Kabupaten

Kabupaten NGADA

Profil | Sejarah | Arti Logo | Nilai Budaya

Profil

Nama Resmi:Kabupaten Ngada
Ibukota:Bajawa
Provinsi :NUSA TENGGARA TIMUR
Baras Wilayah:
  • Sebelah Timur dengan Kabupaten Nagekeo
  • Sebelah Barat dengan Kabupaten Manggarai Tmur
  • Sebelah Utara dengan Laut Flores
  • Sebelah Selatan dengan Laut Sawu.
  • Luas Wilayah:

    1.645,88 Km2

    Jumlah Penduduk:

    132.716 Jiwa

    Wilayah Administrasi:

    Kecamatan: 9, Kelurahan: 16, Desa : 107

    Website:

    http://www.ngadakab.go.id

     

    (Permendagri No.66 Tahun 2011)

    Sejarah

    Kabupaten Ngada terbentuk pada tahun 1958, melalui Undang-undang No. 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II dalam Wilayah Daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Kabupaten ini merupakan gabungan 3 (tiga) buah Swapraja yaitu Swapraja Ngadha, Swapraja Nagekeo dan Swapraja Riung sehingga corak budaya dan ragam sosial yang dimiliki sangat bervariasi yang juga memberikan ciri dan corak khusus pada perilaku masyarakatnya. Dari aspek historis pemerintahan, sebelum pembentukan Desa-desa gaya baru, wilayah jenjang pemerintahan di Kabupaten Ngada dikenal Swapraja dengan membawahi beberapa hamente sebagai berikut:

    a. Swapraja Ngada terdiri dari 10 Hamente :

     1) Ngada Bawa 4) Inerie II 7) Mangulewa10) Kombos 
     2) Wogo 5) Naru 8) Soa 
     3) Inerie I 6) Langa 9) Susu 
     
    b. Swapraja Nagekeo terdiri dari 18 Hamente :

     

     1) Boawae 5) Munde 9)  Lejo 13) Munde17)  Sawu
     2) Deru Rowa 6) Riti 10) Kelimado 14) Keo Tengah 18) Rendu
     3) Raja 7) Tonggo 11) Maukeli 15) Pautola 
     4) Dhawe 8) Wolowae 12) Ndora 16) Nataia 

    {mospagebreak}

    c. Swapraja Riung terdiri dari 3 Hamente :

    1. Riung
    2. Tadho
    3. Lengkosambi
            Keberadaan 3 buah Swapraja dengan 33 buah hamente dengan jumlah dan penyebaran penduduk di atas wilayah dengan kondisi geografis yang bergunung dan lembah turut membentuk pola dan perilaku masyarakat/penduduk Kabupaten Ngada sangat heterogen. Keadaan yang demikian heterogen baik menyangkut manusia, pola dan tingkah lakunya, keadaan tanah dan kesuburan serta keadaan sosial budaya, memberikan dan membutuhkan pola dan warna tersendiri dalam pelaksanaan dan berbagai pendekatan pelayanan kepemerintahan.
        Sejarah pembentukan Kecamatan di Kabupaten Ngada berdasarkan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur tanggal 28 Pebruari 1962, Nomor : Pem.66/1/2 tentang Pembentukan 64 buah Kecamatan dalam Provinsi Nusa Tenggara Timur, maka daerah Kabupaten Ngada dibagi atas 6 kecamatan yaitu :
    a). Kecamatan Ngada Utara.
    b). Kecamatan Ngada Selatan.
    c). Kecamatan Nage Utara.
    d). Kecamatan Nage Tengah.
    e). Kecamatan Keo.
    f). Kecamatan Riung.
     
        Selanjutnya dengan keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur tanggal 20 Mei 1963 Nomor Pem. 66/I/32 tentang Pemekaran Kecamatan Keo menjadi Kecamatan Mauponggo dan Kecamatan Nangaroro, maka jumlah Kecamatan dalam Daerah Kabupaten Ngada menjadi 7 buah, dan dengan Keputusan yang sama terdapat perubahan nama kecamatan dalam Daerah Tingkat II Ngada yaitu :
    1). Kecamatan Ngada Utara menjadi Kecamatan Bajawa.
    2). Kecamatan Ngada Selatan menjadi Kecamatan Aimere.
    3). Kecamatan Nage Tengah menjadi Kecamatan Boawae.
    4). Kecamatan Nage Utara menjadi Kecamatan Aesesa.
      
