Kabupaten

Kabupaten BUNGO

Profil | Sejarah | Arti Logo | Nilai Budaya

Profil

Nama Resmi :Kabupaten Bungo
Ibukota :Muara Bungo
Provinsi :Jambi
Batas Wilayah:

Utara: Kabupaten Tebo dan Kab. Darmasraya
Selatan: Kabupaten Merangin
Barat: Kabupaten Kerinci 
Timur: Kabupaten Tebo

Luas Wilayah:4.659,00 km²
Jumlah Penduduk:270.816 jiwa 
Jumlah Kecamatan:Kecamatan : 17, Kelurahan : 12, Desa : 136
Website:http://www.bungokab.go.id/
  

( Permendagri No.66 Tahun 2011 )

Sejarah

Kabupaten Bungo sebagai salah satu daerah Kabupaten/kota dalam Provinsi Jambi, semula merupakan bagian dari Kabupaten Merangin, sebagai salah satu kabupaten dari keresidenan Jambi yang tergabung dalam propinsi Sumatera Tengah berdasarkan Undang-Undang nomor 10 tahun 1948.
Selanjutnya berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1956, Kabupaten Merangin yang semula Ibukotanya berkedudukan di Bangko di pindahkan ke Muara Bungo.
Pada tahun 1958 rakyat Kabupaten Merangin melalui DPRD peralihan dan DPRDGR bertempat di Muara Bungo dan Bangko mengusulkan kepada Pemerintah Pusat agar:

  1. Kewedanaan Muara Bungo dan Tebo menjadi Kabupaten Muara Bungo Tebo dengan Ibukota Muara Bungo.
  2. Kewedanaan Sarolangun dan Bangko menjadi kabupaten Bangko dengan Ibukotanya Bangko.

Sebagai perwujudan dari tuntutan rakyat tersebut, maka keluarlah Undang-undang Nomor 7 Tahun 1965 tentang pembentukan Daerah Kabupaten Sarolangun Bangko berkedudukan di Bangko dan kabupaten Muara Bungo Tebo berkedudukan di Muara bungo Yang mengubah Undang Undang Nomor 12 tahun 1956.


Seiring dengan pelantikan M.Saidi sebagai Bupati diadakan penurunan papan nama Kantor Bupati Merangin dan di ganti dengan papan nama Kantor Bupati Muara Bungo Tebo, maka sejak tanggal 19 Oktober 1965 dinyatakan sebagai, Hari Jadi kabupaten Muara Bungo Tebo. Untuk memudahkan sebutannya dengan keputusan DPRGR kabupaten daerah Tingkat II Muara Bungo Tebo, ditetapkan dengan sebutan Kabupaten Bungo Tebo.
Seiring dengan berjalannya waktu melalui Undang-Undang Nomor 54 Tahun 1999 Kabupaten Bungo Tebo dimekarkan menjadi 2 wilayah yaitu Kabupaten Bungo dan Kabupaten Tebo.

Arti Logo

  • Jumlah Kelopak Bunga Jambu Lipo sebanyak 8 helai

Melambangkan Kabupaten Bungo terdiri dari 8 buah eks marga yaitu Bathin II Ilir, Bathin II Babeko, Bathin VII, Pelepat, Bathin III Ulu, Bathin V/VII Tanah Tumbuh, Tanah Sepenggal dan Jujuhan. Kemudian Bathin II Ilir dan Bathin II Babeko menjadi Kecamatan Muara Bungo, Bathin II Ulu dan Bathin VII menjadi Kecamatan Rantau Pandan, Marga Pelepat menjadi Kecamatan Pelepat, Bathin V/VII menjadi Kecamatan Tanah Tumbuh, Marga Tanah Sepenggal menjadi Kecamatan Tanah  Sepenggal dan Marga Jujuhan menjadi Kecamatan Jujuhan.

  • Ketayo Pelito dan Keris dengan latar belakang gung

Ketayo Pelito  merupakan alat penerangan/lampu, karya khas masyarakat Bungo secara simbolis mengandung arti sebagai pelita yang tak kunjung padam adalah simbol masyarakat daerah ini yang tak kenal menyerah.

  • Keris dengan lima lekukan ujung lancip yang berdiri tegak lurus dibelakang ketayo

Adalah lambang perjuangan menentang penjajahan dan kemelaratan, dimana hal ini merupakan semangat juang terus hidup sepanjang zaman berdasarkan dan dipimpin oleh hikmah. Serta melambangkan lima induk UU sebagai dasar hukum (adat), dasar kehidupan dan penghidupan masyarakat.

  • Kubah Mesjid

Melambangkan keagamaan dan ketaqwaan serta kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa, dimana masyarakat Kabupaten Bungo sangat meyakini dalam semua aspirasi dan etika masyarakat tidak akan tercapai tanpa ridho Tuhan YME, karena kepada-Nya lah manusia berserah diri.

