Kabupaten

Kabupaten DELI SERDANG

Profil | Sejarah | Arti Logo | Nilai Budaya

Profil

Nama Resmi :Kabupaten Deli Serdang
Ibukota :Lubuk Pakam
Provinsi :Sumatera Utara
Batas Wilayah:

Utara: Kabupaten Langkat dan Selat Sumatera
Selatan: Kabupaten Karo dan Simalungun
Barat: Kabupaten Langkat dan Karo
Timur:
 Kabupaten Asahan dan Kabupaten Simalungun

Luas Wilayah:2.241,68 Km²
Jumlah Penduduk:

1.773.201 Jiwa


Wilayah Administrasi:

Kecamatan: 22, Kelurahan : 14, Desa : 380


Website::http://www.deliserdangkab.go.id
   

 

( Permendagri No.39 Tahun 2015 )

Sejarah

Sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 Kabupaten Deli Serdang yang dikenal sekarang ini dua pemerintahan yang berbentuk kerajaan ( Kesultanan ) yaitu Kesultanan Deli yang berpusat di Kota Medan dan Kesultanan Serdang berpusat di Perbaungan.

Kabupaten Deli dan Serdang ditetapkan menjadi Daerah  Otonom sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 tahun 1984 tentang Undang-Undang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 7 Darurat  Tahun 1965. Hari jadi Kabupaten Deli Serdang ditetapkan tanggal 1 Juli 1946.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1984, ibukota Kabupaten Deli Serdang dipindahkan dari Kota Medan ke Lubuk Pakam dengan lokasi perkantoran di Tanjung Garbus yang diresmikan oleh Gubernur Sumatera Utara tanggal 23 Desember 1986.

Sesuai dengan dikeluarkan UU Nomor  36 Tahun 2003 tanggal 18 Desember 2003, Kabupaten Deli Serdang telah dimekarkan menjadi dua wilayah yakni Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Serdang Bedagai, secara administratif Pemerintah Kabupaten Deli Serdang kini terdiri atas 22 Kecamatan yang di dalamnya terdapat 14 Kelurahan dan 380 Desa.

Tercatat dalam sejarah Bupati pertama Kabupaten Deli Serdang Moenar S.Hamidjojo, dilanjutkan Sampoerna Kolopaking, setelah itu Wan Oemaroeddin Barus (  1 April 1951-1 April 1958 ) Abdullah Eteng ( 1 April 1958 – 11 Januari 1963 ) Abdul Kadir Kendal Keliat ( 11 Januari 1963 -  11 November 1970 ) H. Baharoeddin Siregar ( 11 Novermber 1970 – 17 April 1978 ) Abdul Muis Lubis ( 17 April 1978 – 3 Maret 1979 ) H. Tenteng Ginting ( 3 Maret 1979 – 3 Maret 1984 ) H. Wasiman ( 3 Maret 1984 – 3 Maret 1989 ) H. Ruslan Mansur ( 3 Maret 1989 – 1994 ) H. Maymaran NS ( 3 Maret 1994 – 3 Maret 1999 ) Drs. H. Abdul Hafid, MBA ( 3 Maret 1999 – 7 April 2004 ),  tahun 2004 ( Periode 2004 – 2009 dan Periode 2009-2014) di jabat oleh Drs. H. Amri Tambunan.

Seiring dengan gerak roda pembangunan yang terus melaju diciptakan motto bagi daerah Deli Serdang yaitu : “ BHINNEKA PERKASA JAYA” yang tercantum di pita lambang Daerah Kabupaten Deli Serdang, dalam pengertian “ Dengan masyarakatnya yang beraneka ragam suku, Agama, ras, dan golongan bersatu dalam ke Bhinnekaan secara kekeluargaan dan gotong royong membangun semangat kebersamaan, menggali dan mengembangkan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusianya sehingga menjadi kekuatan dan keperkasaan untuk mengantarkan masyarakat kepada kesejahteraan, maju, mandiri dan jaya sepanjang masa

Dalam masa pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS), keadaan Sumatra Timur mengalami pergolakan yang dilakukan oleh rakyat secara spontan menuntut agar NST yang dianggap sebagai prakarsa Van Mook (Belanda) dibubarkan dan wilayah Sumatera Timur kembali masuk Negara Republik Indonesia. Para pendukung NST membentuk Permusyawaratan Rakyat se Sumatera Timur menentang Kongres Rakyat Sumatera Timur yang dibentuk oleh Front Nasional.