        Demi kelancaran jalannya roda pemerintahan serta memperhatikan keinginan masyarakat setempat, maka dengan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur tanggal 6 Juli 1967 Nomor Pem. 66/I/32, maka dari sebagian wilayah Kecamatan Bajawa dan Kecamatan Aimere dibentuk sebuah Kecamatan yang bernama Wogo Mangulewa. Sehingga dari dua Kecamatan tersebut (Kecamatan Bajawa dan Kecamatan Aimere) menjadi tiga buah kecamatan yaitu Kecamatan Bajawa, Kecamatan Aimere dan Kecamatan Wogo Mangulewa. Dengan penambahan sebuah Kecamatan tersebut, maka jumlah Kecamatan dalam Kabupaten Daerah Tingkat II Ngada menjadi 8 buah. Kecamatan Wogo Mangulewa ini diresmikan pada tanggal 17 Agustus 1967.
    Dalam perkembangan selanjutnya terjadi perubahan yakni melalui Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Ngada Nomor 3 tahun 1970 nama Kecamatan Wogo Mangulewa ini lebih disingkat dengan sebutan Kecamatan Golewa. Berdasarkan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur tanggal 7 Pebruari 1970 Nomor 19 tahun 1970, terbentuklah Koordinator Pemerintahan Kota (Kopeta) Bajawa dalam Kabupaten Daerah Tingkat II Ngada, yang berpusat di Bajawa dengan scope wilayah yang meliputi Desa Bajawa, Djawameze, Kisanata, Tanalodu, Ngedukelu dan Trikora. Koordinator Pemerintahan Kota Bajawa ditingkatkan statusnya menjadi Kecamatan penuh dengan nama Kecamatan Ngada Bawa (definitif) sesuai dengan PP Nomor 29 Tahun 1992 tentang Pembentukan 6 Kecamatan di Wilayah Propinsi NTT. Selanjutnya untuk maksud efektifitas dan efisiensi pelayanan maka pada tanggal 16 Juli 1970 berdasarkan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur Nomor 47 tahun 1970 maka dalam Kabupaten Daerah Tingkat II Ngada dibentuk pula 2 (dua) Perwakilan Kecamatan yakni Perwakilan Kecamatan Aesesa di Kaburea, dan Perwakilan Kecamatan Bajawa di Soa/Waepana.
        Melalui Perda Ngada Nomor 19 Tahun 2000 tentang Pembentukan Kecamatan Soa dan Kecamatan Wolowae di wilayah Kabupaten Ngada, maka kedua perwakilan kecamatan tersebut ditingkatkan statusnya menjadi Kecamatan definitif pada tahun 2000. Karena semakin meningkatnya perkembangan kota dan dinamika masyarakat serta aspirasi yang berkembang maka pada tahun 2002, melalui Perda Ngada Nomor 9 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kecamatan Jerebuu, Keo Tengah dan Riung Barat dibentuk lagi 3 kecamatan baru dalam wilayah Kabupaten Ngada. Selanjutnya Pemerintah kembali merespon kehendak masyarakat yang menghendaki pembentukan Kecamatan Wolomeze dan Aesesa Selatan yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Ngada Nomor 1 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Ngada Nomor 5 Tahun 2004 tentang Pembentukan Kecamatan Riung Selatan dan Aesesa Selatan di wilayah Kabupaten Ngada.
           Permasalahan khas dalam pelaksanaan pemerintahan yang dihadapi Kabupaten Ngada adalah beragam keadaan sosial budaya masyarakatnya dimana setiap swapraja berbeda antara satu dengan yang lainnya, sehingga perlu pendekatan dan pembinaan secara terus menerus agar perbedaan sosial budaya yang cenderung mengarah ke iklim primordialisme dapat dihilangkan secara perlahan. Di samping itu, keadaan topografi yang bergunung dan berbukit terjal serta rawan erosi dan bencana alam lainnya di beberapa wilayah Kecamatan dan Desa merupakan masalah lainnya yang selalu menyertai setiap upaya/usaha Pemerintah dan rakyat Kabupaten Ngada dalam mengatasi kendala perhubungan/transportasi darat, sehingga masih terdapat beberapa desa yang masih tertutup/terisolir. Sebagai bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Ngada senantiasa diarahkan dan harus merupakan pelaksanaan pembangunan dalam konteks Negara kesatuan. Dalam kaitan dimaksud maka Pembangunan sektor dan daerah harus saling melengkapi sehingga tujuan bersama yakni kemandirian dan kesejahteraan masyarakat dapat segera terwujud.

