Kabupaten

Kabupaten MANGGARAI BARAT

Profil | Sejarah | Arti Logo | Nilai Budaya

Profil

Nama Resmi

:

Kabupaten Manggarai Barat

Ibukota :Labuan Bajo
Provinsi :NUSA TENGGARA TIMUR
Baras Wilayah:Utara: Laut Flores
Selatan: laut Sawu
Barat: Provinsi Nusa Tenggara Barat
Timur: Kabupaten Manggarai
Luas Wilayah:

2.397,03 Km2

Jumlah Penduduk:

207.822 Jiwa

Wilayah Administrasi

Website

:

 

:

Kecamatan: 10, kelurahan : 5, desa 116

 

http://www.manggaraibaratkab.go.id/

 

(Permendagri No.66 Tahun 2011)

 

 


 

Sejarah

Jaman Pra- Sejarah

 
Berdasarkan penyelidikan para arkeolog & ethnograf di Manggarai (termasuk Manggarai Barat) telah ditemukan beberapa jejak kehidupan purba, antara lain dapat dilihat dari pola perkampungan masyarakat purba dan penemuan fosil purba di beberapa tempat di Manggarai dan Manggarai Barat.

Pola perkampungan masyarakat purba Manggarai. Dalam perkampungan purba selalu ditemukan unsur zaman batu. Fenomena tehnologi purba, bagaimana orang zaman dahulu kala membangun mosaik hidup dan kehidupannya dengan unsur batu sebagai fondasi pola perkampungan, serta khusus untuk Compang yang dihayati sebagai mesbah persembahan. Dari konstruksi perkampungannya sendiri bisa dilihat, selain ‚’’Compang’’‚ ’’Natas’’, ’’Like’’ dan ’’Porong Telo’’ misalnya, dibangun dari susunan batu-batu sangat rapih. Bagian yang dibangun agak bertahap adalah bangunan Compang. Compang merupakan tempat sesajian kepada arwah yang pada umumnya terletak di tengah halaman kampung. Compang berbentuk bundar menyerupai meja persembahan, terbuat dari tumpukan batu. Pada umumnya di tengah Compang tumbuh dadap (kalo), namun dibeberapa tempat ditemukan pohon beringin (langke). Bangunan Compang pada saat ini dapat ditemukan di Compang Ruteng Pu’u, Compang Wae Rebo, Compang Cibal, Compang Mano dan Compang Pacar Pu’u dan masih ada dibeberapa tempat yang lain. Sebagian besar Compang terletak di wilayah Kabupaten Manggarai, hanya Compang Pacar Pu’u yang terletak di Kabupaten Manggarai Barat.

 

 

Binatang peninggalan zaman purba. Salah satu bukti prasejarah yang masih ada sampai sekarang di Manggarai Barat adalah satwa Komodo (Varanus komodoensis). Komodo merupakan kadal tertua yang masih hidup. Nenek moyang langsung dari komodo (Famili Varanidae) hidup pada 50 juta tahun yang lalu. Komodo barangkali sudah merupakan keturunan dari kadal yang lebih besar (Megalania presca) dari Jawa atau Australia yang hidup 30.000 tahun yang lalu. Komodo mungkin berasal dari Asia atau Australia. Sebuah teori mengatakan bahwa komodo berpindah dari Pulau Jawa ke Pulau Komodo. Teori lain mengatakan bahwa komodo berenang dari Australia ke Pulau Timor, selanjutnya berpindah dari pulau ke pulau hingga mencapai Flores. Kira-kira 18.000 tahun lalu tingkat permukaan air diperkirakan lebih rendah 85 meter dibandingkan sekarang. Karena bagian landai yang lebih dangkal dari pulau sering terpapar dan kering, maka komodo dapat dengan mudah berpindah dari Flores ke Rinca dan Komodo. Pada saat ini, Komodo dapat ditemui di Pulau Komodo, Pulau Rinca, Gili Motang, dan sebagian kecil di utara dan barat Pulau Flores.

 

 

SEJARAH PULAU FLORES

Nama Pulau Flores berasal dari Bahasa Portugis “Copa de Flores” yang berarti “ Tanjung Bunga”. Nama ini diberikan oleh S.M.Cabot untuk menyebut wilayah paling timur dari Pulau Flores. Nama ini secara resmi dipakai sejak tahun 1636 oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Hendrik Brouwer. Nama Flores sudah dipakai hampir empat abad. Lewat sebuah studi yang cukup mendalam Orinbao (1969) nama asli Pulau Flores adalah Nusa Nipa yang berarti Pulau Ular.


