Kabupaten

Kabupaten BENER MERIAH

Profil | Sejarah | Arti Logo | Nilai Budaya

Profil

Nama Resmi: Kabupaten Bener Meriah
Ibukota: Simpang Tiga Redelong
Provinsi : Aceh
Batas Wilayah:

 

Utara     : Kabupaten Aceh Utara Dan Bireuen
Selatan : Kabupaten Aceh Tengah
Barat     : Kabupaten Aceh Timur
Timur    : Kabupaten Aceh Tengah

Luas Wilayah: 1.454,09  Km²
Jumlah Penduduk:

 152.059 Jiwa

Wilayah Administrasi:

 Kecamatan : 10, Kelurahan : -, Desa : 232

Website

:

 

 

 http://www.benermeriahkab.go.id/

 

                                                                           (Permendagri No.39 Tahun 2015)         

Sejarah

Bener Meriah yang beribukota Redelong, memiliki luas wilayah 1.454,09 km, dengan tofografi daerah yang berbukit-bukit. Daerah ini terletak di wilayah pedalaman Aceh, tepatnya di dataran tinggi Gayo. Kawasan ini bertemperatur antara 26 derajat Celsius dan 32,5 derajat Celsius.

Dengan curah hujan 1.000-2.500 mm, berkisar setiap tahunnya 143 s/d 178 hari, yakni terjadi sekitar September s/d Februari sementara musim kemarau terjadi pada Maret hingga Agustus.

Daerah yang dihuni penduduk sekitar 112.093 jiwa ini, memiliki kelembaban udara maksimum 75,8% sedangkan minimumnya 30%. Keanekaragaman budaya karena banyaknya suku bangsa yang secara bersama hidup di wilayah ini, menambah khazanah tersendiri.

Bener Meriah, didominasi oleh suku Gayo, sehingga di daerah ini masih tetap tegak budaya leluhur yakni adat Gayo, yang keberadaannya masih bertahan di daerah pemekaran Aceh Tengah ini.

Sebagai daerah seribu bukit, Bener Meriah acap dikunjungi wisatawan mancanegara. Karena di antara bukit- bukit yang menjulang tinggi, terdapat gunung api Burni Telong, yang memperkaya daerah ini dengan sumber air panas. Konon, air panas yang berada di kaki bukit Burni Telong ini dapat menyembuhkan penyakit kulit. Hal itu pula yang mengundang banyak masyarakat di luar daerah berkunjung sekalian berobat kulit.

Gunung api yang diprediksi masih aktif itu, letaknya tak jauh dari pusat Kota Redelong SP, hanya berjarak sekitar 2,5 km. Dari berbagai literatur yang didapat menyebutkan, Gunung Burni Telong pernah meletus pada beberapa puluh tahun yang silam. Masyarakat setempat khawatir dengan seringnya terjadi gempa bumi. Soalnya, gempa tersebut memicu pergesekan dalam perut bumi hingga retak sehingga menimbulkan letusan.

Namun kenyataan tersebut tidak terjadi. Gempa bumi dan gelombang dahsyat tsunami yang menerpa Aceh akhir Desember 2004, dilewatinya begitu saja, tak ada tanda-tanda terlihat bahwa gunung api itu akan meletus.

Kekayaan potensi alam Bener Meriah, membangkitkan pesona tersendiri bagi pengunjungnya. Hawa dingin yang terasa menusuk tulang, akan dirasakan bagi para pengunjung yang berlibur ke daerah ini. Belum lagi hempasan angin kala sore hari menjelang senja. Semua proses alam yang ada di wilayah ini, merupakan ciri khas tersendiri bagi daerah Bener Meriah.

Saksi Sejarah 

Kilas balik dari sejarah kemerdekaan RI yang pada saat itu di ambang pintu keruntuhan. Pada saat penyerbuan agresi meliter Belanda ke dua, dari daerah inilah tepatnya wilayah rimba raya, melalui sebuah transmisi radio dipancarkan keseluruh pelosok dunia bahwa Indonesia masih ada, Indonesia masih merdeka. Kini Tugu Radio Rimba Raya, yang merupakan monumen nasional telah berdiri megah di daerah ini. Akan tetapi sayang tugu ini kurang terawat, bahkan bila kita berkunjung ke daerah ini, rasanya batin menjerit. Inikah suatu cara anak bangsa ini menghargai rute perjalanan sejarah bangsanya?

