Kabupaten

Kabupaten BARITO KUALA

Profil | Sejarah | Arti Logo | Nilai Budaya

Profil

Nama Resmi :Kabupaten Barito Kuala
Ibukota :Marabahan
Provinsi :Kalimantan Selatan
Batas Wilayah:

Utara: Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Kab. Tapin
Selatan: Laut Jawa
Barat: Kabupaten Kapuas, Prov. KAL-TENG
Timur: Kota Banjar dan Kota Banjarmasin

Luas Wilayah:

2.996,46 Km2

Jumlah Penduduk:

302.624 Jiwa 

Wilayah Administrasi

Website

:

 

:

Kecamatan : 17, Kelurahan: 6, Desa : 194

 

http://baritokualakab.go.id

  


 

(Permendagri No.66 Tahun 2011)

Sejarah

Kabupaten Barito Kuala dengan Ibukotanya Marabahan dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959 yang sebelumnya daerah ini berstatus Kawedanaan dibawah Kabupaten Banjar. Mengingat luas wilayah, jumlah penduduk dan perkembangannya, potensi ekonomi yang dimiliki serta kondisi lainnya yang menunjang daerah ini untuk diangkat menjadi Daerah Otonom Tingkat II, maka oleh para tokoh masyarakat di daerah ini diperjuangkan agar menjadi Daerah Tingkat II yang berotonomi.

Proses perjuangan menjadikan Marabahan menjadi Daerah Kabupaten dimulai sejak tanggal 17 pebruari 1957 yaitu dengan dibentuknya Panitia gabungan Partai/Organisasi Penuntut Kabupaten (diketuai oleh M. JALALUDDIN dan IMANSYAH sebagai penulis), bersamaan pula dengan dikeluarkannya resolusi oleh Kerukunan Keluarga Bakumpai (KKB) kepada Kepala Daerah Propinsi Kalimantan Selatan tentang tuntutan supaya kewedanaan Marabahan dijadikan Daerah Otonom Tingkat II.

Berbagai usaha ditempuh guna mewujudkan tuntutan tersebut beberapa peristiwa yang patut dicatat sesuai dengan Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Barito Kuala Nomor 11/Kpts/DPRD-Batola/1997, antara lain :

