Humas Kemendagri

PAPUA - Pada 10 April 2018, di Jayapura, Soedarmo, Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri dilantik Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo sebagai Penjabat Gubernur Provinsi Papua. Soedarmo sendiri pernah menjadi Penjabat di Daerah Istimewa Aceh. Menarik memang mencermati wilayah tugas mantan petinggi Badan Intelijen Negara (BIN) tersebut.

Aceh dan Papua, adalah dua daerah yang menyandang status otonomi khusus. Aceh dan Papua juga tergolong dua provinsi rawan konflik. Mungkin atas pertimbangan itulah, maka Menteri Tjahjo menempatkan Mayor Jenderal (Purn) Soedarmo di dua  daerah ' panas' tersebut. Sosok Soedarmo juga menarik dicermati. Ia bisa dikatakan, Penjabat Gubernur dari Sabang sampai Merauke. Sabang tak lain adalah ujung provinsi Aceh. Sementara Merauke adalah ujung Papua. 

Saya punya kenangan khusus tentangnya. Awal kenal, saya pikir dia orangnya kaku serta misterius, karena latar belakang intelijennya. Ternyata, dia tak seperti mendiang Jenderal Benny Moerdani, yang kerap disebut sebagai raja Intel Indonesia. Ia tak kaku dan dingin. Juga tak misterius. Tapi hangat. Bahkan pertama kali bertemu langsung bisa ngobrol akrab ngalor ngidul. Ketika itu, Soedarmo baru saja diangkat menjadi Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum. 

Di bulan puasa ini, saya mendapat kesempatan datang ke Papua. Saat di Jayapura, saya iseng mengubungi Pak Darmo, demikian panggilan akrabnya. Yang mengagetkan, ia langsung merespon. Bahkan menelpon langsung. Katanya, ia sedang di Jakarta, tapi akan balik lagi ke Papua. Ia pun mengajak untuk bertemu. 

Ketika saya datang ke Jayapura, bertepatan dengan digelarnya debat calon gubernur yang digelar di sebuah hotel tak jauh dari hotel tempat saya menginap. Pak Darmo sempat memberitahu saya, bahwa dirinya sudah ada di Papua, dan meminta saya agar datang ke acara debat. Ternyata, tak gampang masuk ke acara debat. Yang mau masuk, harus punya ID khusus. Sementara saya tak kantongi itu. Alhasil, saya pun gagal masuk ke arena debat. 

Karena tak bisa masuk, saya pun mengirim pesan pada Pak Darmo, bahwa saya tak bisa masuk ke acara debat. Dan saya juga memberi tahu, kembali ke hotel tempat saya menginap. Tak disangka ia menjawab, katanya akan menjemput saya ke hotel. Tentu bagi saya ini kejutan dan kehormatan. Seorang Penjabat Gubernur mau susah payah menjemput wartawan ke hotel. 

Sekitar pukul sembilan malam lewat waktu Jayapura, benar saja Pak Darmo menjemput saya. Saya benar-benar kaget. Saat bertemu ia langsung mengajak saya ke Gedung Negara, rumah dinas Gubernur Papua. " Ayo ke Gedung Negara, biar tahu kayak apa disana," katanya. 

Dengan diantar mobil, saya pun menuju Gedung Negara. Ketika tiba di sana, saya dibuat tercengang. Gedung Negara, benar -benar rumah dinas yang mewah. Luas. Di dalamnya ada fasilitas kolam renang dan juga air mancur. Gedung Negara sendiri terletak di ketinggian, sehingga mata bisa memandang kota Jayapura. Sangat indah memandang kerlip lampu kota. 

Di Gedung Negara, Pak Darmo menjamu saya makan. Tiba-tiba istrinya, ikut bergabung. Bu Darmo juga orangnya ramah. Langsung ikut ngobrol ngalor ngidul. Bahkan Bu Darmo banyak berkisah, menceritakan pengalamannya mendampingi sang suami ke pelosok Papua. Salah satu yang diceritakan pengalamannya mendampingi Pak Darmo menghadapi para pendemo yang membawa panah dan senjata tajam. 

" Pertama diajak bapak menemui pendemo saya terus terang takut. Lha yang demo itu ribuan orang bawa panah dan senjata. Itu bapaknya santai saja. Yang kedua kali saya nunggu saja di mobil. Ya takut juga saya," kata Bu Darmo.

Pak Darmo terdengar tertawa. Ia pun kemudian memperlihatkan rekaman video saat dia menghadapi para pendemo yang membawa panah. Dalam rekaman video itu, ribuan orang tampak mengacung-acungkan panah. Tampak Pak Darmo juga dengan tenang berdialog. Kata Pak Darmo, mereka yang berdemo itu sebenarnya hanya ingin didengar. Diajak bicara. Orang Papua itu sebenarnya baik-baik. Mereka hanya ingin diakui saja. Dan ketika ia ajak bicara, tak terjadi apa-apa. Bahkan mereka senang, karena pemimpinnya mau mendengar. Intinya, dekati mereka dengan hati, kata Pak Darmo. 

" Dekati mereka (warga Papua) dengan hati," katanya. 

Bu Darmo kembali ikut nimbrung. Kata dia, kalau boleh memilih, ia lebih senang tugas di Aceh. Tapi karena ini tugas, maka ia pun harus mendampingi sang suami dimana pun ditugaskan. " Saya kalau boleh pilih, ya milih di Aceh, tapi karena ini tugas ya saya wajib dampingi bapak," ujarnya. 

Saya sempat bertanya pada Pak Darmo bagaimana tinggal di rumah dinas yang mewah. Mendengar pertanyaan itu Pak Darmo tertawa. Katanya, ia jarang malah tinggal lama di Gedung Negara yang mewah. Waktunya tersita berkunjung ke daerah di Papua. Bahkan sampai ke pelosok. " Saya ini jarang malah tinggal lama di Gedung Negara. Lebih banyak saya ini datang ke daerah. Ke pelosok. Banyak nemuin para pendemo. Ya bertugas dimana saja, yang penting nikmati. Kalau suka dan duka pasti selalu ada. Yang penting bertugas sebaik mungkin. Itu saja," ujarnya. 

Ditulis oleh Agus Supriyatna, Wartawan Koran Jakarta

Sumber :Puspen Kemendagri
Tags :Kisah Suka Duka Penjabat Gubernur dari Sabang Sampai Merauke