Kabupaten

Kabupaten ALOR

Profil | Sejarah | Arti Logo | Nilai Budaya

Profil

 

Nama Resmi :Kabupaten Alor
Ibukota :Kalabahi
Provinsi :NUSA TENGGARA TIMUR
Batas Wilayah:

Utara: Laut Flores
Selatan: Selat Ombay
Barat: Kabupaten Lambata
Timur: P. Selat Daya (Kepulauan Maluku Tenggara Barat)

Luas Wilayah:

2.864,60 Km2

Jumlah Penduduk:

210.094 Jiwa 

Wilayah Administrasi

Website

:

 

:

Kecamatan : 17, Kelurahan : 17, Desa : 158

 

http://www.alorkab.go.id/


  (Permendagri No.66 Tahun 2011)

 

Sejarah

 

Menurut ceritra yang beredar di masyarakat Alor, kerajaan tertua di Kabupaten Alor adalah kerajaan Abui di pedalaman pegunungan Alor dan kerajaan Munaseli di ujung timur pulau Pantar. Suatu ketika, kedua kerajaan ini terlibat dalam sebuah Perang Magic. Mereka menggunakan kekuatan-kekuatan gaib untuk saling menghancurkan. Munaseli mengirim lebah ke Abui sebaliknya Abui mengirim angin topan dan api ke Munaseli. Perang ini akhirnya dimenangkan oleh Munaseli.
 
 
Konon, tengkorak raja Abui yang memimpin perang tersebut saat ini masih tersimpan dalam sebuah goa di Mataru. Kerajaan berikutnya yang didirikan adalah kerajaan Pandai yang terletak dekat kerajaan Munaseli dan Kerajaan Bunga Bali yang berpusat di Alor Besar. Munaseli dan Pandai yang bertetangga, akhirnya juga terlibat dalam sebuah perang yang menyebabkan Munaseli meminta bantuan kepada raja kerajaan Majapahit, mengingat sebelumnya telah kalah perang melawan Abui.

 Sekitar awal tahun 1300-an, satu detasmen tentara bantuan kerajaan Majapahit tiba di Munaseli tetapi yang mereka temukan hanyalah puing-puing kerajaan Munaseli sedangkan penduduknya telah melarikan diri ke berbagai tempat di Alor dan sekitarnya. Para tentara Majapahit ini akhirnya banyak yang memutuskan untuk menetap di Munaseli, sehingga tidak heran jika saat ini banyak orang Munaseli yang bertampang Jawa. Peristiwa pengiriman tentara Majapahit ke Munaseli inilah yang melatarbelakangi disebutnya Galiau (Pantar) dalam buku Negarakartagama karya Empu Prapanca yang ditulisnya pada masa jaya kejayaan Majapahit (1367). Buku yang sama juga menyebut Galiau Watang Lema atau daerah-daerah pesisir pantai kepulauan. Galiau yang terdiri dari 5 kerajaan, yaitu Kui dan Bunga Bali di Alor serta Blagar, Pandai dan Baranua di Pantar. Aliansi 5 kerajaan di pesisir pantai ini diyakini memiliki hubungan dekat antara satu dengan lainnya. Bahkan raja-raja mereka mengaku memiliki leluhur yang sama.

Pendiri ke 5 kerajaan daerah pantai tersebut adalah 5 Putra Mau Wolang dari Majapahit dan mereka dibesarkan di Pandai. Yang tertua diantara mereka memerintah daerah tersebut. Mereka juga memiliki hubungan dagang, bahkan hubungan darah dengan aliansi serupa yang terbentang dari Solor sampai Lembata. Jalur perdagangan yang dibangun tidak hanya diantara mereka tetapi juga sampai ke Sulawesi, bahkan ada yang menyebutkan bahwa kepulauan kecil di Australia bagian utara adalah milik jalur perdagangan ini. Mungkin karena itulah, beberapa waktu lalu sejumlah pemuda dari Alor Pantar melakukan pelayaran ke pulau Pasir di Australia bagian utara. Laporan pertama orang-orang asing tentang Alor bertanggal 8 – 25 Januari 1522, Pigafetta, seorang penulis bersama awak armada Victoria sempat berlabuh di pantai Pureman, Kecamatan Alor Barat Daya. Ketika itu mereka dalam perjalanan pulang ke Eropa setelah berlayar keliling dunia dan setelah Magelhaen, pemimpin armada Victoria mati terbunuh di Philipina. Pigafetta juga menyebut Galiau dalam buku hariannya. Observasinya yang keliru adalah penduduk pulau Alor memiliki telinga lebar yang dapat dilipat untuk dijadikan bantal sewaktu tidur. Pigafetta jelas telah salah melihat payung tradisional orang Alor yang terbuat dari anyaman daun pandan. Payung ini dipakai untuk melindungi tubuh sewaktu hujan.

