Penandatanganan naskah kesepahaman disaksikan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, dr Rachmat Latief, Dirut Perusda Sulsel Haris Hody, Asisten Bidang Ekonomi Pembangunan Bantaeng M Yasin, Kepala Bappeda Bantaeng Zainuddin Tahir, Kadiskes Bantaeng dr Hj Takudaeng, Direktur RSUD Prof Anwar Makkatutu dr H M Syafruddin Nurdin, M.Kes dan sejumlah pejabat lingkup Pemprov Sulsel dan Bantaeng.
    
Kadiskes Sulsel Rachmat Latief mengatakan, kesepakatan diraih setelah melalui studi kerja ke PT Otsuka Indonesia di Lawang Jatim, membuat feasibility study untuk menentukan jenis industri farmasi yang sesuai, membuat rencana anggaran, membentuk tim kerja hingga tahap pelaksanaan.
    
Ia juga mengatakan, pembangunan industri farmasi cairan infus di Sulsel merupakan rencana strategis Gubernur Sulsel di bidang kesehatan. Kehadiran industri ini diharapkan membawa dampak terhadap perekonomian daerah, khususnya peningkatan pendapatan daerah melalui sektor perpajakan.
    
Selain itu, industri akan membuka peluang bagi tenaga kerja dan mengurangi angka kemiskinan,  sekaligus memenuhi kebutuhan obat di Indonesia yang mempunyai pangsa pasar 2,5 miliar dollar AS, terutama di kawasan timur Indonesia dan secara khusus di Sulsel.
    
Menurut Kadiskes Sulsel, pemberlakuan harmonisasi sistem peredaran obat dan standar pembuatan obat yang baik di kawasan ASEAN sejak 2008, akan membuka peluang besar, tak hanya pada pasar domestik tapi juga pasar global ASEAN, sekaligus menunjang program pelayanan kesehatan gratis yan ditetapkan Pemprov Sulsel, khususnya dalam pengadaan serta penyediaan obat yang aman, bermutu, merata serta mudah diperoleh masyarakat dengan harga terjangkau.
    
Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mengatakan, pembangunan industri cairan infus yang akan menelan investasi Rp 21 miliar ini merupakan bagian dari mimpi untuk menjadikan Sulsel sebagai provinsi yang unggul dan diperhitungkan.
    
Menurut Gubernur, masalah kesehatan dan pendidikan mendapat perhatian serius karena hanya dengan pendidikan, kita bisa maju, namun tanpa kesehatan juga tak ada artinya yang kita lakukan.
    
Salah satu kebutuhan tersebut Sulsel membutuhkan cairan infus 5.250.000 botol/tahun atau sekitar 10 juta botol/tahun di kawasan timur Indonesia.      Cairan infus ini, lanjut Gubernur dibutuhkan semua pihak. Karena itu, kita ingin bila kita sakit tersedia fasilitas kesehatan dan obatnya.
    
"Saya merindukan, kelak suatu saat Sulsel memiliki rumah sakit yang luar biasa, ada fasilitas umum seperti karebosi di tengah laut, ada istana di luar Jawa yang ada di Makassar serta kereta api  dari Parepare," urainya.
    
Itulah sebabnya, Pemprov juga sudah membangun industri kaporit di Jeneponto yang sebelumnya kita datangkan dari Surabaya, bahkan impor. "Bodohnya kita selama ini karena hal itu sebenarnya bisa kita bangun lalu kita impor. Kalau orang lain bisa, kenapa kita tidak," ucapnya.
    
Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah melaporkan perkembangan pembangunan di wilayah kerjanya yang sudah berhasil melakukan ekspor produk perikanan melalui PT Global Seafood International Indonesia (GSII), ekspor biji kapuk dan akan disusul ekspor talas.
    
Bupati menyambut baik kesepakatan pembangunan industri farmasi di wilayahnya. Ini sangat sesuai sebab air yang akan diolah menjadi cairan infus di Kecamatan Ere Merasa memiliki NTU 0,0 persen. Melalui pemanfaatan potensi air ini diharapkan akan lebih berdaya saing tinggi, ujar Bupati.

Sumber :Kompas