 

Negara-negara bagian dan daerah-daerah istimewa lain di Indonesia kemudian bergabung dengan NRI, sedangkan Negara Indonesia Timur (NIT) dan Negara Sumatera Timur (NST) tidak bersedia.

Akhirnya Pemerintah NRI meminta kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) untuk mencari kata sepakat dan mendapat mandat penuh dari NST dan NIT untuk bermusyawarah dengan NRI tentang pembentukan Negara Kesatuan dengan hasil antara lain Undang-Undang Dasar Sementara Kesatuan yang berasal dari UUD RIS diubah sehingga sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945.

 

Atas dasar tersebut terbentuklah Kabupaten Deli Serdang seperti tercatat dalam sejarah bahwa Sumatera Timur dibagi ata 5 (lima) Afdeling, salah satu diantaranya adalah Deli en Serdang. Afdeling ini dipimpin oleh seorang Asisten Residen beribukota di Medan serta terbagi atas 4 (empat) Onder Afdeling yaitu Beneden Deli beribukota di Medan, Bovan Deli beribukota di Pancur Batu, Serdang beribukota di Lubuk Pakam, Padang Bedagei beribukota di Tebing Tinggi dan masing-masing dipimpim oleh seorang Kontelir.

Selanjutnya dengan keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Sumatera Timur tanggal 19 April 1946, Keresidenan Sumatera Timur dibagi menjadi 6 (enam) Kabupaten ini terdiri atas 6 (enam) Kewedanaan yaitu Deli Hulu, Deli Hilir, Serdang Hulu, Serdang Hilir, Bedagei, Padang/Kota Tebing Tinggi pada waktu itu ibukota berkedudukan di Perbaungan.

 

Kemudian dengan Besluit Wali Negara tanggal 21 Desember 1949 wilayah tersebut adalah Deli Serdang dengan ibukota Medan, meliputi Lubuk Pakam, Deli Hilir, Deli Hulu, Serdang, Padang dan Bedagei.

Pasa tanggal 14 November 1956, Kabupaten Deli dan Serdang ditetapkan menjadi Daerah Otonom dan namanya berubah menjadi Kabupaten Deli Serdang sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 tahun 1948 yaitu Undang-Undang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah dengan Undang-Undang Nomor 7 Drt Tahun 1956. Untuk merealisasinya dibentuklah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dab Dewan Pertimbangan Daerah (DPD).

Namun, tahun demi tahun terus berlalu merubah perjalanan sejarah dan setelah melalui berbagai usaha penelitian dan seminar-seminar oleh para pakar sejarah dan pejabat Pemerintah Daerah Tingkat II Deli Serdang pada waktu itu (sekarang Pemerintah Kabupaten Deli Serdang), akhirnya disepakati penetapan Hari Jadi Kabupaten Deli Serdang tanggal 1 Juli 1946.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1984, ibukota Kabupaten Deli Serdang dipindahkan dari Kota Medan ke Lubuk Pakam dengan lokasi perkantoran di Tanjung Garbus yang diresmikan oleh Gubernur Sumatera Utara tanggal 23 Desember 1986. Demikian pula pergantian pimpinan didaerah inipun telah terjadi beberapa kali.

Tercatat dalam sejarah bahwa Bupati Pertama di Kabupaten Deli Serdang secara berkesinambungan telah di pimpin oleh Bupati Kepala Daerah Deli Serdang yang sampai saat ini tercatat tiga belas orang Bupati kepala daerah telah memimpin Kabupaten Deli Serdang yakni :

1. 