Dengan Perjanjian Lisabon pada tahun 1851, kepulauan Alor diserahkan kepada Belanda dan pulau Atauru diserahkan kepada Portugis. Orang-orang Portugis sendiri sebenarnya tidak pernah benar-benar menduduki Alor, walaupun masih ada sisa-sisa dari zaman Portugis seperti sebuah jangkar besar di Alor Kecil. Pada tahun 1911, Pemerintah colonial Belanda memindahkan pelabuhan laut utama dan pusat Pemerintahan Alor dari Alor Kecil ke Kalabahi. Kalabahi dipilih karena datarannya lebih luas dan lautnya lebih teduh. Kota Kalabahi artinya pohon kusambi, yang mana dulunya memang menghutani dataran ini. Dengan pemindahan pusat kekuasaan ke Kalabahi, Pemerintah colonial Belanda menempatkan Mr. Bouman sebagai Kontroler pertama di Alor. Sebelumnya tanda kehadiran colonial belanda di Alor, hanya terdiri dari seorang penjaga pos dan seorang serdadu berpangkat letnan.

Pada masa kontroler Bouman, beberapa pegawai pemerintah Belanda didatangkan. Upaya-upaya mengkristenkan para penganut animismepun mulai dilakukan. Baptisan pertama dilakukan pada tahun 1908 di pantai Dulolong, ketika seorang Pandeta berkebangsaan Jerman, D. S. William Bach tiba dengan sebuah kapal Belanda bernama Canokus, yang oleh orang Alor di zaman itu disebut dengan Kapal Putih. Diantara mereka yang dibaptis terdapat Lambertus Moata dan Umar Watang Nampira, seorang penganut Islam yang taat. Lambertus Moata kemudian menjadi Pendeta Pribumi Alor yang pertama, sedangkan Umar Watang Nampira barangkali bersedia dibaptis untuk menghormati para pengunjung pada saat itu. Gereja pertama yang dibangun adalah Gereja Kalabahi (sekarang Gereja Pola). Gereja ini dibangun pada tahun 1912. Kayu-kayunya didatangkan dari Kalimantan sedangkan pekerjanya adalah Pak Kamis dan Pak Jawas yang beragama Muslim. Oleh karena itu sampai saat ini masih merupakan sesuatu yang umum dilakukan di Alor bahwa pembangunan Gereja dilakukan oleh orang Muslim dan Mesjid dilakukan oleh orang Kristen. Pada masa ini Alor terdiri dari 5 kerajaan, yaitu Kui, Batulolong, Kolana, Baranusa dan Alor. Kerajaan Alor wilayahnya meliputi seluruh jasirah Kabola (bagian utara pulau Alor).

Pada tahun 1912 terjadi pengalihan kekuasaan raja dari dinasti Tulimau di Alor Besar kepada dinasti Nampira di Dulolong. Pemerintah colonial Belanda lebih cenderung memilih Nampira Bukang menjadi raja Alor sebab beliau berpendidikan dan fasih berbahasa belanda. Sebagai kompensasi, putra mahkota Tulimau ditunjuk sebagai kapitan Lembur. Pengalihan kekuasaan ini menyebabkan terjadinya beberapa pemberontakan namun dapat diredam dengan bantuan Belanda, sehingga sehingga secara tidak langsung pengalihan kekuasaan ini telah menjadi bibit salah satu lembaran hitam sejarah Alor dengan terbunuhnya Bala Nampira.

Pada 1915 s/d 1918, Bala Nampira menjadi raja menggantikan ayahnya dan Pada 1918, beliau mati terbunuh di Atengmelang. Penyebab terbunuhnya Raja ini masih diperdebatkan sampai saat ini dan kadang-kadang dapat membangkitkan amarah diantara sesame orang Alor.
Diyakini bahwa anggota-anggota Galiau Watang Lema menganggap pergantian raja sebagai sebuah pelanggaran yang amat berat dalam aliansi mereka oleh karena sekutu dan saudara mereka telah dipermalukan. Sementara itu, di Abui timbul rasa tidak puas dikalanga bangsawan oleh karena mereka diharuskan takluk kepada Pemerintahan Raja Nampira. Beberapa anggota Galiau Watang Lema yang tidak puas dengan pengalihan kekuasaan raja itu menjanjikan sebuah Moko yang bernilai tinggi kepada seorang wanita dari Manet bernama Malailehi apabila dapat membunuh Raja Nampira. Dengan cara ini mereka berniat mengembalikan takhta Bungan Bali ke Alor Besar.

