Penandatanganan perjanjian dilakukan di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu petang, disaksikan kepala negara masing-masing negara. "Hal ini akan meningkatkan 'people to people contact' (hubungan antarindividu) dan tentunya baik untuk hubungan kedua negara," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden Yudhoyono dan Presiden Konfederasi Swiss Doris Leuthard menyaksikan penandatanganan perjanjian itu setelah melakukan pertemuan dwipihak membahas peningkatan kerja sama kedua negara. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan, kesepakatan bebas visa tersebut akan sangat membantu hubungan kedua negara. "Ini tentu akan sangat membantu karena kita mengantisipasi kedepannya akan ada banyak peningkatan interaksi antar kedua negara untuk meningkatkan kerjasama perdagangan, investasi," katanya. Menurut Menlu, secara kualitatif kesepakatan itu akan membuka peluang-peluang yang baru. Presiden Leuthard melakukan kunjungan kerja ke Indonesia, Jakarta dan Surabaya selama empat hari 6-9 Juli 2010. Melalui pembentukan Joint Economic and Trade Commission (JETC) pada 26 November 2009, Indonesia telah ditetapkan sebagai negara prioritas yang menjadi mitra strategis Swiss dalam pengembangan kerjasama ekonomi dan pembangunan. Investasi Swiss di Indonesia tergolong besar, menempati urutan ke-15 pada periode 1990-2009, dengan total investasi sebesar 740,7 juta dolar AS yang mencakup 120 proyek, termasuk 36 proyek baru pada periode Januari 2005/September 2000 dengan nilai USD 313 juta. Investasi Swiss di Indonesia antara lain di bidang industri makanan, industri kimia, farmasi, pengiriman, perkebunan, perhotelan, pengolahan air minum dan engineering. Khusus di bidang infrastruktur, Pemerintah Swiss juga ikut dalam pembangunan pembangkit tenaga listrik bersama Asian Development Bank. Volume perdagangan kedua negara tahun 2007-2008 mengalami peningkatan sebesar 47,09% dan mencapai 983,9 juta dolar AS. (Ant)Sumber :Harian Analisa