Lahir di Sawah Besar, Jakarta Pusat, pada 1894, MH Thamrin sebenarnya hidup dalam kemakmuran. Kakeknya warga negara Inggris menikah dengan seorang perempuan asli Betawi. Hidup dalam lingkungan birokrat pribumi, tidak lantas membuat MH Thamrin lupa tanah kelahirannya.

Sepak terjang Thamrin mulai terukir saat terpilih menjadi anggota Volksraad atau Dewan Rakyat yang mewakili kalangan pribumi. Urusan banjir di Betawi menjadi perhatian Thamrin muda. Belum lagi soal perbaikan kampung, pemberantasan malaria, sampai soal harga gula.

Tidak seperti politisi zaman sekarang yang cuma jago ngomong, Thamrin tak pernah sekadar retorika semata. Sukses sebagai pengusaha ulung, tak membuat MH Thamrin lupa daratan. Gedung Kenari dibelinya untuk kegiatan pergerakan kemerdekaan.

Bahkan saat warga Betawi ditolak bermain bola di kawasan Menteng, Thamrin membeli lapangan Vij di Petojo demi kemajuan sepak bola putra-putra Betawi. Thamrin sempat menikmati hotel prodeo akibat pergerakannya. Kini 69 tahun sudah Mohammad Husni Thamrin meninggalkan kita semua.(JUM/AYB)

Sumber :www.berita.liputan6.com