SEMARANG– Puluhan seniman kuda lumping (jaran kepang atau jathilan) dari Komunitas Anak Merapi Magelang menggelar aksi protes di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Jalan Pahlawan, Semarang, kemarin. Selain orasi,para seniman itu juga menggelar pertunjukan kuda lumping, lengkap dengan kostum serta instrumen musiknya. Para seniman itu menuntut Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo meminta maaf atas pernyataannya yang mengatakan kuda lumping sebagai kesenian paling jelek sedunia.

Aksi sekitar 50 seniman itu mendapat perhatian dari para pengguna jalan yang melintas. Koordinator aksi Andang Prasetyo mengatakan, aksi para seniman itu untuk menunjukkan kuda lumping masih mendapat tempat hati di masyarakat. Selain itu, aksi ini juga untuk menunjukkan bahwa kuda lumping bukan kesenian terjelek sedunia. ”Ucapan itu tentu melukai pencinta dan pelaku jathilan. Terutama di tengah kesuntukan masyarakat mencari kesejahteraan. Kami menghibur diri dengan jogetan,hanya itu yang kami bisa,”ujarnya kemarin.

Andang menuturkan, kuda lumping sudah dilestarikan secara turun-temurun,keberadaannya juga terus berkembang. Dalam kesenian tersebut juga terdapat unsur edukasi, baik melalui tembang, tarian, ataupun komposisi cerita. ”Tembang Macapat yang dinyanyikan untuk mengiringi kesenian ini sering berisi pesan dan ajakan pada masyarakat agar kehidupannya lebih baik serta seimbang antara dunia dan akhirat,” kata anggota Komunitas Anak Merapi ini

Di Magelang, kata Andang, saat ini ada ribuan grup kuda lumping yang tersebar di pelosok pedesaan.Kesenian itu seharusnya dilestarikan, bukan dicemooh. ”Nanti, kalau sampai bangsa lain mengakungaku kesenian ini, pasti baru ribut,”ujarnya.

Kepala Biro Humas Sekretariat Daerah Pemprov Jateng Agus Utomo menegaskan, yang dianggap jelek gubernur adalah penampilan grup kesenian yang tampil dalam pembukaan The 14th Merapi and Borobudur Senior’s Amateur Golf Tournament Competing The Hamengku Buwono X Cup di Magelang, Minggu (9/9) malam.

Selain penampilan yang kurang bagus,alat-alat yang digunakan juga diikat tali plastik rafia.”Gubernur tidak menunjuk kesenian jaran kepang secara keseluruhan, tapi kelompok yang tampil pada acara itu,”katanya. Gubernur,menurutnya,berharap saat event golf tersebut tampilan kesenian disajikan dengan kemasan yang sangat baik karena acara tersebut bertaraf internasional. ”Apalagi dalam acara tersebut Gubernur memberikan sosialisasi Visit Jateng 2013,”katanya

Pakar sosiologi komunikasi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Triyono Lukmantoro menyatakan, Bibit Waluyo sebagai pejabat publik harus meminta maaf kepada para seniman kuda lumping. ”Saya kira ucapan itu tidak pantas disampaikan.Pak Bibit perlu mengklarifikasi konteksnya,” katanya.

Menurut Triyono, kalaupun mau mengkritik penampilan para seniman kuda lumping,Bibit tidak perlu menyampaikannya secara terbuka dan di depan publik. ”Kritik itu bisa disampaikan secara tertutup.Kalau terbuka, bisa melukai masyarakat pekerja seni kuda lumping sebab di Magelang itu kesenian kuda lumping menjamur di setiap kampung,” ungkap pria asli Magelang ini. ‚óŹ amin fauzi

 Ket.Gambar:Ilustrasi

Tags :Berita Daerah