 

Munar S. Hamidjoyo 

 

 

 

 

2. 

 

Sampurno Kolopaking 

 

 

 

 

3. 

 

Wan Oemaruddin Barus 

 

(1 Feb 1951 s/d 1 April 1958) 

 

4. 

 

Abdullah Eteng 

 

(1 Apr 1958 s/d 1 Jan 1963) 

 

5. 

 

Abdul Kadir Kendal Keliat 

 

(11 Jan 1963 s/d 11 Nov 1970) 

 

6. 

 

H. Baharoeddin Siregar 

 

(11 Nov 1970 s/d 17 April 1978) 

 

7. 

 

Abdul Muis Lubis 

 

(17 Apr 1978 s/d 3 Mar 1979) 

 

8. 

 

H. Tenteng Ginting 

 

(3 Mar 1979 s/d 3 Mar 1984) 

 

9. 

 

H. Wasiman 

 

(3 Mar 1984 s/d 3 Mar 1989) 

 

10. 

 

H. Ruslan Mansyur 

 

(3 Mar 1989 s/d 3 Mar 1994) 

 

11. 

 

H. Maymaran NS 

 

(3 Mar 1994 s/d 3 Mar 1999) 

 

12. 

 

Drs H. Abdul Hafid, MBA  

 

(3 Mar 1999 s/d 7 April 2004) 

 

13. 

 

Drs H. Amri Tambunan 

 

(7 April 2004 s/d sekarang) 

 

Perjalanan penyelenggaraan pemerintah di Kabupaten Deli Serdang, tecatat beberapa Bupati didampingi oleh seorang Wakil Bupati. Pada pertengahan periode kepemimpinan (1997) H.Maymaran. MS, beliau didampingi oleh seorang wakil Bupati Drs.H.Rayo Usman Harahap, sesuai dengan Surat Keputusan Mendagri Nomor 132.22-141 tanggal 24 Februari 1977. Jabatan Wakil Bupati berlanjut dijabat oleh Drs.H.Rayo Usman Harahap pada periode Drs.H.Abdul Hafid, MBA sampai dengan tahun 2002. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, jabatan Wakil Bupati merupakan satu paket dengan Bupati yang dipilih oleh anggota legislatif. Tahun 2003, Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Deli Serdang, terpilih Drs.H.Amri Tambunan yang berdampingan dengan Drs.Yusuf Sembiring, MBA.,MM sebagai Wakil Bupati untuk periode 2004 sampai dengan 2009.

Sama halnya dengan badan eksekutif, maka pada lembaga legislatif, terdapat pula Putra Bangsa yang telah mendapat kesempatan menjadi ketua DPRD TK II Deli Serdang, yakni :

1. 

 

Bonar Ginting 

 

 

 

 

2. 

 

H. Mahmud Hasan 

 

 

 

 

3. 

 

T.A. Muhaid Arief 

 

 

 

 

4. 

 

Kapten M. Selamat 

 

 

 

 

5. 

 

Letkol Gus Masiman, BA  

 

(1971 s/d 1982) 

 

6. 

 

H. Muhammmad Rizan  

 

(1982 s/d 1987) 

 

7. 

 

T. Abunawar Sinar Al-Haj  

 

(1987 s/d 1992) 

 

8. 

 

H. Iping Sapei  

 

(1992 s/d 1997) 

 

9. 

 

Kolonel. Drs. H. Nusrin Siregar 

 

(1997 s/d 1999) 

 

10. 