     

    Arti Logo

    Penjelasan Lambang Daerah Kabupaten Ngada
    Bentuk Lambang :
    Bentuk Lambang Daerah Kabupaten Ngada Perisai bersisi Lima yang mengandung arti sebagai berikut :
    1. Perisai adalah alat perlindungan rakyat.
    2. Sisi Lima melambangkan Pancasila sebagai Dasar Negara.
     Warna dan Isi Lambang :
    Tata (susunan) Warna Lambang berupa hijau, kuning, hitam dan putih yang mempunyai arti :
    1. Hijau : adalah harapan/dambaan akan kejayaan.
    2. Kuning : adalah keagungan/kejayaan/keluhuran.
    3. Hitam : adalah keteguhan/keabadian.
    4. Putih : adalah kemurnian hati nurani rakyat.
    Arti Gambar Lambang :
    Lambang Daerah Kabupaten Ngada berisi :
    1. Bintang berwarna Emas melambangkan ke-Tuhanan sesuai Sila Pertama Pancasila.
    2. Peo / Ngadhu melambangkan persatuan/Kesatuan Ngada.
    3. Padi dan Kapas, melambangkan kemakmuran/kesejahteraan rakyat.
    4. Dua puluh butir padi, dua belas kuntum kapas, lima batu cadas dan delapan batu bawah adalah melambangkan saat terbentuknya Daerah Kabupaten Ngada : 20 - 12 - 1958.
    5. Tiga cincin menggambarkan tiga kesatuan Adat Ngada, Nagekeo dan Riung yang bersatu-padu di atas mana terbentuknya Kabupaten Ngada.
    6. Di bawah Bintang bertulis NGADA yaitu nama dari Kabupaten Ngada.

     

    Nilai Budaya

    Kampung Adat Bena

    Bena adalah sebuah kampung tradisional yang terletak di desa Tiworiwu Kecamatan Jerebuu, 18 km arah selatan dari Kota Bajawa. Di kampung ini dapat dijumpai berbagai bangunan tradisional seperti : Rumah Adat, Ngadhu, Bhaga, yang masing-masing merupakan simbol leluhur laki-laki dan perempuan serta lambang persatuan dan kesatuan masing-masig suku. Selain itu juga dijumpai bangunan Megalith berupa Ture dan Nabe yang kondiinya masih tetap utuh.  

    Sagi / Etu

    Etu adalah tinju tradisional khas Ngada yang biasa dilaksanakan pada musim panas, antara bulan Mei sampai dengan Agustus setiap tahun.

    Budaya Etu biasa dilaksanakan oleh masyarakat di Kecamatan Soa dan juga di Kecamatan Golewa yaitu di kampung Ngorabolo Desa Takatunga. Malam menjelang kegiatan tinju tradisional ini pentaskan, dilaksanakan upacara penyambutan tamu dan ritual lainnya untuk memohon perlindungan dan dukungan para leluhur aa kegiatan Etu terselenggara secara baik dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti cedera berat maupun kematian.

    Jalannya Pertarungan

    Kedua petarung dan masing-masing pembantu yang dinamakan sike, maju bertarung secara jantan di tenga arena, diiringi dengan tabuhan gong gendang dan pantun berbalas pantun untuk meningkatkan keberanian kedua petinju yang dilaksanakan oleh pemuka adat dari kedua pihak yang bertarung. Setiap ronde berlangsung selama 3 menit dan waktu jedah 1 menit,  selama 1 menit. Selesai bertarung setelah wasit mengumumkan pemenangnya kedua petarung berangkulan dengan penuh sportifitas sebagai tanda perdamaian.