Terlepas dari hal tersebut, di gerbang pintu Bener Meriah tepatnya di Kampung Blang Rakal telah berdiri satu pondok pesantren modern sebagai pertanda bahwa daerah ini kuat akan agamanya. Banyak potensi daerah yang dijadikan objek wisata yang sifatnya masih alami, bahkan ada di antaranya belum disentuh oleh manusia.

Daerah penghasil kopi terbesar di Asia dan kedua di dunia ini, kini sedang bangkit dari keterpurukannya akibat diterpa konflik Aceh beberapa tahun yang silam. Kembalinya suasana damai, aman di negeri asal Gajah Putih (Sejarah Legenda Gayo – Red) telah membangkitkan semangat warga untuk membenahi diri, terutama memperbaiki kebun kopi mereka yang telah terlantar, serta sedang disibukkan dengan rehabilitasi maupun rekonstruksi sarana perumahan yang dulunya terbakar maupun dibakar.

Kembali ke potensi daerah. Selain kopi, di daerah inipun biasanya dibanjiri pula buah- buahan seperti durian, jeruk, avokad dan jenis buah lainnya. Khusus durian, di sepanjang pinggir jalan raya, tepatnya di Kampung Timang Gajah, Kecamatan Timang Gajah, Bener Meriah, berjejer pondok-pondok kecil sebagai tempat untuk menikmati buah berduri itu. Musim panen durian di daerah ini diperkirakan Februari sampai dengan April mendatang. Dengan harapan masyarakat yang berlalu lalang di jalan tersebut dapat membeli durian yang masih segar dan baru jatuh dari pokoknya itu. Tidak sedikit petani tersebut meraih untung besar dari hasil panen mereka.

Selain menikmati buah durian, kita juga dapat menikmati hangatnya air panas di tempat pemandian Air Panas Simpang Balik. Di situ telah disediakan santapan jagung bakar pada sore harinya, sehingga usai mandi biasanya terasa lapar dan jagung inilah yang menjadi sasaran santapan pengganjal perut.

Potensi alam Bener Meriah hingga saat ini belum maksimal dimanfaatkan, terutama untuk tempat objek wisata. Karenanya sambil jalan-jalan, kami mengajak para investor dapat berkunjung dan melihat secara langsung keadaan wilayah ini. Masih banyak objek wisata yang bila dikelola akan mendatangkan rezeki.

Monumen RRR di Desa Rimba Raya, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Aceh Tengah, itu kini semakin kesepian di tengah rimba. Selain ditumbuhi ilalang dan bangunannya retak-retak, fasilitas penunjang seperti taman dan kolam kini sudah tidak ada bekasnya lagi.

Lubang menganga dan retak-retak kini terlihat di bangunan dasar yang mengitari tugu antena. Warga di sekitar monumen mengatakan, sejak tahun 1997 monumen itu tidak pernah dipelihara. “Kami sebenarnya baru saja kerja bakti membersihkan rumput. Sebelum dibersihkan, monumen ini sudah tidak kelihatan,” kata Usman, warga setempat.

RRR merupakan siaran radio yang berhasil menyelamatkan Indonesia saat-saat berada di ambang kritis, ketika ibu kota Indonesia di Yogyakarta berhasil direbut Belanda, 19 Desember 1948. Saat itu, RRI yang biasa menyiarkan kemerdekaan Indonesia juga berhasil dikuasai Belanda.

Radio Belanda Hilversum saat itu menyiarkan berita Indonesia sudah hancur. Pada saat genting itu (20 Desember), RRR mengudara dari hutan menyatakan Indonesia masih ada.

Untuk mengumandangkan siaran RRR, tentara Indonesia dari Divisi Gajah X harus berjuang mati-matian dan bergerilya. Monumen yang terlihat sekarang dibangun tahun 1990, diresmikan Bustanil Arifin yang saat itu menjabat Menteri Koperasi.

Rahmat, warga Rimba Raya, mengatakan dirinya pernah mengajukan diri ke Pemkab Aceh Tengah untuk memelihara monumen. “Saya sudah mengajukan permohonan, semacam surat lamaran untuk bisa menjadi penjaga monumen ini, tetapi ditolak,” katanya.

Selain monumen yang terbengkalai, sebuah truk tua yang pernah digunakan untuk mengangkut peralatan RRR, kini menjadi besi tua. Truk itu kini berada di rumah salah satu warga Bireuen.

Warga sekitar maupun warga Aceh Tengah tidak habis pikir mengapa pemerintah menelantarkan bukti sejarah penting tersebut. Jejak sejarah partisipasi Aceh dalam kemerdekaan Indonesia itu kini berangsur pudar.