 

H. Naik Tarigan, BBA  

 

(1999 s/d 2004) 

 

11 

 

H. Wagirin Arman 

 

(2004 s/d sekarang)

 

Sedangkan Sekretaris Wilayah Daerah (saat ini berubah nama menjadi Sekretaris Daerah) Kabupaten Deli Serdang juga sudah silih berganti, mulai dari H. Baharoeddin Siregar, Mbra Barus, Mabai Tarigan, H. Abdul Muis, Mohd. Zaini Dahlan SH, Drs. Sonny Sembiring, Zainal Arifin SH, Drs. Aman Ginting, Drs. H. Azis Fachri Harahap, H. Abdul Salam Pane SH, Drs. H. Zainul Aris, Drs. H. Chairullah, S.I.P.MAP, Pelaksana Sekda Ir.H.Marapinta Harahap, MAP,MM, dan saat ini dijabat oleh Ir.Djaili Azwar, M.Si.

Sementara Sekretaris DPRD Kabupaten Deli Serdang juga sudah beberapa kali silih berganti mulai dari Djaman Tarigan SH, Drs. Nur Achmad Siregar, H.M. Rasyid SH, Drs. Achmad Siregar dan saat ini dijabat oleh Drs. Semangat Merdeka Tarigan.

Arti Logo

  1. Bintang bersudut lima melambangkan Ketuhanan Yang Maha Esa dan berfalsafat Pancasila.
  2. 17 kuntum bunga kapas, 5 (lima) daun sirih, 3 (tiga) buah pinang, empat puluh lima butir padi melambangkan catatan sejarah, tanggal, bulan dan tahun kemerdekaan RI, dimana rakyat Deli Serdang turut memberi dharma bhaktinya dalam kemerdekaan Republik Indonesia.
  3. Sedangkan padi berbuah 11 (sebelas), seekor ikan melambangkan penduduk Kabupaten Deli Serdang sebagian besar terdiri dari petani dan nelayan.
  4. Gunung dan lima gelombang ombak serta matahari pagi yang sedang naik melambangkan:
    1. Gunung menunjukkan geografi Deli Serdang yang terdiri dari pegunungan, daratan rendah dan pantai
    2. Lima gelombang ombak melambangkan bahwa Deli Serdang di airi oleh sungai besar kecil yang membawa kemakmuran rakyat.
    3. Matahari terbit yang sedang naik melambangkan masa depan yang gemilang cita-cita yang tinggi serta kegairahan bekerja yang penuh semangat dan keyakinan.
  5. Pohon kelapa sawit, karet, tembakau melambangkan daerah Deli Serdang adalah daerah perkebunan yang menghasilkan devisa.
  6. Roda mesin bergigi melambangkan cita-cita modernisasi dari mekanisme kehidupan rakyat serta lambang kerajinan tangan.
  7. Sirih, pinang dan puan melambangkan kebudayaan asli, dimana sirih dan pinang merupakan alat pembuka kata dalam segala upacara serta lambang persaudaraan dan toleransi.
  8. Lima helai daun sirih melambangkan tiga hukum yang dijunjung tinggi, yaitu hukum politik, hukum adat dan hukum negara

Motto daerah adalah “BHINEKA PERKASA JAYA”

Motto daerah di atas adalah sebagai berikut :

  1. BHINEKA : Melukiskan penduduk Deli Serdang yang penduduknya beraneka ragam suku, agama, ras, dan golongan yang bersatu secara kekeluargaan dan gotong royong yang dilandasi oleh jiwa dan semangat falsafah negara Pancasila.
  2. PERKASA : Menggambarkan / mengartikan bahwa Kabupaten Deli Serdang masyarakatnya yang beraneka ragam tapi mempunyai semangat perjuangan dan kesatuan telah menjadi daerah kuat dan kokoh baik dimasa perjuangan kemerdekaan maupun dalam mengisi kemerdekaan dengan pembangunan.
  3. JAYA : Menggambarkan / mengartikan bahwa daerah Deli Serdang merupakan daerah mempunyai potensi alam yang subur dan makmur yang akan mampu mengantarkan masyarakat pada kesejahteraan dan kejayaan sepanjang masa. 

Nilai Budaya

**

back