    Masyarakat Soa menamakan tinju tradisional tersebut dengan sebutan Etu sedangkan sebagian mayarakat Kecamatan Golewa menamakannya Sudu.

     

    Jadwal pelaksanaan Etu adalah sebagai berikut :

    • Bulan Maret dilaksanakan di: Solo Kecamatan Boawae dan Mengeruda Kecamatan Soa.
    • Bulan April dilaksanakan di : Piga Kecamatan Soa.
    • Bulan Mei dilaksanakan di : Lade-Tarawaja Kecamatan Soa, Nio-Masumeli Kecamatan Soa, Masu-Masumeli Kecamatan Soa.
    • Bulan Juni dilaksanakan di : Boawae - Natanage Kecamatan Boawae, Natalea - Raja Kecamatan Boawae, Boamuzi - Masumeli Kecamatan Soa, Loa Kecamatan Soa, Takatunga Kecamatan Golewa, Sarasedu Kecamatan Golewa.

    Caci

    Caci merupakan tarian perang untuk melatih ketangkasan, yang diperagakan untuk memeriahkan perayaan syukur panen oleh kesatuan etnis Riung, dengan kegiatan mencambuk lawan dengan cemeti, dan ditangkis oleh lawan dengan sebuah perisai.

    Jadwal kegiatan Caci ini biasa dilaksanakan sekitar bulan Agustus sampai bulan Oktober dengan jadwal sebagai berikut :

    • Bulan September dilaksanakan di Mbazang - Benteng Tengah Kecamatan Riung.
    • Bulan September dilaksanakan di: Lindi - Benteng Tawa Kecamatan Riung, Damu-Benteng Tawa Kecamatan Riung Alowulan Benteng Tawa Kematan Riung.
    • Bulan Oktober dilaksanakan di Natarandang - Denatana Kecamatan Soa, Wangka Kecamatan Riung.

    Tanggal pelaksanaan Reba, Tinju Tradisional dan Caci umumnya berubah-ubah karena setiap kali akan dilaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut harus ditetapkan oleh tokoh-tokoh adat melalui tatacara perhitungan tradisional.

     

    Reba

    Reba merupakan upacara pembukaan tahun baru adat yang biasanya dirayakan oleh masyarakat dari etnis Ngada yang mendiami wilayah kecamatan Ngada Bawa, Bajawa, Golewa dan Aimere. Jadwal pelaksanaan Reba tersebut adalah :

    • Awal bulan  Desember dilaksanakan di: Sadha, Doka Kecamatan Golewa, kurang lebih 25 Km arah selatan kota Bajawa).
    • Bulan Januari dilaksanakan di: Nage-Dariwali Kecamatan Aimere, Wogo- Ratogesa Kecamatan Golewa, Langa-Beja Kecamatan Bajawa, Beiposo- Wawowae Kecamatan Bajawa.
    • Bulan Pebruari dilaksanakan di: Deru-Nenowea Kecamatan Jerebuu, Mangulewa Kecamatan Golewa, Turekisa-Sobo Kecamatan Golewa, Gisi-Liba Kecamatan Golewa.
    • Bulan Desember dilaksanakan: di Bena - Tiworiwu di Kecamatan Aimere.

    Ja'i

    • Jai adalah nama salah satu Tarian Khas suku Ngadha.

    Kampung Wogo

    Kampung Tradisional Wogo terletak di Kecamatan Golewa 17 km arah Timur dari kota Bajawa. Di kampung ini ditemukan berbagai bangunan adat antara lain : Rumah Adat, Ngadhu, Bhaga. Kompleks Megalithnya dapat dijumpai di bekas kampung lama kurang lebih 1 km dari kampung baru sekarang. Pada kompleks Megalith ini masih dapat dijumpai bangunan Megalith dengan luas kurang lebih 2 ha. Batu Megalith setinggi 12 m yang oleh masyarakat Wogo disebut Watu Tuke Lizu (Batu Penopang Langit) hingga kini masih kokoh berdiri di tengah kampung Wogo lama.

     

     

     

     

     

     

    back