Kabupaten

Kabupaten BONDOWOSO

Profil | Sejarah | Arti Logo | Nilai Budaya

Profil

Nama Resmi :Kabupaten Bondowoso
Ibukota :Bondowoso
Provinsi :Jawa Timur
Batas Wilayah:

Utara: Kabupaten Situbondo
Selatan: Kabupaten Jember
Barat: Kabupaten Probolinggo
Timur: Kabupaten Banyuwangi

Luas Wilayah:1.525,97 Km2
Jumlah Penduduk:902.156 Jiwa
Wilayah Administrasi:Kecamatan: 23, Kelurahan: 10 , Desa: 209
Website:

http://bondowosokab.go.id/

 

(Permendagri No.66 Tahun 2011)

Sejarah

  Berawal dari seorang anak yang bernama Raden Bagus Assra, ia adalah anak Demang Walikromo pada masa pemerintahan Panembahan di bawah Adikoro IV, menantu Tjakraningkat Bangkalan, sedangkan Demang Walikoromo tak lain adalah putra Adikoro IV. 

 

 

 

 Tahun 1743 terjadilah pemberontakan Ke Lesap terhadap Pangeran Tjakraningrat karena dia diakui sebagai anak selir. pertempuran yang terjadi di desa Bulangan itu menewaskan Adikoro IV, Tahun 1750 pemberontakan dapat dipadamkan dengan tewasnya Ke Lesap. Terjadi pemulihan kekuasaan dengan diangkatnya anak Adikoro IV, yaitu RTA Tjokroningrat. Tak berapa lama terjadi perebutan kekuasaan dan pemerintahan dialihkan pada Tjokroningrat I anak Adikoro III yang bergelar Tumenggung Sepuh dengan R. Bilat sebagi patihnya. Khawatir dengan keselamatan Raden Bagus Assra, Nyi Sedabulangan membawa lari cucunya mengikuti eksodus besar-besaran eks pengikut Adikoro IV ke Besuki. Assra kecil ditemukan oleh Ki Patih Alus, Patih Wiropuro untuk kemudian di tampung serta dididik ilmu bela diri dan ilmu agama. 

 

 Usia 17 tahun beliau diangkat sebagai Mentri Anom dengan nama Abhiseka Mas Astruno dan tahun 1789 ditugaskan memperluas wilayah kekuasaan Besuki ke arah selatan, sebelumnya beliau telah menikah dengan putri Bupati Probolinggo. Tahun 1794 dalam usaha memperluas wilayah beliau menemukan suatu wilayah yang sangat strategis untuk kemudian disebut Bondowoso dengan diangkatnya beliau sebagi Demang di daerah yang baru dengan nama Abhiseka Mas Ngabehi Astrotruno. Demikianlah dari hari ke hari Raden Bagus Assra berhasil mengembangkan Wilayah Kota Bondowoso dan tepat pada tanggal 17 Agustus 1819 atau hari selasa kliwon, 25 Syawal 1234 H. Adipati Besuki R. Aryo Prawirodiningrat sebagai orang kuat yang memperoleh kepercayaan Gubernur Hindia Belanda, dalam rangka memantapkan strategi politiknya menjadikan wilayah Bondowoso lepas dari Besuki, dengan status Keranggan Bondowoso dan mengangkat R. Bagus Assra atau Mas Ngabehi Astrotruno menjadi penguasa wilayah dan pimpinan agama, dengan gelar M. NG. Kertonegoro dan berpredikat Ronggo I, ditandai penyerahan Tombak Tunggul Wulung 

 

 Masa Beliau memerintah adalah  tahun 1819 - 1830 yang meliputi wilayah Bondowoso dan Jember. Pada tahun 1854, tepatnya tanggal 11 Desember 1854 Kironggo wafat di Bondowoso dan dikebumikan di atas bukit kecil di Kelurahan Sekarputih Kecamatan Tegalampel, yang kemudian menjadi Pemakaman keluarga Ki Ronggo Bondowoso.