Sejarah masyarakat Flores menunjukkan bahwa pulau ini dihuni oleh berbagai kelompok etnis. Masingmasing etnis menempati wilayah tertentu lengkap dengan pranata sosial budaya dan ideologi yang mengikat anggota masyarakatnya secara utuh (Barlow, 1989; Taum, 1997b). Ditinjau dari sudut bahasa dan budaya, etnis di Flores (Keraf, 1978; Fernandez, 1996) adalah sebagai berikut:

  • Etnis Manggarai - Riung (yang meliputi kelompok bahasa Manggarai, Pae, Mbai, Rajong, dan Mbaen);

  • Etnis Ngadha-Lio (terdiri dari kelompok bahasa-bahasa Rangga, Maung, Ngadha, Nage, Keo, Palue, Ende dan Lio);

  • Etnis Mukang (meliputi bahasa Sikka, Krowe, Mukang dan Muhang);

  • Etnis Lamaholot (meliputi kelompok bahasa Lamaholot Barat, Lamaholot Timur, dan Lamaholot Tengah);

  • Etnis Kedang (yang digunakan di wilayah Pulau Lembata bagian selatan).

Masyarakat Manggarai Barat merupakan bagian dari masyarakat Manggarai. Pada zaman reformasi, Manggarai mengalami perubahan, dengan melakukan pemekaran wilayah menjadi Manggarai dan Manggarai Barat. Perubahan ini terjadi pada tahun 2003. Pemekaran wilayah ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Sehingga secara historis antara masyarakat Manggarai dan Manggarai Barat tidak dapat dipisahkan diantara keduanya.


Masyarakat Manggarai (termasuk masyarakat Manggarai Barat) merupakan bagian dari enam kelompok etnis di Pulau Flores seperti diuraikan di atas. Manggarai adalah bagian dari Manggarai-Riung. Dalam masyarakat tradisional Manggarai termasuk Manggarai Barat terdiri dari 38 kedaluan (hameente), yakni: Ruteng, Rahong, Ndoso, Kolang, Lelak, Wotong, Todo, Pongkir, Pocoleok, Sita, Torokgolo, Ronggakoe, Kepo, Manus, Rimu, Welak, Pacar, Reho, Bari, Pasat, Nggalak, Ruis, Reo, Cibal, Lambaleda, Congkar, Biting, Pota, Rembong, Rajong, Ngoo, Mburak, Kempo, Boleng, Matawae, Lo’o dan Bajo. Dari setiap kedaluan bersemi mitos atau kisah kuno mengenai asal usul leluhurnya dengan banyak kesamaan, yaitu bagaimana nenek moyangnya datang dari laut/seberang, bagaimana nenek moyangnya turun dari gunung, menyebar dan mengembangkan hidup dan kehidupan purbanya serta titisannya.
 

Manggarai (termasuk Manggarai Barat) Sampai Abad XIX
 

Seperti daerah lain di NTT, Manggarai juga mendapat pengaruh pengembaraan dari orang-orang dari seberang, seperti Cina, Jawa, Bugis, Makasar, Belanda dan sebagainya.

 

Cina

Pengaruh Cina cukup kuat dan merata di seluruh propinsi NTT. Di Manggarai, pengaruh Cina dibuktikan dengan ditemukannya barang-barang Cina seperti guci, cermin, perunggu, uang cina dan sebagainya. Pengaruh Cina dimulai sejak awal masehi. Dari benda-benda yang ditemukan di Warloka terdapat sejumlah benda antik dari Dinasti Sung dan Ming, dibuat antara tahun 960 sampai tahun 1644.


Jawa

Pengaruh Jawa terutama berlangsung pada masa Hindu. Di Timo, pada tahun 1225 telah ada utusan dari Jawa. Diberbagai daerah di NTT ditemukan mitos mengenai Madjapahit. Sedangkan di Manggarai, label Jawa jadi toponimi di beberapa tempat, seperti Benteng Jawa.

 

Bugis, Makasar, Bima.

Pengaruh Bugis, Makasar di NTT termasuk luas, di Flores, Solor, Lembata, Alor dan Pantar.

Kesultanan Goa. Sekitar tahun 1666, orang-orang Makasar, Sultan Goa, tidak hanya menguasai Flores Barat bagian selatan, tetapi juga seluruh Manggarai. Mereka menyetorkan upeti / pajak ke Sultan Goa. Kesultanan Goa berjaya di Flores sekitar tahun 1613 –1640. Pengaruh Goa nampak diantaranya pada budaya baju bodo dan pengistilahan Dewa Tertinggi Mori Kraeng. Dalam peristilahan harian, kata Kraeng dikenakan bagi para ningrat. Istilah tersebut mengingatkan gelar Kraeng atau Daeng dari gelar kebangsawanan di Sulawesi Selatan.


