Foto: Istimewa

BELU- Usai menghadiri acara peringatan Hari Sumpah ke-89 di di Kabupaten Belu, Sabtu, 28 Oktober 2017, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo langsung dikerubuti para wartawan. Banyak hal yang ditanyakan, khususnya mengenai progres pembangunan di wilayah perbatasan. Terutama di wilayah tapal batas negara yang ada di NTT.

Salah satu yang ditanyakan adalah soal sinyal telekomunikasi yang sering roaming. " Sinyal kita ini belum daulat masih sering kena roaming Pak?" Tanya seorang wartawan.

Menjawab pertanyaan itu, Tjahjo mengatakan, masalah roaming  sudah di inventarisasi. Bahkan selama diperjalanan dengan Bupati, hal itu juga dibahas. Diakui Tjahjo masih ada persoalan yang harus dibenahi. Salah satunya, masalah yang mendesak di tapal batas NTT,  adalah persoalan air. Kata dia, air sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

"Yang kedua membangun kerajinan daerah. Jadi pewarnaan alami bagaimana cara mendidik kepada warga. Kemudian bagaimana mengembangkan peternakan, mengembangkan ubi yang bisa dijual ke Jepang katanya, kemudian kincir air juga akan difungsikan dengan baik," tuturnya. 

Termasuk kata Tjahjo,masih ada sekian ratus rumah yang tidak layak huni eks masyarakat Timor Timur. Saat ini, permasalahan tersebut sudah mulai dijawab oleh Kementerian PU dan Perumahan Ekstra. Sudah  dibangun bertahap.

"Saya kira ini juga target karena ini apapun ini sabuk perbatasan mulai Malaka masuk Belu sampe ke Alor juga ini saya kira satu bagian yang paling tidak dua tahun harus bisa," katanya. "Targetnya 2 tahun?" Tiba-tiba seorang wartawan menyela dengan pertanyaan m

"Sudah selesai. Tapi kalau yang masalah-masalah roaming saya kira sudah bagus. Kadang muncul kadang enggak tapi saya sudah sms saya pasti hadir. Alor juga sudah kok," kata dia.

Yang penting, ujar Tjahjo, adalah penambahan BTS. Karena memang  masih kurang. Kalau untuk Alor, BTS sudah ada. Tjahjo berharap mudah-mudahan hal itu, segera bisa dibereskan.  Tjahjo pun kemudian bercerita, bahwa beberapa waktu yang lewat ia sempat ke Natuna, lalu  terakhir Kepulauan Rondo. Di sana ia dapat masukan dari TNI.

"Sama ngeluhnya kami siap tapi untuk nelpon ke keluarga saja berat harus roaming Singapura harus roaming Malaysia.  Sekarang udah enggak.  Saya yakin ini enggak akan lama. Awal sudah akan beres kok," kata dia.

Tiba-tiba, kembali seorang wartawan, bertanya, tentang dugaan adanya kasus penyeludupan spare part di tapal batas. Mendengar pertanyaan itu, Tjahjo sigap menjawab. Ia mengaku telah berbicara dengan  Kapolda NTT. Juga membicarakan itu dengan  Gubernur NTT. Prinsipnya laporan dari BLBN sudah dibahas dan akan ditindaklanjuti.

"Ini tanggungjawab semualah. Tidak hanya disini ya, di Kepri juga ada 3300 jalur tikus sampe di jalur tikus senjata yang di Sangihe Talaud,  belum di Nunukan, masih adalah,  pelan-pelan. Di Skouw, Papua narkoba juga sudah ditangani. Pelan-pelan lah ini ditangani,"

Intinya kata dia, itu adalah masalah hukum. Jadi tanggungjawab aparat hukum. Proses hukum yang berlaku. Pemerintah sendiri akan memperkuat aparat hukum di tapal batas. Hanya saja, untuk mengevaluasi pejabat, apakah ada oknum yang bermain, itu harus dilakukan hati-hati. Tak asal tuduh. Karena harus cukup bukti. Tapi kalau ada bukti kuat, pasti ditindak tegas.

Harus dicek dulu. Enggak bisa menuduh oknum-oknum harus dicek dulu. Kan bisa juga. Kalau masalah penyeludupan itu klasik. Bayangkan orang asing aja bisa nyeludup ke Poso bisa lolos. Enggak usah jauh-jauh, mulai rokok sampai orang asing itu bisa nyeludup ke wilayah kita, " tuturnya.

"Tapi hal ini termasuk baru Pak di Belu?" Kembali seorang wartawan menyela dengan pertanyaan. "Saya denger itu kemarin. Kan enggak bisa,  kita pakai asas praduga tidak bersalah. Nanti kita cek dulu pelan-pelan tapi tetap akan jadi sorotan sudah. Sudah tahu," tegas Tjahjo.

Sumber :Puspen Kemendagri
Tags :Permasalahan di Tapal Batas Akan Dibereskan Secepatnya