Kabupaten

Kabupaten KOTA PASURUAN

Profil | Sejarah | Arti Logo | Nilai Budaya

Profil

Nama Resmi :Kota Pasuruan
Ibukota :Pasuruan
Provinsi :Jawa Timur
Batas Wilayah:

Utara: Selat Madura
Selatan: Kec. Godang Wetan dan Kec. Pohjentrek Kab. Pasuruan
Barat: Kec. Kraton Kabupaten Pasuruan
Timur: Kec. Rejoso Kabupaten Pasuruan

Luas Wilayah:

35,29 Km²

Jumlah Penduduk:

195.718 Jiwa 

Wilayah Administrasi:

Kecamatan: 3, Kelurahan: 34

Website:

http://www.pasuruan.go.id

 

(Permendagri No.66 Tahun 2011)

 

Sejarah

Kota Pasuruan terletak ditepi pantai dan merupakan kota Bandar kuno. Pada jaman Erlangga kota ini disebut "PARAVAN" sedang pada jaman sejarah tiongkok disebut "GEMBONG" 

 

Konon  ada  orang  dari    negeri   Blambangan yang bernama  kiai  Gedee Menak Soepethak   menjadi  Raja  di  Pasuruan, yang  kemudian   digantikan   oleh  orang Surabaya   bernama  Kiai   Gedee   Kapulungan  yang  memenangkan  peperangan. Demikian kejadian berikutnya Kiai Gedee Kapulungan digantikan oleh Kiai Gedee Dermoyudo dari Kartosuro, dimana dalam menjalankan Pemerintahannya wafat dan digantikan oleh anaknya yang juga bernama Dermoyudo.  Kiai  Gedee Dermoyudo lari  ke  Surabaya   dan  lolos  dalam   perang  melawan  Mas Pekik,   serta   dalam pelariannya dia wafat dan dimakamkan di  pemakaman   Bibis  Wetan  Kantor Pos Surabaya. Dengan demikian Mas Pekik menjadi Raja di Pasuruan, kemudian wafat dan digantikan oleh Onggojoyo. 

 

Tahun 1671 – 1686

 

Pasuruan dibawah pemerintahan Onggo Djoyo, yang berasal dari keturunan kyai Brondong mendapat perlawanan dari untung Suropati dan kemudian kalah lalu melarikan diri ke kota Surabaya.


Tahun 1686 –1706

 

Pasuruan dibawah pemerintahan Djoko Untung Suropati dengan gelar Adipati Wironegoro.

 

Tahun 1706

 

Djoko Untung Suropati perang dengan VOC di Bangil dan mengalami luka - luka hingga meninggal, sampai sekarang makamnya tidak diketahui, yang ada petilasannya berupa GOA tempat persembunyiannya di pedukuhan mancilan desa Pohjentrek.

 

Tahun 1707

 

Putra Djoko Untung Suropati yang bernama Rachmad, menggantikan kedudukan ayahnya dan meneruskan perjuangan beliau sampai ke Timur dan gugur dalam pertempuran.

 


Tahun 1743

 

Darmayudo IV bernama Wongso Negoro Nitinegoro sebagai pengganti Rachmad. Sejak saat itu VOC dapat menguasai pantai utara jawa termasuk Pasuruan dan menganggap kota Pasuruan sebagai kota Bandar, sehingga perlulah dijadikan Ibukota Karesidenan dengan wilayah : Kabupaten Malang, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Bangil

 

Tahun 1916

 

Karena Pasuruan dianggap kota yang penting oleh ahli-ahli Belanda, maka tanggal 1 Juli 1916 (stbl 1918 No. 320) dibentuk STADS GEMSENTE VAN PASOEROEAN

 

Tahun 1926

 

Ditetapkan pelabuhan Pasuruan dengan peta daerah pelabuhan dan peta daerah kepentingan pelabuhan (stbl. 1926 No. 512, perubahan stbl 1920 No. 426)

 

Tahun 1928

 

Ibukota Karesidenan Pasuruan dipindahkan ke Malang.