  • Sembilan Belas Biji Padi dan Sepuluh Kuntum Bungo Dani saling impit rangkai diikat sebuah pita

Melambangkan kemakmuran dan kebahagiaan masyarakat. Sedangkan jumlah biji sebanyak 19 buah sebagai lambang 19 dan 10 kuntum Bungo Dani sebagai lambang bulan 10, dimana tanggal dan bulan ini Daerah Tingkat II Kabupaten Bungo Tebo diresmikan  yang tetap dipertahankan simbol Kabupaten Bungo sebagai kabupaten induk.

  • Pita bertulis Motto Kabupaten Bungo dalam bahasa daerah bertulis Langkah Serentak Limbai Seayun

yang bermaksud :

  • Sebagai pernyataan bahwa anak negeri mempunyai sifat, watak dan pendirian. Satu kata lahir dengan batin, sekato mulut dengan hati, satu kato dengan pembicaraan.
  • Anak negeri seiyo sekato bersama-sama pemimpin dalam membangun daerah, mengutamakan musyawarah dan mufakat, memelihara persatuan dan kesatuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
  • Masyarakat Kabupaten Bungo yang berdiam didalam negeri berpagarUndang, rumah berpagar adat, tepian berpagar baso, haruslah tudung menudung bak daun sirih, jahit menjahit bak daun petai, hati gajah sama dilapah, hati tungau sama dicecah, adat sama diisi, lembago sama-sama dituang, perintah sama dipatuhi, bak saluko adat Berat samo dipikul ringan samo dijinjing, kebukit samo mendaki kelurah samo menurun, ado samo dimakan idak samo dicari, seciap bak ayam sedencing bak besi, kok malang samo merugi bak balado samo mendapat serta terendam samo basah terampai samo kering.Anak Negeri seukur, satu kata batin dengan penghulu (pimpinan) selarik sejajar, cerdik sehukum, malam seagama, tuo-tuo searah seayun, anak-anak negeri seiyo sekato barulah bumi aman padi menjadi, rumput mudo kerbaunyo gemuk, baumo mendapat padi, menambang mendapat emeh (emas), buah-buahan segalo menjadi, baru basuo bak kato seluko adat keayik cemetik keno, kedarat durian gugur, lemang terbujur diatas dapur, anak negeri aman makmur.
    • Garis tebal berliku-liku sebanyak empat buah 

melambangkan adanya empat sungai besar dalam daerah Kabupaten Bungo yaitu Sungai Batang Tebo, Sungai Batang Bungo, Sungai Batang Pelepat dan Sungai Batang Jujuhan, dimana sungai sungai tersebut sangat potensial sebagai sumber kehidupan sosial ekonomi masyarakat.

  • Dua garis tebal vertikal dan dua buah garis horizontal yang membagi enam buah ruang yang

hampir sama ukurannya.

Melambangkan bahwa Kabupaten Bungo adalah sebanyak enam kecamatan yaitu Muara Bungo, Tanah Tumbuh, Pelepat, Tanah Sepenggal, Rantau Pandan dan Jujuhan.

  • Rantai yang terletak pada posisi antara dua garis tebal 

melambangkan Kabupaten Bungo sebagai kabupaten induk berdiri tahun 1965. Sebagai simbol persatuan dan disiplin, sedangkan mata rantai yang berjumlah 65 buah melambangkan tahun 65 (1965) sebagai tahun berdirinya Kabupaten Bungo.

 

WARNA LAMBANG

  • Merah, lambang keberanian yang terletak pada tulisan Langkah Serentak Limbai Seayun dan Kabupaten Bungo serta pada api.
  • Hijau, lambang kesuburan terletak pada dasar lambang (hijau muda) dan kubah mesjid.
  • Kuning, lambang kebesaran terletak pada padi, gung dan latar belakang kubah mesjid.
  • Hitam, lambang kesetiaan terletak pada dua garis tebal pinggir dan garis pembagi lambang.
  • Putih, lambang kesucian terletak pada pita, kelopak Jambu Lipo dan pada Bungo Dani.

 

PENGERTIAN LAMBANG

  • Keagamaan, disimbolkan dengan melambangkan Kubah Mesjid.
  • Perjuangan, disimbolkan dengan Keris dan Pelito.
  •  Perikehidupan rakyat, disimbolkan dengan Padi dan Garis Sungai.
  • Kebudayaan, disimbolkan dengan Ketayo dan Gung.

Nilai Budaya

A. Rumah Adat

Rumah adat pada hakikatnya adalah lambang dari adat lamo pusako usang, oleh karena itu, setiap unsur dari bangunan rumah adat itu mempunyai arti yang terkait pada adat lamo pusako usang, dengan demikian jelaslah bahwa sebuah rumah adat berbeda dengan rumah rakyat biasa. Dalam membangun rumah haruslah diperhitungkan benar-benar, baik bahan yang digunakan, bentuk bangunan dan arti dari setiap bagian-bagian bangunan itu.

