Kabupaten

Kabupaten SINTANG

Profil | Sejarah | Arti Logo | Nilai Budaya

Profil

Nama Resmi :Kabupaten Sintang
Ibukota :Sintang
Provinsi :Kalimantan Barat
Batas Wilayah:

Utara: Serawak (Malaysia Timur) dan Kapuas Hulu
Selatan: Provinsi Kalimantan Tengah
Barat: Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Sanggau
Timur: Provinsi Kalimantan Timur

Luas Wilayah:

21.638,20 Km²

Jumlah Penduduk:421.291 Jiwa 
Wilayah Administrasi:

Kecamatan: 14, Desa: 6, Kelurahan: 281

Website:

http://www.sintang.go.id

 

(Permendagri No.66 Tahun 2011)

 

Sejarah

SEJARAH Kabupaten Sintang dimulai ketika Demong Irawan yang bergelar Jubair I pada tahun 1385 mendirikan Kerajaan Senentang, yang berarti sungai- sungai dengan arus berlawanan. Kerajaan ini terletak di daerah apitan Sungai Kapuas dan Sungai Melawi dengan anak-anak sungainya. Bekas istana kerajaan yang akhirnya dikenal dengan nama Kerajaan Sintang ini pada tahun 1938 direnovasi, lalu dialihfungsikan menjadi museum dengan nama Museum Dara Juanti. Museum yang memajang semua peninggalan kerajaan ini mampu memperkaya khasanah pariwisata Kabupaten Sintang.

 

Potensi pariwisata Kabupaten Sintang amat beragam. Selain wisata sejarah, kabupaten yang berjarak 395 kilometer dari Kota Pontianak ini juga memiliki pesona alam yang indah. Wilayahnya yang berbukit dan penuh hutan memberikan keuntungan yang tidak sedikit. Di daerah ini ada Bukit Kelam yang terkenal dengan lereng batunya, Hutan Wisata Baning yang terletak di tengah kota dengan aneka ragam anggrek dan kantung semar. Begitu pula air terjun Nokanayan serta Taman Nasional Bukit Baka dengan rumah-rumah panjang khas Suku Dayak yang disebut Rumah Betang.

 

Obyek pariwisata kabupaten ini mendapat keuntungan ganda dari hutan belantara yang dimilikinya. Sebagai bagian dari Pulau Kalimantan dengan identitas hutan tropis yang lebat, Sintang juga sarat dengan hutan yang luas. Lebih dari dua pertiga total lahan kabupaten seluas 3,23 juta hektar ini adalah hutan. Selain hutan lindung dengan keragaman hayatinya, Sintang memiliki 1,4 juta hektar hutan produksi yang bernilai ekonomis. Saat ini terdapat empat perusahaan pemegang hak pengusahaan hutan (HPH) yang beroperasi di areal hutan produksinya.

 

Tahun lalu para pemegang HPH ini membabat 24.800 hektar hutan produksi kayu bulat. Secara langsung kas daerah mendapatkan pemasukan dari retribusi daerah yang dikenakan menurut jenis kayu berdasar pada jumlah produksi. Sedangkan untuk jenis pungutan lain seperti Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH), Iuran Hasil Pengusahaan Hutan (IHPH), dan berbagai jenis pungutan lainnya dikelola oleh pemerintah pusat. Sementara bagi masyarakat, di samping kayu bulat, produk hutan yang dimanfaatkan untuk mendapatkan nafkah adalah rotan, getah damar, kulit kayu, dan bambu.

 

Potensi kabupaten yang tahun 1999 mempunyai pendapatan per kapita Rp 1,9 juta ini kurang mendapatkan daya dukung dari prasarana jalan. Jalan darat, baik di dalam kabupaten maupun jalan provinsi, banyak yang rusak. Perjalanan dari Sintang ke Putussibau, ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu atau dari Sintang ke Kabupaten Sanggau terjadi kerusakan yang parah di sepanjang ruas jalan. Kerusakan jalan ini sedikit banyak menimbulkan gangguan yang cukup berarti terhadap arus distribusi barang ke dalam dan ke luar kabupaten.

 

***

 

Kabupaten Sintang berdasarkan kegiatan ekonominya dapat digolongkan sebagai daerah agraris. Sektor pertanian dengan subsektor kehutanan memberikan kontribusi terbesar senilai Rp 454,8 milyar. Menurut teksturnya, tanah kabupaten ini berjenis podsolik yang bersifat masam dan kandungan unsur hara di bawah lapisan permukaan rendah. Tekstur seperti ini lebih sesuai untuk tanaman tahunan atau tanaman perkebunan.

 

Pertanian perkebunan merupakan sistem pertanian yang secara tradisional dikenal masyarakat Sintang, selain ladang berpindah. Sejak dulu masyarakat sudah bertanam karet dan lada. Sampai saat ini, dua jenis tanaman itu masih menjadi andalan bagi 34.000 kepala keluarga penduduk Sintang.

 

Jenis tanaman perkebunan yang berkembang pesat adalah kelapa sawit. Jika tanaman karet dan lada sebagian besar merupakan perkebunan rakyat, kelapa sawit banyak diusahakan oleh perkebunan swasta besar. Luas lahan kelapa sawit tahun 1995 tercatat 16.000 hektar. Lima tahun kemudian luasnya sudah dua kali lipat menjadi 34.835 hektar. Tetapi, kenaikan areal perkebunan di kabupaten yang berbatasan langsung dengan Serawak ini mengakibatkan penurunan yang tajam pada areal hutan produksi yang dapat dikonversi.