1. Tanggal 17 Pebruari 1957
Telah terbentuk Panitia Penuntutan Kabupaten Daerah Otonom Tingkat II yang diketuai oleh M. Jalaluddin dan Sekretarisnya Imansyah. Pada waktu itu juga kerukunan Keluarga Bakumpai (KKB) ikut mengajukan tuntutan agar Kewedanan Marabahan dapat ditingkatkan menjadi kabupaten.
2. Tanggal 15 Maret 1957
Panitia Penuntut Kabupaten mengadakan rapat yang dihadiri oleh Partai Politik dan Organisasi Masa untuk menyusun resolusi yang isinya memohon kepada Pemerintah agar kewedanaan Marabahan dapat ditingkatkan menjadi Daerah Otonom Tingkat II yang diberi nama kabupaten dalam waktu yang sesingkatsingkatnya.
3. Tanggal 1 Juni 1957
Panitia Penuntut kabupaten mengadakan rapat untuk menentukan sikap dengan dibentuknya Propinsi Kalimantan Tengah.
4. Bulan Juli 1957
Membentuk Panitia Penampung Hasrat Rakyat Marabahan dengan Ketua H. Marli Hasan, Wakil Ketua M. Jalaludin dan Sekretaris H. Syarkani. AB.
5. Tanggal 15 Juli 1957
Panitia Penampungan Hasrat Rakyat Marabahan mengadakan rapat umum di Pasar Marabahan dengan kesimpulan apabila tuntutan menjadi kabupaten tidak berhasil, masih terbuka jalan untuk menjadi kabupaten di Kalimantan Tengah.
6. Tanggal 17 Juli 1957
Presiden Soekarno berkunjung ke Banjarmasin dan menanggapi cara tuntutan Panitia Penampungan Hasrat Rakyat Marabahan yang menyatakan akan masuk Kalimantan Tengah dengan perkataan : “Mis Begrifven Demokrasi”. Akibat adanya tanggapan presiden tersebut, maka komando P.D.M. Martapura Letnan H. Muhammad Noor bersama Bupati Kepala Daerah Kabupaten Banjar yang diwakili Oleh H. Mukerad Bakeri, Ketua DPRD Bidang Ekonomi datang ke Marabahan untuk melihat secara dekat keadaan situasi Marabahan, namun kenyataannya Marabahan tetap aman.
7. Tanggal 18 Juli 1957
Sebagai pengurus mengundurkan diri dari kepanitian
8. Tanggal 20 Juli 1957
Mukrad Bakeri dan Wedana Mustafa Ideham memberi penjelasan kepada tokoh masyarakat untung ruginya masuk Kalimantan Tengah.
9. Tanggal 24 Juli 1957
Diadakan rapat untuk melengkapi personalia Panitia Gabungan Partai Politik diadakan Organisasi Massa Penuntut Kabupaten dengan susunan panitia baru sebagai berikut :
- Ketua : BAIDILLAH
- Wakil Ketua : M. TAOSUN MA’RUF
- Penulis I : ANANG ASRAN
- Penulis II : DARMANSYAH
- Bendahara : MAKSUM
- Pembantu : Semua anggota partai/organisasi yang ada.
10. Bulan Agustus 1957
DPRDP Kabupaten Banjar mengadakan kunjungan ke Marabahan sekaligus berdialog dengan tokoh masyarakat, pamong praja dan parpol/ormas.
11. Tanggal 8 Agutus 1957
DPRDP Kabupaten Banjar dalam sidangnya mengambil keputusan yang isinya pada Pemerintah Pusat agar Daerah Swatantra Tingkat II Kabupaten Banjar dibagi menjadi 3 (tiga) wilayah sebagai berikut :
a. Kabupaten Banjar Barat meliputi Kewedanan Kayu Tangi;
b. Kabupaten Banjar Tengah meliputi Kewedanan Ulin;
c. Kabupaten Banjar Timur meliputi Kewedanan Barito Kuala.
12. Tanggal 19 Agustus 1957
DPRDP Propinsi Kalimantan Selatan dalam sidangnya hanya dapat menyetujui 2 (dua) Daerah Swatantra tingkat II saja, yaitu :
a. Kabupaten Banjar Barat meliputi kewedanan Kayu Tangi, Tanah Laut dan Ulin;
b. Kabupaten Banjar Timur meliputi Kewedanaan Barito Kuala.
13. Tanggal 30 Oktober 1957
DPRDP Kabupaten Banjar membuat resolusi yang isinya mendesak kepada DPRD Propinsi Kalimantan Selatan agar meninjau kembali keputusannya tanggal 19 Agustus 1957 dengan memperhatikan Keputusan DPRD Kabupaten Banjar tanggal 8 Agustus 1957. Pada hari itu juga dating ke Kalimantan Selatan 2 (dua) orang dari Biro Otonomi Daerah Departemen Dalam Negeri yaitu Drs. Husin dan Mr.
Parengkuan.. Kedua utusan tersebut mengadakan pertemuan di Barabai dengan wakil-wakil daerah yang mengajukan permintaan otonomi daerah tingkat II. Mukerad Bakeri, anggota DPD Kabupaten Banjar mewakili Marabahan. Setelah terjadi dialog yang mendalam, oleh utusan dinyatakan tuntutannya akan diperhatikan apabila data-data yang lengkap tentang Marabahan dapat diserahkan
sebelum utusan kembali ke Jakarta.
14. Tanggal 1 Nopember 1957
Mukrad Bakeri bersama-sama dengan Sekretaris Pemda Propinsi Kalimantan Selatan (M. Burhan Noor) menyerahkan data-data dimaksud kepada Utusan Departemen Dalam Negeri di Landasan Ulin.
15. Bulan Nopember 1957
Di luar daerah kerukunan Keluarga Bakumpai (KKB) juga turut berjuang dengan cara mengadakan pendekatan dengan Gubernur Kepala Daerah Propinsi Kalimantan Selatan.
16. Bulan 24 Nopember 1957
Mukerad Bakeri memberikan penjelasan kepada Panitia Gabungan tentang Pembentukan Kabupaten.
17. Tanggal 18 Januari 1958
Panitia gabugan memberikan kuasa kepada Anggota Dewan Nasional, yaitu :
1. H. Hasan Basri, Letkol Inf. Dan Resimen Infanteri 21/LAM di Banjarmasin.
2. Cilik Riwut, Gubernur Kepala Daerah Kalimantan Tengah. Untuk membantu
memperjuangkan kepada kepada Menteri Dalam Negeri agar Kabupaten Marabahan dapat diresmikan bersama-sama Kabupaten Barabai dan Kabupaten Kota Waringin.
18. Tanggal 12 April 1958
Anggota DPR-RI Seksi 6 (Kementerian Dalam Negeri) dating ke Kalimantan Selatan dan meninjau Marabahan. Rombongan terdiri dari 3 (tiga) orang, yaitu Handoko, Hasan Baseri dan Nuncik AR. Rombongan didampingi oleh Mukerad Bakeri dengan menumpang KM Bido. Laporan disusun di kapal sewaktu dalam perjalanan pulang ke Banjarmasin dengan isinya mendukung hasrat masyarakat Marabahan untuk dijadikan Daerah Otonomi Tingkat II.
19. Tanggal 17 Oktober 1958
Bertempat di Sekolah Rakyat (SR) VI Tahun Marabahan diadakan rapat pembaharuan Pengurus Gabungan Partai/Organisasi dengan susunan kepengurusan adalah sebagai berikut :
Ketua I : BAIDILAH
Ketua II : M. TAUSOEN MA’RUF
Ketua III : ASRANUDDIN
Penulis I : DARMANSYAH/ANANG ASRAN
Penulis II : MANUAR
Bendahara I : MAWARDI
Bendahara II : MAKSUM
20. Tanggal 11 Mei 1959
DPR RI menerima baik Rencana Undang-Undang Pembagian Kabupaten di Kalimantan. Berdasarkan Undang-undang Nomor 27 Tahun 1959 tanggal 4 Juli 1959 Daerah Tingkat II Barito Kuala dengan ibukotanya Marabahan disetujui oleh pemerintah.
21. Tanggal 6 September 1959
Gubernur Kepala Daerah Propinsi Kalimantan Selatan menunjuk Patih Akhmad Yunan untuk mempersiapkan pembentukan Kantor Daerah Swatantra Tingkat II Barito Kuala di Marabahan. Dan sebelum diresmikan dibentuklah Panitia yang diketahui oleh H. Kesuma Yuda dengan dibantu oleh beberapa orang.
22. Tanggal 4 Januari 1960
Akhirnya Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan (H. Maksid), meresmikan Daerah Tingkat II Barito Kuala di Marabahan dan hingga sampai sekarang pada tanggal 4 Januari diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Barito Kuala.
Sebagai Daerah Otonom yang berhak untuk mengatur rumah tangganya sendiri maka sejak diresmikannya mulailah daerah ini membentuk kelengkapan daerah, baik egislatif maupun eksekutif. Patut pula kita kenang bahwa Pejabat Bupati Kepala Daerah Tingkat II yang pertama adalah H. HADARIYAH.
Pemerintahan

