahkan aksi massa mulai anarkis. Massa malah nekad menghampiri aparat dan melemparkan sejumlah benda keras ke arah aparat. Aparat yang notabene kepolisian mulai melepaskan tembakan peringatan ke udara untuk meredam aksi massa yang mulai beringas. Bukannya mereda, massa malah terus melakukan perlawanan.

Aparat pun mulai represif. Senjata laras panjang yang berisi peluru karet dimuntahkan dari moncong senjata guna melumpuhkan sejumlah massa yang anarkis. Satu orang dari massa pendukung TAGK yang teridentifikasi bernama Marlan Duara (37) tiba-tiba roboh terkena tembakan aparat. Pahanya tertembak peluru aparat. Namun korban diamankan oleh rekan-rekannya sendiri untuk dilarikan ke Rumah Sakit Tentara yang letaknya tidak jauh dari TKP.

Massa sempat lari kocar kacir kembali menuju Utara dan kemudian berbelok ke arah Barat menuju jalan Nukila. Massa kemudian terkonsentrasi di ruas jalan Merdeka. Saat itu Kapolres Ternate AKBP Drs Achmad Marhaendra dan Dandim Ternate Letkol (Inf) Danny Gaotama sempat membuat kesepakatan dengan koordinator massa untuk masing-masing menarik diri.

Tapi tanpa diduga sekitar pukul 15.30, kelompok massa ini ternyata bergerak kembali ke arah Selatan melewati ruas jalan Mononutu. Disini massa kembali berbuat anarkis dengan melakukan pelemparan dan pembakaran ban-ban bekas. Aparat pun kembali bertindak dengan menghalau mundur massa kembali ke Jalan Merdeka. Namun lagi-lagi massa bertindak anarkis.

Polisi pun kembali memuntahkan peluru karetnya. Dua orang kembali menjadi korban masing-masing atas nama Daud Ahmad dan Ikmal Fabanyo. Keduanya juga langusng dilarikan ke rumah sakit tentara untuk menjalani perawatan.

Aksi massa kemudian mereda setelah pihak aparat berhasil menguasai keadaan. Sejumlah orang sempat diamankan oleh polisi karena diduga sebagai pelaku dan penggerak massa.

Aparat ikut jadi Korban
Selain dari massa, pihak aparat juga turut menjadi kortban dalam bentrok tersebut. Bribda Suparto yang mengalami luka pada kemaluan saat terjadi bentrok di Lokasi Pekuburan Cina sekitar pukul 16.20 WIT, Bribtu Rahmat Umakaapa yang mengalami luka sobek pada bawah mata sebelah kanan.

Menurut pantauan Malut Post, seluruh korban dalam keadaan selamat dan masih menjalani perawatan dari rumah sakit. Pihak kepolisian sendiri mengklaim, setidaknya ada 8 anggotanya yang megalami luka-luka akibat lemparan batu dari massa. "ada 8 anggota kami yang juga menjadi korban dalam aksi massa kemarin" ungkap Kasubid Publikasi Polda Malut, Kompol Noortjahyo.

Kapolres : Semua sesuai Protap
Kapolres Ternate AKBP Ahmad Marhaendra mengaku, apa yang dilakukan oleh aparatnya sudah sesuai dengan Prosedur Tetap (Protap), misalnya dengan penggunaan peluru karet dan ditembakan ke aspal terlebih dahulu.

Karena sesuai dengan prosedur tidak bisa menembak lurus ke massa pendemo. "Aparat saya di lapangan bertindak sesuai dengan prosedur" jelas Kapolres.

Kapolres juga menjelaskan, para pendemo telah melakukan tindakan anarkis dengan melakukan pembakaran serta pelemparan ke petugas, hingga pihak kepolisian harus melakukan tindakan represif, guna mencegah tindakan anarkisme tidak meluas dan menyebapkan kerusakan fasilitas umum. "kami harus melakukan tindakan tersebut, agar aksi tidak meluas" kata Kapolres.

Sementara, sampai saat ini pihak kepolisian sendiri sudah meminta keterangan dari 11 orang peserta unjuk rasa, yang terlibat langsung saat kejadian sedang berlangsung, untuk mengetahui para pelaku dari yang berada di balik kejadian tersebut.(jpnn)

 

Sumber :www.jawapos.co.id