Selama konflik, promosi wisata di sanan terkendala. Namun, bagaimanapun kondisinya, Aceh Tengah tak akan melewatkan event: pacuan kuda tradisional.

Saat event-event wisata terhenti di NAD, pacuan kuda tetap digelar pada setiap perayaan Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus. Bahkan, pacuan kuda tetap meriah seolah tak terpengaruh situasi darurat militer. Dan inilah yang makin mengukuhkan Aceh Tengah ” berbeda” dengan Aceh lainnya.

Sejarah Perjuangan Dari Bener Meriah

Berkekuatan satu kilowatt, menggunakan signal calling ”Suara Radio Republik Indonesia” dan ”Suara Merdeka”, bekerja pada frequensi 19,25 dan 61 meter, Radio Rimba Raya mengudara menyiarkan berita kemerdekaan Negara Republik Indonesia ke berbagai negara.

 
”Republik Indonesia masih ada, karena pemimpin republik masih ada, tentera republik masih ada, pemerintah republik masih ada, wilayah republik masih ada dan di sini adalah Aceh”.Itulah berita singkat dan padat yang mengudara dari Radio Rimba Raya di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dalam menyampaikan berita kemerdekaan RI pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.


Radio Rimba Raya yang monumennya diresmikan oleh Menteri Koperasi/Kepala Bulog, Bustanil Arifin pada 27 Oktober 1987 pukul 10.30 WIB itu, terletak di desa Rimba Raya, Kecamatan Timang Gajah,Bener Meriah. ”Siaran Radio Rimba Raya berperan penting dalam mengantisipasi propaganda Belanda tentang kemerdekaan Republik Indonesia pada masa itu,” kata Kol. (Pur) AR Latif, yang mengaku mengetahui banyak tentang peran radio perjuangan tersebut.


Menurut AR Latif yang kini menjabat sebagai Ketua Persatuan Purnawirawan ABRI (PEPABRI) Provinsi NAD itu, Radio Rimba Raya berjasa sangat besar dalam menyebarkan berita tentang kemerdekaan RI.Sejak Agresi Belanda ke-dua, 19 Desember 1948, peranan radio sebagai penyampai berita di tanah air sudah dilakukan oleh Radio Rimba Raya yang beroperasi di tengah hutan raya Aceh Tengah.
Keterangan beberapa tokoh yang be

rjasa mendirikan Radio Rimba Raya yang kemudian dihimpun dalam buku berjudul ”Peranan Radio Rimba Raya” terbitan Kanwil Depdikbud Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), menyebutkan ,begitu besarnya kiprah radio perjuangan tersebut.Dijelaskan, siaran Radio Rimba Raya saat menyampaikan berita tentang Kemerdekaan Republik Indonesia itu dapat ditangkap jelas oleh sejumlah radio di Semananjung Melayu (Malaysia), Singapura, Saigon (Vietnam), Manila (Filipina) bahkan Australia dan Eropa.


Radio Rimba Raya sangat berjasa dalam menyampaikan informasi kemerdekaan RI, sehingga negara-negara luar mengetahui bahwa Republik Indonesia masih ada,” kata AR. Latif, yang juga salah seorang pelaku sejarah yang masih hidup saat ini.AR.Latif yang juga terlibat langsung mengumpulkan data-data tentang kiprah Radio Rimba Raya dari berbagai sumber, seperti dari Kodam-I Bukit Barisan, yang mengisahkan bahwa siaran radio itu mempertinggi semangat pejuang mempertahankan Kemerdekaan RI.


Pada awalnya, selain mengudara untuk kepentingan umum, para awak radio ini juga melakukan monitor, mengirim berbagai pengumuman dan instruksi penting bagi kegiatan angkatan bersenjata.Siaran Radio Rimba Raya di tengah hutan belantara Aceh Tengah itu, menampilkan lima bahasa, yakni bahasa Inggris, Belanda, Cina, Urdu dan Arab.
Dalam tempo enam bulan mengudara, radio ini telah mampu membentuk opini dunia serta ”membakar” semangat perjuangan di tanah air, bahkan keberadaan negara Kesatuan Republik Indonesia melalui Proklamasi 17 Agustus 1945 diakui oleh beberapa negara manapun di dunia. Selain berita kemerdekaan Republik Indonesia yang diinformasikan, Radio Rimba Raya juga menyiarkan berita tentang kenduri akbar di Aceh.