Untuk memulihkan Hukum dan Pemerintahannya di Alor, maka Pemerintah Kolonial Belanda, melalui kontroler Mr. Muller menggunakan strategi yang ampuh, yaitu dengan mengawinkan Putra Nampira dengan Putri Bunga Bali dan berhasil dengan baik karena perdamaianpun tercipta pada saat itu. Pada tahun 1930 an, Pemerintah Kolonial Belanda mulai melakukan pembangunan wilayah. Para isteri pegawai Pemerintah dikirim ke Alor. Kerja sama dengan 5 kerajaan relative baik. Sepanjang jalan utama di tengah kota, rumah-rumah pegawai Pemerintah Kolonial dibangun. Beberapa diantaranya masih dipakai hingga kini. Jalan-jalan dibangun kesegala arah, bahkan saluran airpun dibangun, namun hanya untuk kebutuhan Rumah Sakit dan Pegawai Kolonial Belanda.

Setelah sempat dijajah Jepang dalam Perang Dunia II, kemerdekaan Indonesiapun diproklamirkan. Walau demikian di Alor masih terdapat orang asing. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, sejumlah orang anti wajib militer dan misioneris dating ke Alor dan bekerja sebagai Pendeta, Perawat bahkan Dokter. Diantara mereka terdapat suami-isteri Dokter De Jong yang bekerja di Rumah Sakit Umum Kalabahi. Dalam bukunya “Brieven aan Alor” (Surat-surat ke Alor), Dokter De Jong menceritrakan tentang pengalamannya bekerja di Alor. Menurut ceritra orang Alor, ada salah satu Dokter dari Jerman, Dokter Kleven memberi nama Loni kepada Putrinya sesuai kata “Balalonikai” dalam sebuah lagu lego-lego yang terkenal yaitu “Lendolo”.

 

Arti Logo

Lambang Daerah Kabupaten Alor ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 1975 yaitu, sebagai berikut :

Lambang Daerah berbentuk lukisan “Perisai Segi Lima” dan didalam lukisan Perisai Segi Lima terdapat :

  • Pohon Beringin dan Mesbah,
  • Rumah Adat dan Moko,
  • Pohon Beringin dan Mesbah, Rumah Adat dan Moko dilingkari oleh Untaian Padi, Kelopan dan Bunga Kapas pada ujung-ujung untaian padi dan kelopak serta bunga kapas terdapat Bintang persegi lima serta pangkal-pangkalnya terdapat : tiga lilitan dan pita terbentang dengan tulisan Kabupaten Alor. Panah yang ditempatkan agak melintang memisahkan warna dasar perisai merah Biru.

Lambang dengan tata warna sebagai berikut :

  • Perisai Segi Lima berwarna dasar merah dan biru bergaris pinggir tebal warna hitam.
  • Mesbah berwarna Putih Hitam
  • Beringin Hijau tua dan Pohon berwarna Coklat Tanah.
  • Panah berwarna Hitam.
  • Rumah Adat berwarna Coklat Tua.
  • Moko berwarna Hitam.
  • Untaian Padi berwarna Kuning.
  • Kelopak Kapas berwarna Hijau dan Bunga Kapas berwarna Putih.
  • Bintang Bersudut Lima berwarna Kuning Emas.
  • Pita terbentang berwarna Putih dan Garis Hitam pada pinggir bagian atas.
  • Tiga lilitan tali berwarna Hitam.

