Jakarta - Menteri Luar Negeri RI Retno L.P. Marsudi, dalam pidato pembukaan Forum Kerjasama Selatan-Selatan 2015, mengatakan Pemerintah Indonesia akan meningkatkan perannya dalam kerja sama Selatan-Selatan dan Triangular.

"Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2015-2019 menekankan perlunya Indonesia meningkatkan perannya dalam kerja sama Selatan-Selatan dan Triangular (tiga pihak)," kata Menlu Retno di Gedung Nusantara Kementerian Luar Negeri RI di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, terkait upaya peningkatan peran itu, Pemerintah Indonesia akan memperkuat Tim Koordinasi Nasional untuk kerja sama Selatan-Selatan dan Triangular serta membuat kebijakan satu pintu (one gate policy).

"Kita akan membentuk satu badan khusus Indonesia untuk berperan dalam kerja sama Selatan-selatan dan triangular dengan visi kemitraan yang lebih baik untuk kesejahteraan," ujar dia.

Selanjutnya, Indonesia terus meningkatkan peran dalam kerja sama Selatan-Selatan melalui program pembangunan kapasitas.

Program-program pembangunan kapasitas dalam kerangka kerja sama tersebut, menurut Retno, haruslah sejalan dengan prioritas pembangunan nasional dari masing-masing negara.

"Dalam melakukan pembangunan kapasitas, kepemilikan dan kepemimpinan nasional akan tetap dijamin," kata dia.

Dia juga menyebutkan bahwa dari 1999 hingga 2015 Indonesia telah memiliki sekitar 32 mitra pembangunan dalam skema Kerja Sama Triangular (tiga pihak) dan mengadakan sekitar 400 program pelatihan dengan 4.400 peserta dari negara-negara berkembang di kawasan Asia, Pasifik, Afrika, dan Amerika Latin.

Program pembangunan kapasitas yang diberikan Pemerintah Indonesia selama ini berfokus pada bidang UKM, kesehatan, perikanan, pertanian, manajemen risiko bencana, dan pelatihan untuk penegakan hukum.

Menlu Retno menekankan pentingnya kerja sama Selatan-Selatan sebagai suatu kerja sama internasional yang berkontribusi aktif bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan global.

Dia mengungkapkan, selama 10 tahun terakhir, nilai perdagangan di antara negara-negara yang terlibat dalam kerja sama Selatan-Selatan jauh lebih besar daripada nilai perdagangan kerja sama Utara-Selatan.

"Demikian juga dengan nilai investasi asing langsung dari kerja sama Selatan-Selatan yang lebih besar dari kerja sama Utara-Selatan. Kinerja yang sangat baik ditunjukkan oleh banyak negara berkembang," ungkap dia.

Retno menyebutkan bahwa produk domestik bruto (PDB) pada kemitraan swasta dan publik di antara negara-negara maju di Asia-Pasifik hanya mencapai 5,6 juta dolar AS, sedangkan angka di antara negara-negara berkembang mencapai 38 juta dolar AS.

Selain itu, kata dia, pada 2014 Sekretaris Jenderal PBB mengindikasikan bahwa nilai kerja sama Selatan-Selatan diperkirakan antara 16,1 juta hingga 19 miliar dolar AS.

Sumber :antara