Waktu itu Radio Rimba Raya setiap hari juga melakukan kontak dengan perwakilan RI di New Delhi. Berita-berita itu selain diterima langsung oleh petugas sandi perwakilan RI di New Delhi, juga dikutip oleh All India Radio dan seterusnya disampaikan ke alamat yang dituju. Ketika Konferensi Asia tentang Indonesia digelar tanggal 20-23 Januari 1949 di New Delhi, jam kerja Radio Rimba Raya diperpanjang mengingat banyaknya berita yang harus dikirim ke wakil-wakil Indonesia yang menghadiri konferensi tersebut.


Sebagai pemancar gerilya, Radio Rimba Raya juga menyajikan acara pilihan pendengar dengan menghidangkan nyanyian-nyanyian rakyat yang dapat membakar semangat pejuang, bahkan merupakan satu-satunya sarana diplomasi politik Indonesia. Radio ini terus berperan sampai saat pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Pemerintahan Belanda pada 27 Desember 1949 di Jakarta sebagai hasil Konfrensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag.


Sebelum ditempatkan di hutan Raya Bener Meriah, Radio Rimba Raya sempat berpindah-pindah untuk memperoleh posisi yang tepat dalam menyiarkan berita-berita dan pesan-pesan perjuangan. Di Koetaradja (Banda Aceh), radio pemancar itu dipasang di desa ”Cot Gue”, delapan kilometer arah selatan ibukota tersebut. Penyiarannya dilakukan dalam sebuah gedung peninggalan Belanda di Kawasan Peunayung (sekarang pusat kota). Pemancar di desa ”Cot Gue” dan Studio Peunayung, dihubungkan dengan kabel dan selain juga disiapkan studio cadangan lain untuk mengantisipasi bila sewaktu-waktu Koetaradja direbut musuh.


Pemancar radio pada saat itu tidak sempat mengudara, karena terjadi agresi militer Belanda ke-dua pada 19 Desember 1948. Dalam keadaan yang genting itu, 20 Desember 1948 pemancar diberangkatkan ke Aceh Tengah dengan pengawalan ketat dan dirahasiakan. Daerah yang dituju, ialah desa Burni Bius, Aceh Tengah dengan pertimbangan lokasi itu dinilai strategis dan secara teknis dapat memancarkan siaran dengan baik.


Rencana pemasangan radio di desa Burni Bius itu ternyata tidak dapat dilakukan, mengingat risiko yang sangat berat karena pesawat-pesawat Belanda terus mengintai rombongan selama dalam perjalanan. Dengan mempertimbangkan risiko yang mungkin terjadi, pemasangan radio akhirnya dialihkan ke Rimba Raya, Kecamatan Timang Gajah, Bener Meriah.


Sebelumnya, untuk mendapatkan radio itu Komando Tentera Republik Indonesia Divisi Gajah-I dari Malaya (Malaysia) bekerjasama dengan raja penyelundup Asia Tenggara, Mayor John Lie pada masa Agresi Belanda-I (21 Juli 1947). Perangkat radio dan kelengkapannya itu diselundupkan dari Malaysia melalui perairan Selat Melaka menuju Sungai ”Yu”, Langsa, Aceh Timur.


Radio Rimba Raya itu juga sempat dimanfaatkan oleh Komandan Tri Divisi X, Kolonel T. Hoesin Joesoef, sebagai pemancar siaran umum sebelum diangkut ke Aceh Tengah. Menurut beberapa tokoh pejuang kemerdekaan lainnya di Aceh, seperti yang diungkapkan, Teuku Ali Basjah Talsya, peranan Radio Rimba Raya sangat besar dalam sejarah mempertahankan kemerdekaan di tanah air.


Hingga tahun 1950, Radio Rimba Raya masih mengundara. Radio Rimba Raya selain menyampaikan berita kemerdekaan, RRI Banda Aceh juga berperan penting dalam berbagai pemberitaan dan menyiarkan radiogram kepada wakil pemerintah di luar negeri.
”Sekarang ini perangkat peninggalan Radio Rimba Raya itu tidak diketahui jejaknya, apakah masih ada atau sudah hilang sama sekali,” katanya. Kalaupun masih ada perangkat radio itu, kemungkinan tersimpan di Museum Jogyakarta. ”Kita akan coba telusuri perangkat radio perjuangan itu,” jelasnya.


Sebagai bukti sejarah di Aceh, hanya tersisa monumen Radio Rimba Raya yang terdapat di ibukota Takengon (Aceh Tengah).