Rumah adat Bungo mempunyai ciri sebagi berikut:
1. Sendi/ Pondasi
Sendi/ Pondasi terdiri dari batu sungai, ini melambangkan melompat tempat tumpuan, menyincan tempat landasan.
2. Tiang Rumah
Tiang bulat bersegi delapan, menunjukkan pucuk undang nan delapan. Banyak tiang dua puluh, kaki tiang biasa dan panjang bersudut empat bertarah licak, seimbang samo satiap sudut, diatas bersending segi delapan.
3. Lantai
Segalo nan ditanai dilantai nan sebilah, segalo yang dilayung dek atap nan sebengkawan, dan segalo nan dilingkung dek kungkung nan empat, itu adalah pengertian adat dengan lembaga didalam rumah.
4. Atap Ijuk
Atap yang terdiri dari ijuk melambangkan Adat nan idak lapuk dek hujan nan idak lekang dek paneh.
5. Atap patah di penuturan
Melambangkan pulai batingkat naik meninggal rusuk dan buku,  manusia betingkat turun meninggalkan waris dan pusako.
6. Tanggo
Tanggo sepan tiado memakai pelanta, maksudnyo tanggo itu langsung ke bendul rumah tujuannyo adalah tiap-tiap  sesuatu hajat dan maksud sebainya langsung sajo dan tanpa perantara, atau menti dan disinilah yang dikatokan adat.
7. Pintu Masuk
Hal ini menegaskan bahwa urut pangkal adat itu adalah satu, yaitu bena dan kebenaran.
8. Jendela Tigo
Lambang dari ico pakai, yaitu aturan-aturan hidup yang terpakai sehari-hari, yaitu peraturan adat, peraturan syarak, dan peraturan pemerintah.
9. Ruang 
  a. Ruang Tengah
      Ruangan tengah terdapat bendul jati yang artinya hingga batas larang pantang, nan terlukis di bendul jati, nan terpahat di tiang tuo.
   b. Ruang dalam rumah terbagi dua bagian :
       · Bagian rendah separo kedepan disebut sebagai bendul di tepi, boleh tamu duduk disana.
       · Bagian rendah separo kebelakang (pinteh) sebaris bendul di tengah, hanya untuk yang punya rumah, tidak boleh tamu duduk disana, terkecuali dalam acara adat untuk tempat duduk dalam acara adat tertentu.
10. Dapur
Dapur terletak disebelah kiri pangkal rumah, berfungsi untuk tempat ajun letak alat-alat dapur.
11. Motif Ukiran
Bagian puncak dengan motif tampuk manggis melambangkan dalam hukum nenek mamak, kalau manis ditelan, kalau pahit diludah. Dan motif lain keluk paku kacang belimbing melambangkan, anak dipangku kemenakan dibimbing, orang datang dipategangkan.

B. Pakaian

Pakaian adat adalah pakaian yang dipakai oleh Pimpinan Adat.
Pakaian Pimpinan Adat.
Pakaian Pimpinan Adat yang ada sekarang mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Sedangkan pakaian pimpinan adat semasa pemerintahan kolonial Belanda dulu, untuk yang setingkat Penghulu (Kepala Kampung) dan Pesirah (Kepala Marga) bentuk dan rupanya adalah sebagi berikut :
a. Berupa benda pusaka
b. Senjata penambah wibawa
c. Tongkat, kancing baju, peci yang diberikan Pemerintah Kolonial Belanda
d. Pakaian yang ditetapkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Pakaian Adat Perkawinan

1 Pakaian Penganten Wanita
a. Rambut bersanggul lipat pandan dan pakai tusuk konde (sunting)

b. Subangnya, gambang dan krabu.
c. Kalung berwarna, batang senyanit dan kalung tampang kundu, dan kalung Bungo.
d. Gelangnya, gelang berongsong (gelang kapuk) ditangan kiri dan kanan, sekurang-kurangnya tiga atau empat buah setiap tangan.
e. Gelang kaki, kiri kanan sekurang-kurangnya dua buah, berbentuk rotan berukir dan kepalanya runcing berbunga.
f. Bajunya, baju kurung berlengan tanggung dan lebar, dengan hiasan :
  1. Bagian bawah baju berhias benang bersulam emas
  2. Lengan baju bagian bawah, di hias dengan sulaman pucuk rebung, yang disulam dengan benang mas.
  3. Dada baju di hias dengan sulaman bunga, masing-masing kiri dan kanan, empat tangkai bunga sulaman.
g. Sarung tenunan asli, warna merah tua (kain songket)
h. Selendang rawo, ujung selendang pakai jambul-jambul emas.
i. Di pinggang memakai pending mas
j. Pakai cincin pacat kenyang di jari manis kanan dan kiri dua sebelah.

2 Pakaian Penganten Pria
a. Kepala mengenai dita (daster) gagak hinggap dari tenunan asli.

b. Baju jas tutup, lengan pangjang. Ujung lengan baju bersulamkan pucuk rebung dengan benang mas. Demikian juga pada dada kanan diberi sulaman dengan benang mas.
c. Celana gunting cina, dengan ikat pinggag dengan kain tenunan asli dari warna merah hati ayam.
d. Pakai keris terapong, dan beramben dengan lajang serong, tenunan asli pakai jambul-jambul. 

back