Kesultanan Bima. Pada tahun 1722, Sultan Goa dan Bima berunding. Hasil perundingan, daerah Manggarai diserahkan kepada Sultan Bima sebagai mas kawin. Sementara itu, di Manggarai muncul pertentangan antara Cibal dan Todo. Tak pelak, meletus pertempuran di Reok dan Rampas Rongot atau dikenal dengan Perang Rongot, yang dimenangkan Cibal. Pertentangan antara Cibal dan Todo, kemudian melahirkan Perang Weol I, Perang Weol II dan Perang Bea Loli (Wudi). Perang Weol Ikemenangan di pihak Cibal. Tetapi dalam perang Weol II dan Perang Bea Loli, Cibal mengalami kekalahan. Bima saat itu membantu Todo. Kenyataan ini mengkokohkan posisi Bima di Manggarai, hingga masuknya pengaruh ekspedisi Belanda pertama tahun 1850 dan ekspedisi kedua tahun 1890 dibawah pimpinan Meerburg. Ekspedisi yang terakhir pada tahun 1905 dibawah Pimpinan H.Christofel. Kehadiran Belanda di Manggarai, membuahkan perlawanan sengit antara Belanda dan rakyat Manggarai di bawah Pimpinan Guru Amenumpang yang bergelar Motang Rua tahun 1907 dan 1908. Namun sebelum menghadapi perlawanan Motang Rua, Belanda mendapat perlawanan dari Kraeng Tampong yang akhirnya tewas ditembak Belanda dan dikuburkan di Compang Mano.

 

Selain Kesultanan Goa dan Bima,

Kerajaan lain yang pernah berkuasa di Manggarai adalah Kerajaan Cibal, Kerajaan Lambaleda, Kerajaan Todo, Kerajaan Tana Dena dan Kerajaan Bajo. Pada saat ini bukti serajah tentang kerajaan tersebut yang masih tersisa adalah Kerajaan Todo, walaupun kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Referensi tentang penelusuran tentang kerajaan-kerajaan Manggarai sulit untuk didapatkan.


Belanda.

Pengaruh Belanda ada sejak adanya 3 kali ekspedisi Belanda ke Manggarai, yaitu tahun 1850,1890, dan tahun 1905. Pengaruh Belanda di Manggarai terutama pada didirikannya sekolah-sekolah dan agama Katolik.


Penyebaran agama Islam

Pada abad ke-16, Belanda berekspansi ke Flores Barat untuk menguasai Manggarai. Penguasaan Manggarai tidak dilakukan secara langsung oleh Belanda, tetapi melalui Kerajaan Goa yang berkedudukan di Makasar. Jadi, Manggarai di bawah kekuasaan Kerajaan Goa. Saat itu orang orang Sulawesi memang telah memeluk agama Islam. Kehadiran Kerajaan Goa di Manggarai tidak menyebarkan agama. Kerajaan Goa hanya menjalankan pemerintahan yang digariskan Belanda. Meski demikian, secara kultural, simbol-simbol islamik dan doa-doa tradisional, khususnya, banyak dipengaruhi tradisi islamik Goa dan Bima. Ada beberapa istilah yang sama antara orang Sulawesi, Bima, dan Manggarai, atau kemungkinan istilah itu berasal dari bahasa Makasar-Bugis, seperti kraeng sebagai gelar bangsawan di wilayah Kerajaan Goa. Istilah itu digunakan pula untuk gelar bangsawan di Manggarai sampai sekarang. Mori, sengaji yang berarti Tuhan dalam bahasa Goa, juga mengandung arti yang sama di Manggarai. Kata kreba (kabar), rodong (sejenis kerudung yang hanya dipakai wanita), sa dako (sedikit atau segenggam), sebuah istilah yang biasa merujuk pada perilaku adil terhadap sesama. Selain itu, dikenal pula simbol-simbol dalam cara berpakaian. Orang Manggarai, terutama kaum pria, hanya merasa sah atau percaya diri, jika ia mengenakan peci hitam. Peci dan sarung sebagai pakaian resmi yang biasa digunakan dalam penampilanpesta atau acara ritual, termasuk mengikuti ritual misa di gereja. Cara berpakaian dan jenis pakaian seperti menjadi lambang kemanggaraian. Dari ciri kultural tersebut, orang Manggarai lebih dekat dengan Sape dan Bima di Nusa Tenggara Barat ketimbang suku bangsa Ngada, atau Ende, atau suku bangsa lain di Flores. Ditemukan pula gejala parabahasa untuk berdoa secara islamik.