 

 

 

 

Arti Logo

Lambang Daerah Bondowoso terbagi atas :

  • Perisai, melambangkan kesatuan pertahanan dari rakyat daerah , warna kuning emas melambangkan keluhuran budi.
  • Pohon beringin , melambangkan suatu pemeritahan yang senantiasa berusaha meberikan pengayoman kepada rakyat.
  • Atas Kepala Kereta Api (lokomotif ) mengepul dalam bentuk garis-garis hitam yang mewujudkan dua sapi beradu muka menunjukkan kebudayaan khusus serta kegemaran rakyat Bondowoso akan aduan sapi.
  • Kepala kerbau putih berbentuk dangkal melambangkan kerbau yang menunjukkan letak kota sewaktu pembabatan kota Bondowoso.
  • Kepala Kereta api ( Lokomotif ) melambangkan keberanian perjuangan rakyat Bondowoso, warna hitan yang tak pernah luntur melambangkan kekuatan serta ketetapan hati.
  • Cemeti , Parang, Tasbih merupakan pegangan Kironggo yang kewibawaannya dicerdaskan atas ketekunan beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  • Jagung, seni karya, padi, daun tembakau, menunjukaknan hasil utama Kabupaten Bondowoso.
  • Tulang daun tembakau membagi daun tembakau sebelah luar menjadi lima bagian , melambangkan dasar Negara Pancasila. Tulang daun tembakau membagi daun tembakau sebelah dalam menjadi empat bagian dan sebelah luar menjadi lima bagian melambangkan Undang-undang Dasar 1945.
  • Gunung dan Air menunjukkan letak geografis daerah yang dikelilingi oleh gunung-gunung dengan pengairan cukup , warna biru melambangkan harapan atas kesuburan daerah .

Sesanti Daerah Kabupaten Bondowoso berbunyi “SWASTI BHUWANA KRTA”

  • Swasti artinya :
    - Selamat, Bahagia lahir dan batin
    - Merdeka
    - Menyatu diri dengan Tuhan untuk mendapatkan kebahagian lahir dan batin/keselamatan dunia akhirat
  • Bhuwana Krta artinya Kemakmuran dunia / kesempurnaan dunia
  • Swasti Bhuwana Krta artinya barang siapa di dunia melakukan amal perbuatan yang baik dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa akan mendapatkan kesempurnaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat


Nilai Budaya

MONUMEN GERBONG MAUT 

Tanggal 23 Nopember 1947 sejarah mencatat dengan tinta emas tentang perjuangan heroik rakyat Bondowoso melawan penjajah belanda. 100 orang pejuang ditangkap dan diangkut dengan Gerbong No. GR.10152 berisi 30 orang. Gerbong No. GR.446 berisi 32 orang dan No. GR. 5769 berisi 38 orang dari Stasiun Kereta Api Bondowoso pada pukul 03.00 dini hari menuju Penjara Kali sosok Surabaya, para pejuang / tahanan yang ada di Gerbong tua dalam keadaan tertutup terasa pengap karena kurang udara dan berdesak-desakan berebut udara melalui lubang kecil Gerbong tua yang mulai rapuh / keropos serta ditambah lagi sengatan matahari menerpa dinding Gerbong, sehingga membuat para pejuang melolong-lolong kepanasanan dan kehausan mengakibatkan 40 orang dari seratus orang pejuang / tahanan gugur sebagai kusuma bangsa. Kejadian tersebutKabupaten Bondowoso. Dan untuk mengenang para jasa para pejuang maka setiap tahun diadakan Napak Tilas yang dilaksanakan tiap-tiap tahun pada Hari Pahlawan.

BATU KENONG


Batu Kenong dipergunakan sebagai bangunan/umpak rumah tinggal/ibadah sebagai penahan Balok-balok kayu yang berfungsi sebagai galar dan balok-balok bangunan tidak terlepas dari umpak.

 

BATU NYAI / PATUNG ARCA


Batu Nyai / Batu Arca disembah oleh nenek moyang karena dianggap mempunyai kekuatan, memberikan keselamatan dan kesejahteraan terhadap masyarakat .

 

KESENIAN KENTRUNG 

Kesenian kentrung merupakan hiburan rakyat yang dikenal dengan nama /sebutan KENTRUNG TRIO NOOR yang dimainkan oleh tiga orang dan menggunakan alat sederhana yaitu terbang (Rebana) . Ketiga-tiganya pemain dimaksud bersama pak Nor, sehingga dinamakan Trionor dari Desa Poncogati Kecamatan Curahdami. Kesenian

 

back