Arti Lambang dan Warna 

  • Perisai Segi Lima berwarna dasar merah biru dengan garis pinggir tebal berwarna hitam melukiskan Jiwa Nasionalis masyarakat Kabupaten Alor yang suci dan berani dimana segala usaha ditujukan untuk kepentingan Nasional yang berlandaskan filsafah Pancasila dalam satu kesatuan wawasan Nusantara serta hakekat kesuburan Kabupaaten Alor.
  • Pohon Beringin berwarna hijau tua dengan batang berwarna coklat tanah dan Mesbah berwarna putih hitam yang tidak terpisahkan mencerminkan perlindungan hidup seutuhnya dalam kehidupan rohani dan jasmani dalam ruang lingkup Kabupaten Alor.
  • Rumah Adat berwarna coklat tua dan Moko berwarna hitam juga tidak dapat diartikan secara terpisah-pisah dimana rumah adat temapat simpan benda-benda pusaka dari suatu suku mencerminkan tanda sejarah dan kebudayaan serta bernilai ekonomis.
  • Bintang bersudut lima berwarna kuning emas mencerminkan Ketuhanan Yang Maha Esa berdasarkan falsafah Pancasila yang luhur dan Agung.
  • Panah yang ditempatkan agak melintang memisahkan warna merah dahn biru mencerminkan jiwa dinamika rakyat Kabupaten Alor pada Laut dalam Nusa Tenggara Timur.
  • Untaian padi 20 bunga kapas 12, mesbah susunan batunya berurutan dari atas ke bawah :tebal lurus = 1, deretan batu = 9, deretan batu = 5, deratan batu = 8, melambangkan hari tanggal dan tahun lahirnya Kabupaten Alor yakni 20 Desember 1958.
  • Pita terbentang berwarna putih tertulis Kabupaten Alor dalam warna hitam.
  • Tiga lilitan tali berwarna hitam pada pangka-pangkal untaian padi dan kelopak serta bunga kapas mencerminkan Pulau Alor, Pulau Pantar dan pulau-pulau kecil disekitarnya yang bersatu padu dalam persatuan perjuangan.

Nilai Budaya

TARI LEGO - LEGO

Tari Lego-Lego merupakan tarian tradisional Suku Abui, suku yang mendiami kampung tradisional Takpala, terletak di Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tarian yang merupakan lambang kekuatan persatuan dan persaudaraan warga Suku Abui ini dilakukan secara massal dengan bergandengan tangan dan bergerkan secara melingkar.

 

Para penari memakai busana adat, sementara rambut kaum perempuan dibiarkan terurai. Di kaki para penari dipasang gelang perak yang akan memantulkan bunyi gemerincing jika digerakkan. Tetabuhan gong dan gendang dari kuningan atau moko mengiringi polah para penari yang bergerak rancak sambil mengumandangkan lagu dan pantun dalam bahasa adat setempat. Tari Lego-Lego dilakukan dengan mengelilingi tiga batu bersusun yang disebut mesbah, benda yang disakralkan dalam tradisi Suku Abui. Biasanya, Lego-Lego ditarikan selama semalam suntuk.

MUSEUM SERIBU MOKO 

SEBANYAK 80-90 persen dari 355 item yang dipajang dalam museum ini merupakan hasil koleksi seorang warga keturunan Cina di Kalabahi, Toby Retika. Ketika dia memutuskan untuk meninggalkan Kalabahi, seluruh hasil koleksinya itu diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Alor pada September 2003. Misalnya, ada perahu naga, benda yang sangat penting dan sakral, yang menjadi representasi nenek moyang yang datang menggunakan perahu dan sekaligus tempat pelaksanaan upacara adat. Ada senjata busur dan panah, tenunan daerah, serta koleksi unggulannya, yakni moko.

Inilah museum, barangkali tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia, yang satu-satunya berambisi mengoleksi moko dalam jumlah banyak. Sudah ada satu moko paling besar dan 23 moko kecil. Berharap pada potensi budaya suku-suku di Alor, museum ini berambisi mengoleksi moko hingga 1.000 atau lebih. Orang Alor menyebut moko sebenarnya tidak lain untuk menamai nekara perunggu pada umumnya. Di museum ini satu-satunya moko yang paling besar tadi malah disebut moko nekara, sedangkan moko-moko kecil lainnya diberi nama berdasarkan ornamen atau hiasannya. Moko nekara merupakan salah satu hasil kebudayaan perundagian (zaman perunggu) yang digunakan masyarakat sebagai alat upacara. Nekara bertipe Heger I ini ditemukan oleh Simon J Oil Balol di dalam tanah di Desa Kokar, Alor Barat Laut, berdasarkan petunjuk mimpi. Jeskiel Nanggi, Kepala Museum Seribu Moko, mengatakan, berdasarkan petunjuk mimpi itu, saat bangun keesokan harinya, tepatnya 20 Agustus 1972, Simon menggali di tempat yang telah dibayangkan dalam mimpi. "Ternyata mereka menemukan moko nekara ini, lalu diangkat dengan sebuah upacara adat," katanya.