Penyebaran agama Katholik Roma.

Kristianitas, khususnya Katholik, sudah dikenal penduduk Pulau Flores sejak abad ke-16. Tahun 1556 Portugis tiba pertama kali di Solor. Tahun 1561 Uskup Malaka mengirim empat misionaris Dominikan untuk mendirikan misi permanen di sana. Tahun 1566 Pastor Antonio da Cruz membangun sebuah benteng di Solor dan sebuah Seminari di dekat Kota Larantuka. Tahun 1577 saja sudah ada sekitar 50.000 orang Katolik di Flores (Pinto, 2000: 33-37). Kemudian tahun 1641 terjadi migrasi besar besaran penduduk Melayu Kristen ke Larantuka ketika Portugis ditaklukkan Belanda di Malaka. Sejak itulah kebanyakan penduduk Flores mulai mengenal kristianitas, dimulai dari Pulau Solor dan Larantuka di Flores Timur kemudian menyebar ke seluruh daratan Flores (termasuk ke daerah Manggarai dan Manggarai Barat) dan Timor. Dengan demikian, berbeda dari penduduk di daerah-daerah lain di Indonesia, mayoritas masyarakat Pulau Flores memeluk agama Katholik. Penyebaran ini banyak dilakukan melalui peningkatan pendidikan masyarakat.

 

Gereja di Biara Ursulin, Stella Maris,
Labuan Bajo

 

Masjid Al-Falah di Labuan Bajo

Arti Logo

Deskripsi Lambang Daerah :

  • Lambang Daerah berbentuk perisai bersegi lima dengan ukuran yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan

  • Lambang Daerah diberi tulisan “ Kabupaten Manggarai Barat” dan “2003”

  • Lambang Daerah memuat lukisan, yang terdiri dari Lukisan Rumah Adat, Biawak Komodo, Tangga, Padi dan Kapas, dan Bintang. Lukisan tersebut diberi warna, yakni warna kuning muda, kuning emas, hijau dan biru muda

Makna lukisan tersebut adalah sebagai berikut :

  • Bintang : melambangkan iman dan taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa sebagai sumber dari segala sumber hidup

  • Rumah Adat : melambangkan persatuan yang kokoh

  • Biawak Komodo : melambangkan masyarakat Manggarai Barat yang selalu siap dan tanggap terhadap akselerasi pembangunan dengan tetap berpijak pada adat dan kebudayaan rakyat Manggarai Barat

  • Tangga : melambangkan tahapan dan tingkatan kehidupan masyarakat yang terus berkembang

  • Padi dan Kapas : melambangkan kesuburan dan kesejahteraan
    Butir Padi sebanyak 17 (tujuh belas) melambangkan tanggal peresmian Kabupaten Manggarai Barat, yaitu 17.
    Kapas sebanyak 7 (tujuh) buah melambangkan bulan peresmian Kabupaten Manggarai Barat, yaitu bulan ke-7 (Bulan Juli).


Sedangkan makna warna pada Lambang adalah :

  • Kuning Muda : warna kuning muda pada Pita Nama Kabupaten dan Bingkai Logo melambangkan ketulusan, kejujuran, dan kesetiaan

  • Kuning Emas : warna kuning emas pada Padi, Bintang dan Komodo melambangkan keagungan

  • Hijau : warna hijau melambangkan daratan Kabupaten Manggarai Barat yang subur dengan sektor andalan bidang pertanian. di samping itu warna hijau juga merupakan simbol harapan.

  • Biru Muda : melambangkan sebagian wilayah Manggarai Barat yang terdiri dari lautan yang memiliki kekayaan laut yang mempesona. Di samping itu warna Biru Muda merupakan sombol cinta kasih.

Nilai Budaya

Hukum adat
Dalam menyelesaikan konflik baik yang menyangkut tanah maupun konflik sosial yang melanggar norma adat, pertama kali dilakukan pada masing-masing kilo atau masing-masing suku (panga), tergantung pada muatan jenis dan pelanggarannya. Setiap persoalan biasanya diselesaikan secara damai dengan mekanisme hambor (perdamian adat).Setiap keputusan yang diambil didasarkan pada prinsip ipo ata poli wa tanan nganceng lait kole (apa yang telah diputuskan bersama tidak dapat diganggu gugat). Sanksi terhadap pelanggaran tidak berupa uang melainnkan berupa benda atau hewan seperti tuak, ayam, anjing, babi dan lain sebagainya.