Tahun 1935

 

Penggabungan Kotamadya Malang, Kotamadya Pasuruan, Kotamadya Probolinggo. Karena kota Pasuruan adalah ibukota Karesidenan, maka Belanda mengadakan kegiatan dengan mendirikan pabrik-pabrik gula disekitar Pasurun (Kedawung, pengkol, pleret, dan pabrik - pabrik yang ada di Probolinggo, Sidoarjo dan Malang. Untuk Keperluan tersebut dianggap perlu adanya Balai penelitian Gula(Proofstation Van Ooc Java) yang merupakan badan penelitian tersebar dibelahan bumi bagian selatan, kini balai-balai tersebut masih berfungsi dan diberi nama BP3G (Balai Penelitian Perusahaan Perkebunan Gula)

 

 Agar Pabrik-pabrik itu bisa lestari, maka didirikan sebuah bingkil besar ntuk merevisi pabrik gula sesudah giling dengan nama De Bromo, pada jaman merdeka diberi nama PN. Boma yang mempunyai tiga unit antara lain:

1. Unit Bhinneka.
2. Unit Turangga.
3. Unit Wahana.

Masing - masing berfungsi sebagai unit aneka ragam pekerjaan, unit yang membuat mesin dan unit yang membuat gerbang kereta api.

 

 

Tahun 1950

 

Kota Pasuruan dinyatakan daerah otonom yang terdiri atas 19 Desa dan Satu Kecamatan

 


Tahun 1982

 

Berdasarkan PP NO. 46 / 1982 tanggal 21 Desember 1982 Kotamadya Pasuruan dimekarkan menjadi 3 Kecamatan dengan 19 Kelurahan dan 15 Desa tambahan dari kabupaten Pasuruan

 

 

 

 

 

Arti Logo

1.    Sura Dira Satya Pati.:

 

Berani teguh hati dan setia kepada Pimpinan negara dan Agama

 

2.    Warna Lambang

 

a.    Dasar Lambang : Hijau, Biru

 

b.    Pita sebagai bingkai : Merah putih, sifat ketahanan dan semangat merah putih

 

c.    Tugu dan padi : Kuning dengan Contour Hitam, Tugu tersebut
melambangkan kemenangan dalam perjuangan fisik yang telah
dihasilkan secara gemilang.

 

d.    Laut dan Gunung : Hijau dan Biru dengan Contour Hitam,
Melukiskan sesuatu yang mengandung penuh kehidupan.

 

e.    Kapas : Putih, Hijau, Biru dan Contour hitam, melukiskan kemakmuran dan kesejahteraan Kota Pasuruan. 

 

3.      a. Bentuk Perisai Bulat telur

 

Melukiskan sifat - sifat ketahanan dari pada segenap potensi yang terdapat dalam kota pasuruan

b. Tugu

Melukiskan produk dari pada sejarah perjuangan fisik dimasa lampau yang dihasilkan secara gemilang.

     c. Bintang segi Lima

 

Pancasila sebagai dasar negara dan sebagai keimanannya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.

 

     d. Padi dan Kapas

 

Seutas padi dan kapas sejumlah 17 disebelah kiri dan kapas dengan jumlah 8 disebelah kanan melukiskan kemakmuran dan kesejahteraan kota pasuruan baik sandang dan pangan, unsur - unsur perekonomian yang lain maupun yang meliputi kemajuan dari pada pembangunan disegenap lapangan.

 

     e. Laut & Gunung

 

Kota Pasuruan terletak seolah-olah diapit oleh Pegunungan Tengger dan Selat Madura.

 

 

 

 

 

Nilai Budaya

Tasyakuran Petik Laut dan Pasar Pesisir

Bertempat di Pelabuhan  Kota Pasuruan Sabtu (25/2) Panitia hari jadi Kota Pasuruan yang ke 326 beserta warga pesisir Kota Pasuruan menyelengarakan tasyakuran petik laut dan pasar pesisir.  Hadir dalam acara ini Walikota Pasuruan H.Hasani, Wakil Walikota, Sekretaris Daerah, Muspida , Kepala Satker di lingkungan Pemerintah Kota Pasuruan dan masyarakat.

Dalam laporanya Ahmad Hartoyo selaku ketua panitia mengatakan acara ini merupakan agenda tahunan yang bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil laut yang dicapai selama satu tahun ini. Acara ini melibatkan 75 perahu nelayan yang dilombakan di hias sebagus mungkin karena dalam event kali ini perahu yang paling menarik akan mendapatkan hadiah. Dalam kesempatan ini juga dibuka stan pasar pesisir yang disediakan untuk para pelaku ukm Kota Pasuruan dengan menampilkan produk unggulan yang dihasilkan berupa produk makanan olahan dari ikan, kerajinan dan industry logam.

Sementara itu walikota Pasuruan dalam sambutanya berharap tradisi petik laut yang dilaksanakan rutin setiap tahun oleh masyarakat nelayan ini bukan hanya menjadi aset pariwisata budaya  Kota Pasuruan saja namun lebih ditingkatkan lagi sebagai salah satu pariwisata budaya nasional yang diakui Pemerintah. ( Cak Alam)

back