Kabupaten

Kabupaten KOTA TANJUNG BALAI

Profil | Sejarah | Arti Logo | Nilai Budaya

Profil

Nama Resmi :Kota Tanjung Balai
Ibukota :Tanjung Balai
Provinsi :Sumatera utara
Batas Wilayah:

Utara: Kabupaten Asahan
Selatan: Kabupaten Asahan
Barat: Kabupaten Asahan
Timur: Kabupaten Asahan

Luas Wilayah:107,83 Km2
Jumlah Penduduk:180.953 Jiwa 
Jumlah Kecamatan:Kecamatan : 6, Kelurahan : 31, Desa :-
  
 

Website   : http://www.tanjungbalaikota.go.id

 

( Permendagri No.66 Tahun 2011)

Sejarah


Menurut sejarah, pada abad XV keluarga Batara Sinomba dan istrinya Putri Langgani dari Pagaruyung datang kedaerah Barumun dan menetap di Desa Pinang Awan ( sekarang Kecamatan Kota Pinang Kabupaten Labuhan Batu). Dari pasangan ini lahirlah seorang putra bergelar “ Putra Tuan Batara ” yang akhirnya menjadi raja Kerajaan Air Merah didaerah hilir Pinang Awan.

Raja Air Merah mempunyai dua orang isteri, dari isteri pertama lahir dua orang putra mahkota dan seorang putri yang bernama Siti Ungu atau Siti Unai, sedangkan dari isteri kedua dikaruniai pula seorang putra. Akibat fitnah dari isteri kedua yang menginginkan putranya berkuasa menjadi raja, kedua putra mahkota diusir yang akhirnya sampai di Bandar Negeri Aceh.

Karena budi pekerti mereka yang baik, kedua putra mahkota tersebut dapat diterima dan akrab dengan keluarga kesultanan Aceh yang dipimpin Sultan Iskandar Muda.

Rasa rindu kepada kampung halaman, akhirnya kedua putra mahkota kembali kekerajaan Air Merah. Karena sadar bahwa kepulangan mereka tidak akan diterima, mereka memohon pengawalan pasukan dari kesultanan Aceh untuk pulang ke Air Merah. Kepulangan mereka ke Negeri Air Merah disambut dengan pertempuran oleh pasukan kerajaan Air Merah yang rajanya ternyata putra dari Istri Kedua

Namun kemenangan ternyata berada dipihak kedua putra mahkota. Raja Air Merah tertembak oleh pasukan Kesultanan Aceh, dan putri Ungu jga tertangkap. Sebagai tanda persahabatan dan rasa terima kasih atas bantuan dari kesultanan Aceh, kemudian kedua putra mahkota menjodohkan adik mereka Siti Ungu menjadi salah satu istri Sultan Aceh, sementara mereka meneruskan kepemimpinan di Air Merah.
Kepemimpinan mereka yang bijaksana membuat Negeri Air Merah menjadi Aman, damai dan makmur.

Beberapa tahun kemudian kedua putra mahkota yang telah menjadi raja di Air Merah berangkat kenegeri Aceh. Mereka rindu dengan adik mereka Siti Ungu dan bermaksug ingin menjenguk. Dalam perjalanan mereka singgah ke Negeri Asahan untuk menemuai seorang Bomoh yang menguasai berbagai ilmu kbathinan dan bahasa , bernama Bayak Lingga atau Sikaro – Karo untuk Bersama – sama prig ke Negeri Aceh.

Sesampainya dinegeri Aceh, mereka disambut dengan baik dan diikutsertakan dalam sayembara yang diselenggarakan untuk menjamu tamunya dari negeri seberang. Dalam sayembara itu Sultan kalah bertaruh dengan utusan Negeri Seberang, Namun Berkat bantuan dari Bayak Lingga yang memiliki banyak keahlian tersebut, akhirnya Sultan berhasil memperoleh kemenangan. Atas hal tersebut Sultan merasa berterima kasih, dan sebagai balasannya Sultan berjanji akan memenuhi permintaan apa saja yng diinginkan tamunya dari Negeri Asahan
tersebut. Mendapatkehormatan sedemikian, Raja Air Merah tidak menyia-nyiakannya, beliau meminta kepadaSultan agar Adik Mereka Siti Ungu diijinkan intuk dibawa kembali ke Negeri Air Merah.

Dalam perjalan Putri Siti Ungu, Bayak Lingga dan saksi Sukmadiraja, singgah di Negeri Asahan,kemudian Putri Siti Ungu melahirkan seorang putra yang diberi nama Abdul Jalil. Selanjutnya Putri Siti Ungu menikah dengan Bayak Lingga dengan gelar Raja Bolon. Dari Pernikahan ini lahirlah seorang Putra bernama Abdul Karim dan keturunannya bergelar Datuk Muda yang menjadi Bahu Kanan Sultan akan tetapi pada saat
perobatan Sultan Asahan, yang diangkat menjadi Sultan adalah Abdul Karim, bukan Abdul Jalil sebagimana Titah Sultan Aceh, bahkan Abdul Jalil diasingkan kedaerah Batu Bara. Diperlakukan demikian kemudian Abdul Jalil mengirim surat kepada Sultan. Mendengar kabar tersebut
Sultan Aceh sangat murka dan segera dating ke Negeri Asahan.

Kedatangan Sultan Aceh diterima baik oleh Raja Bolon disuatu tempat dekat Bandar Pulau sekarang, lalu tempat itu diberi nama Marjanji Aceh. Dari sana rombongan Raja Aceh mengikuti perjalanan ke Hilir Sungai Asahan dan Akhirnya sampai pada sebuah Tanjung didekat Muara Sungai Asahan, tepatnya dimuara Sungai Silau pertemuan dengan Sungai Asahan. Pada Tanjung tersebut Sultan memerintah kan untuk membangun
sebuah Balai sebagai tempat upacara dan menobatkan putranya Abdul Jalil sebagai Raja di Negeri tersebut. Peristiwa penabalan ini terjadi pada tahun 1620.

Pada tanggal 27 Desember Sultan Iskandar Muda Wafat. Sebagai penghargaan atas jasanya menemukan dan mendirikan Kota Tanjungbalai, tanggal wafatnya Sultan dan tahun penabalan Sultan Pertama dijadikan sebagi hari lahirnya KotaTanjungbalai. Sedangkan Balai yang dibangun diujung Tanjung tersebut adalah awal mula penyebutan kata Kota Tanjungbalai.

Berdasarkan Hasil Penelitian oleh Panitia hari jadi kota Tanjungbalai yang mengacu kepada fakta diatas sesuai hasil siding Pleno DPRD Kotamadya Daerah TK II Tanjungbalai, ditetapkanlah tanggal 27 Desember 1620 sebagai hari jadi Kota T Sejak dahulu kota Tanjungbalai
yang terletak dipantai Timur Sumatera Utara dikenal memiliki Potensi yang sangat besar terutam dari hasil perikanan laut berupa ikan dan buah laut lainnya. Hal inilah yang menjadikan kota Tanjungbalai mendapat julukan sebagi “ Kota Kerang “.

 

Arti Logo

**

Nilai Budaya

**

back