Kabupaten

Kabupaten KOTA LHOKSEUMAWE

Profil | Sejarah | Arti Logo | Nilai Budaya

Profil

Nama Resmi

:

Kota Lhokseumawe

Ibukota

:

Lhokseumawe

Provinsi 

:

Aceh

Batas Wilayah

 

:

 

Utara: Selat Malaka
Selatan: Kabupaten Aceh Utara
Barat: Kabupaten Aceh Utara
Timur: Kabupaten Aceh Utara

Luas Wilayah

:

181,06 Km²

Jumlah Penduduk

:

188.221 Jiwa

Wilayah Administrasi

:

Kecamatan : 4, Kelurahan : -, Desa : 68

Alamat Kantor

:

Jl. Merdeka I  No.2 Kota Lhokseumawe 24351

Website

:

http://www.lhokseumawekota.go.id

 

(Permendagri No.39 Tahun 2015)

Sejarah

Asal kata Lhokseumawe adalah ‘Lhok’ dan ‘Seumawe’. Lhok artinya dalam, teluk, palung laut, dan Seumawe artinya air yang berputar-putar atau pusat dan mata air pada laut sepanjang lepas pantai Banda Sakti dan sekitarnya Sebelum Abad ke XX negeri ini telah diperintah oleh Ulee Balang Kutablang. Tahun 1903 setelah perlawanan pejuang Aceh terhadap penjajah Belanda melemah, Aceh mulai dikuasai. Lhokseumawe menjadi daerah taklukan dan mulai saat itu status Lhokseumawe menjadi Bestuur van Lhokseumawe dengan Zelf Bestuurder adalah Teuku Abdul Lhokseumawe tunduk dibawah Aspiran Controeleur dan di Lhokseumawe berkedudukan juga wedana serta asisten residen atau bupati.


Pada dasawarsa kedua abad ke XX itu, diantara seluruh daratan Aceh, salah satu pulau kecil luas sekitar 11 km2 yang dipisahkan Sungai Krueng Cunda diisi bangunan-bangunan pemerintah umum, militer dan perhubungan kereta api oleh Pemerintah Belanda. Pulau kecil dengan desa-desa Kampung Keude Aceh, Kampung Jawa, Kampung Kutablang, Kampung Mon Geudong, Kampung Teumpok Teungoh, Kampung Hagu, Kampung Uteun Bayi, dan Kampung Ujong Blang yang keseluruhannya baru berpenduduk 5.500 jiwa secara jamak disebut Lhokseumawe. Bangunan demi bangunan mengisi daratan ini sampai terwujud embrio kota yang memiliki pelabuhan, pasar, stasiun kereta api dan kantor-kantor lembaga pemerintahan.

Sejak proklamasi kemerdekaan, Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia belum terbentuk sistematik sampai kecamatan ini. Pada mulanya Lhokseumawe digabung dengan Bestuurder van Cunda. Penduduk di daratan ini makin ramai berdatangan dari daerah sekitarnya seperti Buloh Blang Ara, Matangkuli, Lhoksukon, Blang Jruen, Nisam, Cunda serta Pidie.

Pada tahun 1956 dengan Undang-Undang DRT Nomor 7 Tahun 1956, terbentuk daerah-daerah otonom kabupaten dalam lingkup daerah Propinsi Aceh, dimana salah satu kabupaten diantaranya adalah Aceh Utara dengan ibukotanya Lhokseumawe. Kemudian pada tahun 1964 dengan Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Aceh Nomor 24/G.A/1964 tanggal 30 November 1964, ditetapkan bahwa Kemukiman Banda Sakti dalam Kecamatan Muara Dua, dijadikan kecamatan tersendiri dengan nama Kecamatan Banda Sakti.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintah di Daerah, berpeluang meningkatkan status Lhokseumawe menjadi Kota Administratif. Pada tanggal 14 Agustus 1986 dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1986 Pembentukan Kota Administratif Lhokseumawe ditandatangani oleh Presiden Suharto, yang diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Soeparjo Roestam pada tanggal 31 Agustus 1987. Dengan adanya hal tersebut maka secara de jure dan de facto Lhokseumawe telah menjadi kota administratif dengan luas wilayah 253,87 km2 yang meliputi 101 desa dan 6 kelurahan yang tersebar di lima kecamatan yaitu : Kecamatan Banda Sakti, Kecamatan Muara Dua, Kecamatan Dewantara, Kecamatan Muara Batu, dan Kecamatan  Blang Mangat.

Sejak tahun 1988 gagasan peningkatan status Kotif Lhokseumawe menjadi Kotamadya mulai diupayakan sehingga kemudian lahir UU No.2 Tahun 2001 tentang pembentukan Kota Lhokseumawe tanggal 21 Juni 2001 yang ditanda tangani Presiden RI Abdurrahman Wahid, yang wilayahnya mencakup tiga kecamatan yaitu : Kecamatan Banda Sakti, Kecamatan Muara Dua dan Kecamatan Blang Mangat. Pada tahun 2006 kecamatan Mura Dua mengalami pemekaran menjadi Kecamatan Muara Dua dan Muara Satu sehingga jumlah kecamatan di Kota Lhokseumawe menjadi empat kecamatan.

Arti Logo

.

Nilai Budaya

.

back