 

Daya tarik Sintang di mata investor perkebunan memang cukup besar. Tahun ini tercatat ada 53 perusahaan yang mengajukan izin untuk mendapatkan pengusahaan lahan perkebunan, tetapi di lapangan hanya 12 perusahaan yang konsisten membuka lahan. Selebihnya banyak yang menelantarkan lahannya.

 

Hasil perkebunan setidaknya menjadi motor penggerak sektor perdagangan. Tahun 1999, nilai kegiatan ekonominya Rp 228,8 milyar. Bahan olah karet rakyat (bokar) petani dijual ke pabrik kilang karet (crumb rubber) milik PT Perkebunan Negara XIII yang berada di Sintang atau diolah di pabrik kilang karet yang ada di Pontianak. Sedangkan komoditas lada, baik lada hitam maupun lada putih, dijual melalui pedagang pengumpul yang langsung membeli dari petani. Komoditas ini banyak dipasarkan di Serawak, terutama di daerah dekat perbatasan. Di Sintang juga berdiri pabrik crude palm oil (CPO) yang mengolah buah sawit.

 

Alam yang tidak menguntungkan untuk sistem pertanian sawah bukan berarti tanaman pangan tidak berkembang. Petani Sintang yang dahulu mengenal sistem berladang untuk bertanam padi, sekarang sudah banyak yang bertani sawah. Padi sawah yang tahun 1993 hanya ditanam di sembilan hektar, tahun 1999 sudah menjadi 29,3 hektar dengan produksi 67 ton. Sedangkan padi ladang yang ditanam di lahan seluas 25,6 hektar, sudah menghasilkan padi 39 ton. Petani di kabupaten yang termasuk penerima transmigran terbesar di Kalimantan Barat ini juga bertanam sayur-sayuran, palawija, dan umbi-umbian di tanah pertaniannya yang tidak subur.

 

 

 

Arti Logo

Berdasarkan Perda No. 1 Tahun 1971 mengenai bentuk, warna dan makna lambang daerah Kabupaten Sintang.

 

Lambang Daerah Kabupaten Sintang terbagi atas 4 bagian yaitu :

 

1.     Bentuk Lambang secara keseluruhan adalah Perisai bersudut lima.

 

2.     Perisai, Mandau, Sumpit bertombak, gunung, buah karet, buah tengkawang dan ikan.

 

3.     Padi, kapas, dan bintang bersudut lima.

 

4.     Tulisan Kabupaten Sintang diatas pita berliku.

 

Bentuk keseluruhan dari lambang daerah ialah Perisai bersudut lima yang berarti Pancasila dimaksudkan Kabupaten Sintang adalah bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila. 

 

·         Warna yang dipakai pada lambang daerah ada 7 yaitu : hijau tua, biru muda, biru tua, kuning emas, merah, putih perak dan hitam.

 

·         Warna dasar adalah hijau tua dan biru muda.

 

·        Hijau Tua menunjukkan kesuburan tanahnya, biru muda menunjukkan kesuburan air/sungai.

 

·        Warna Perisai dan sumpit bertombak adalah hitam berpinggir putih perak dimaksudkan bahwa pusaka-pusaka ini mengandung kekuatan dan suci murni.

 

·         Warna Mandau adalah putih perak berarti bahwa pusaka ini suci dan hanya digunakan untuk membela kebenaran. 

 

·        Perisai, mandau dan sumpit bertombak adalah melambangkan pusaka dan kebudayaan putera-putera daerah Kabupaten Sintang.

 

·        Gunung melambangkan Bukit Kelam yang menjadi kebanggaan dan keagungan rakyat Kabupaten Sintang.

 

·        Buah karet, buah tengkawang dan ikan melambangkan suatu sumber penghidupan rakyat Kabupaten Sintang disamping bertani.

 

·        Padi dan Kapas melambangkan tujuan rakyat Kabupaten Sintang khususnya dan tujuan negara kesatuan Republik Indonesia umumnya untuk cukup sandang dan pangan. Padi berjumlah 17 buah dan kapas berjumlah 8 buah menunjukkan tanggal Kemerdekaan Negara Kesatuan republik Indonesia.

 

·        Bintang Bersudut Lima melambangkan Pancasila yang berarti bahwa Pancasila merupakan falsafah dan ideology yang tertanam dalam setiap jiwa rakyat Kabupaten Sintang khususnya dan Bangsa Indonesia Umumnya.

 

·        Tulisan Kabupaten Sintang dengan warna hitam diatas dasar warna kuning mengandung arti bahwa masyarakat dan pemerintah Kabupaten Sintang mempunyai pendirian kuat, teguh dan sentosa baja untuk membawakan rakyat/masyarakat Kabupaten Sintang dari alam kegelapan menuju alam yang terang penuh keagungan.

 

·        Di bawah tulisan Kabupaten Sintang terdapat bintang bersudut lima yang melambangkan bahwa masyarakat dan pemerintah Pemerintah Kabupaten Sintang tetap berdasarkan Pancasila. 

 

·        Liku-liku pada pita-pita kain sutra berwarna kuning emas menunjukkan liku-likunya perjuangan untuk merebut kemerdekaan dan mencapai masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila..

 

 


 

Nilai Budaya

***

back