”Itupun tidak dirawat, monumen radio bersejarah itu sudah dikelilingi rumput liar karena tidak terurus,” kata Talsya yang juga salah seorang tokoh Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh (LAKA). ”Rakyat Aceh hanya bisa membuat sejarah, tapi tidak bisa memelihara nilai sejarah,” katanya seraya menambahkan di Aceh sudah saatnya dibangun sebuah museum perjuangan.
Kurangnya perhatian pemerintah memelihara benda-benda peninggalan sejarah, mengakibatkan banyak peninggalan sejarah rusak dan hilang tanpa jejak. ”Pemda harus memperhatikan dan merawat monumen Radio Rimba Raya itu dan menelusuri kembali keberadaan perangkat radio tersebut,” pintanya.


Saat ini momument Radio perjuangan ini, kelihatannya tidak berurus. Nampaknya perhatian pemerintah setempat masih kurang. Padahal seperti kata pepatah, Bangsa yang besar adalah Bangsa yang menghargai jasa pahlawan.

Arti Logo

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bentuk Segi lima

Melambangkan jiwa dan semangat rakyat Bener Meriah berlandaskan kepada Pancasila.

 

Empat warna menglilingi segilima melambangkanSarak Opat yang melambangkan sistem Pemerintahan Adat Tanoh Gayo.

Kuning : Rje (Bupati, Si Musepet Suket

Hijau : Imem (MPU), Si Muperlu Sunet

Merah : Petue (Tokoh/Cendikiawan) Si Musidik Sasat.

Hitam : Rakyat (DPRD) Musara Pakat.

 

Bintang Bersudut Lima dan berwarna Hijau Melambangkan Ketuhanan Yang Maha Esa

 

Bener Meriah

Tulisan yang terdapat dipuncak Tugu Rimba Raya merupakan nama Kabupaten Pemekaran Kabupaten Aceh Tengah

 

Gunung Berapi Bur Ni Telong

Melambangkan keagungan atas karunia Illahi yang memberikan kesuburan alam, ketegaran dan keteguhan hati rakyat untuk membangun

Tugu Radio Rimba Raya

Merupakan monument sejarah perjuangan Bangsa Indonesia dimana melalui Radio Rimba Raya ini disiarkan keseluruh penjuru dunia bahwa Indonesia masih tetap ada.

 

Padi dan Kapas

Melambangkan Keadilan Kemakmuran Dan Kesejahteraan Sosial.

17 buah kopi, 8 tangkai kapas dan 45 butir Padi.

Diartikan Sebagai Lahirnya Bangsa Indonesia Dengan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

4 helai daun kopi, 10 butir buah kopi warna hijau dan tujuh butir warna merah.

Menggambarkan bahwa kopi merupakan tanaman perkebunan rakyat yang menjadi andalan untuk membangun Bener Meriah ke empat penjuru arah mata angin adil dan merata dengan harapan hari esok lebih baik dari hari ini.

7 helai daun tembakau.

Menggambarkan 7 kecamatan perintis berdirinya Kabupaten Bener Meriah dan tembakau merupakan salah satu tanaman  perkebunan sumber penghidupan.

 

 

Gajah Putih

Menggambarkan titisan seorang putra Raja Linge yang bernama Bener Meriah.

Gajah putih menghadap kedepan dalam bingkai Merah Putih.

Melambangkan perpandangan jauh kedepan untuk membangun dengan mendengar aspirasi rakyat didalam satu komando demi kebenaran serta tetap bernaung dibawah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Musara Pakat

Merupakan semboyan yang bermakna. Satu haluan dan satujuan dengan mengedepankan musyawarah untuk mencapai kesepakatan dan kesepahaman.

 

Arti kiasan warna 

-Kuning   :Mulia, Jaya, warna kebesaran kerajaan

-Merah    :Berani, Kekuatan, symbol Panglima dalam kerajaan .

-Hitam    :Berwibawa dan rendah hati.

-Putih     :Suci, bersih dan bersahaja. 

-Biru      :Agung dan berpandangan luas.

-Hijau     :Islami, sejuk dan subur.

 

Kejayaan Bener Meriah  didukung oleh kekuatan rakyat yang rendah hati bersedih dan bersahaja serta berpandangan luas dialam yang sejuk dan subur serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

Nilai Budaya

Gayo adalah nama suku asli yang mendiami daerah ini. Mayoritas masyarakat Gayoberprofesi sebagai Petani Kopi. Varietas Arabika mendominasi jenis kopi yang dikembangkan oleh para petani Kopi Gayo. Produksi Kopi Arabika yang dihasilkan dari Tanah Gayo merupakan yang terbesar di Asia

back