Jenis-jenis perkawinan
Ada tiga kata kunci dalam hal jenis perkawinan adat Manggarai, yaitu kawing tungku (perkawinan dalam suku sendiri, antara anak saudara dengan anak dari saudari), kawing cako (perkawinan antara anak dari saudara dalam patrilineal), dan kawing cangkang (perkawinan di luar suku).


Jenis makanan dan minuman tradisional.


 

Masyarakat Manggarai mempunyai minuman tradisional yang biasa disebut dengan nama sopi. Sopi terbuat dari fermentasi air nira yang diambil dari pohon aren/enau. Sopi mempunyai kadar alkohol yang cukup tinggi, sehingga minuman ini sulit untuk dilegalkan. Minuman ini selalu hadir dalam setiap upacara-upacara adat. Makanan tradisional masyarakat Manggarai antara lain rebok, songkol, jagung latung. Dalam upacara penyambutan tamu, biasanya masyarakat Manggarai menyambut dengan cepak (pinang, sirih, kapur) yang diberikan kepada tamu yang baru datang.



Kesenian.
Kesenian tradisional dengan ciri khas daerah yang berkembang di Manggarai Barat adalah seni tenun, seni karya, seni sastra, seni suara dan seni tari. Seni Tenun - Dalam seni tenun, corak tenun yang banyak berkembang adalah hitam gelap dengan berbagai motif warnawarni.


Dalam setiap motif tenun terkandung makna filosofis.

Seni Tari - Masyarakat tradisional Manggarai mengenal banyak tarian rakyat, yang paling dikenal adalah tarian Caci. Seni Suara – Kegiatan menyanyi secara tradisional, pada umumnya berkaitan dengan berbagai upacara adat.
 

 

Berbagai syair yang sakral banyak dilagukan dengan irama yang khas dengan diiringi musik tradisional sederhana seperti gong, gendang, kombeng dan suling. Untuk lagu daerah yang terkenal adalah sanda, mbata. Seni Kriya – Seni kriya digunakan dalam pembuatan tenun ikat, anyaman topi pandan.


 

Jenis kerajinan yang ada di Kabupaten Manggarai Barat antara lain kerajinan kain tenun, kerajinan patung komodo, dan kerajinan songkok. Khusus untuk kejianan tenun, pada saat ini telah ada satu kelompok tenun di Kabupaten Manggarai Barat, yaitu kelompok Teratai Maha Karya. Untuk kerajinan patung komodo, dilakukan oleh penduduk yang bermukim di Taman Nasional Komodo.



Jenis alat musik tradisional masyarakat Manggarai adalah gendang, gong, kerontong, dan nyiru.

Aset peninggalan budaya. Aset peninggalan budaya di Kabupaten Manggarai Barat bentuknya situs, benteng, compang, watu. Situs-situs peninggalan aset budaya tersebut, sampai sekarang belum terkelola dengan baik. Akibatnya banyak situs yang telah rusak dan hilang. Upaya untuk menjadikan aset budaya tersebut sebagai obyek pariwisata juga belum optimal. Berdasarkan Keputusan Bupati Manggarai Barat Nomor 152/KEP/HK/2006 Tanggal 23 September 2006, jumlah cagar budaya di Kabupaten Manggarai Barat berjumlah 18 aset.


Pola Perkampungan Dan Rumah Adat Masyarakat Manggarai
• Pola perkampungan. Kampung tradisional di Manggarai berbentuk bundar dengan pintu saling berhadapan. Bentuk bulat menyarankan makna keutuhan atau kebulatan. Bentuk kampung demikian diperkuat oleh tuturan ritual. Secara mistis kampung dibagi atas tiga, yaitu pa’ang (bagian depan), ngandu (pusat), dan ngaung atau musi (bagian belakang kampung).


• Arsitektur tradisional. Arsitektur tradisional termanifestasikan dalam bentuk rumah gendang dan compang Rumah Gendang – Rumah tradisional Manggarai biasa disebut dengan nama Mbaru Gendang atau Mbaru Tembong. Bentuknya menyerupai seperti kerucut yang terbuat dari rerumputan kering. Struktur bangunan menerus dari atap sampai lantai.

 

Compang
Compang adalah tugu yang dibuat di tengah halaman rumah yang difungsikan sebagai altar dalam upacara adat. Altar tersebut terbuat dari tumpukan batu dan ditengahnya terdapat sebuah pohon. Altar tersebut dikelilingi halaman dan pemukiman penduduk. Lokasi compang biasanya merupakan pusat desa.Rumah adat dan kampung tradisional ini dapat ditemui di kampung Ru’I di Sano Nggoang, Kampung Balo di Kuwus dan Pacang Pu’u di Macang Pacar.

 

back