 

Berat nekara itu belum pernah ditimbang. Dari fisiknya, moko ini didesain menyerupai gendang atau tambur menurut sebutan masyarakat Alor. Bagian atasnya datar atau rata, di tengah-tengahnya gambar bintang, dan di tepi diberi pemanis berupa empat patung kodok (tetapi satu di antaranya telah hilang). Di bagian badan terdapat empat telinga, yakni dua di bagian kanan dan dua di kiri. Jeskiel tidak bisa menjelaskan makna moko dalam desain seperti itu. Moko nekara ini digunakan untuk pesta-pesta adat dan dijadikan semacam rebana atau induk gendang. Setelah penemuan di Kokar tadi, sekitar tahun 1976, nekara dibawa ke Kupang untuk dipajang di Museum Negeri Kupang. Akan tetapi, ketika Pemerintah Kabupaten Alor berniat membangun museum khusus menempatkan moko sebagai item unggulannya, nekara dibawa pulang ke Kalabahi per Februari 2004.

Selain moko nekara yang ditempatkan di tengah-tengah museum, di sekitarnya dipajang pula secara berderet 23 moko ukuran kecil, setinggi tiga atau empat jengkal orang dewasa. Misalnya, ada moko "pung lima anak panah" yang biasanya digunakan sebagai mas kawin dalam budaya Pantar. Ada moko jawa telinga utuh cap bintang dan cap satu bunga, ada moko belektaha cap bengkarung, ada moko malayfana palili dari Alor Timur, moko makassar bunga kemiri tangan panjang, moko aimala kumis besar. Sisanya, antara lain, moko cap naga, bulan, paria, dan cap rupa-rupa simbol lainnya.


Hampir pasti tidak ada masyarakat adat di negeri ini yang mengoleksi moko dalam jumlah banyak seperti suku-suku di Alor. Dalam sejarah peradaban suku-suku di sini, moko digunakan sebagai belis, atau mahar, atau mas kawin. Hingga kini, adat menjadikan moko sebagai mahar masih terus berlangsung. Dalam masyarakat adat Pantar Barat, misalnya, kata Jeskiel, kalau yang meminang adalah anak raja atau keturunan raja, darah biru, tokoh terhormat di masyarakat, dan gadis yang dipinang pun demikian, mas kawinnya berupa belasan moko. "Moko adalah simbol kehormatan dan kesetiaan cinta," tutur Jeskiel.

SAMPAI saat ini masih banyak suku yang menyimpang moko itu untuk kepentingan adat perkawinan. Namun, karena sudah banyak juga yang dibawa ke luar dari Alor oleh para pemburu barang antik, terutama ke Denpasar dan luar negeri, diperkirakan hanya suku-suku tertentu yang memiliki.

Lima wilayah potensial yang menyimpan moko ialah Alor Timur, Alor Selatan, Alor Barat Daya, Alor Barat Laut, dan Pantar. Klan atau suku yang masih menetapkan mas kawin dengan moko misalnya Suku Darang (Raja), Tawaka, Kalondama, Kawali, dan Balomasali. Tinggi rendahnya status sosial dinilai oleh banyaknya moko yang disanggupi saat membayar mas kawin. Seorang anak keturunan raja ketika ditetapkan membayar, misalnya, 10 moko, tetapi kenyataannya menyanggupi lima buah dan selebihnya disubstitusikan dengan uang akan berbeda penilaiannya.


Kata Jeskiel, moko memang diwajibkan sebagai mas kawin. Namun, kini sudah ada keputusan para tetua adat di Alor, paling tinggi hanya dua moko yang diwajibkan untuk dipenuhi seorang pria sebagai mas kawin. Tidak boleh kurang, boleh lebih, tetapi tidak diwajibkan untuk lebih dari dua moko. Sebenarnya, keputusan itu dapat menguntungkan Museum Seribu Moko jika gesit memburunya ke berbagai wilayah. Hal itu agar warga yang menyimpan lebih dari dua atau tiga moko dapat menyerahkan kelebihannya itu kepada museum moko karena dikhawatirkan akan diselundupkan ke luar daerah. Moko penting karena merefleksikan jalinan asmara, ikatan cinta antara seorang pemuda dan gadis dari berbagai suku di Alor. Jika ingin mendalami adat perkawinan Alor, saksikan moko di museum 

back