Arti Logo

I. BAGIAN LAMBANG

  1. Lingkaran (bingkai) memakai dua strip/garis kecil segi lima.
  2. Padi dan purun
  3. Senjata pusaka Raja Tumpang dan telabang
  4. Pita bertulis Selidah



II. WARNA DAN MAKNA LAMBANG

  1. Lingkaran (bingkai) berwarna biru dan diantara dua strip berwarna kuning, segi lima dari bingkai atau lingkaran ini mencerminkan dasar negara Pancasila dan asar Islam, lingkaran bersambung menjadi satu, melambangkan persatuan yang teguh dan kokoh dikalangan rakyat/ masyarakat/
  2. Padi warna kuning dan purun warna hijau mencerminkan sandaran hidup sebagian rakyat / masyarakat daerah ini adalah dari kedua jenis tanaman ini.
  3. Senjata Pusaka Raja Tumpang berwarna putih perak, hulunya berwarna hitam keabu-abuan, telabang berwarna hitam pekat. Adapun warna raja tumpang melambangkan kemurnian dan kesucian sedangkan warna hitam dari telabang lambang dari keteguhan, ketabahan dan kekuatan hati. Raja tumpang dan telabang sebagai senjata pusaka dianggap keramat yang setia setiap saat dan setiap waktu memberi ilham / mengilhami rakyat dengan jiwa dan semangat patriot atau rasa kebangsaannya.
  4. Pita bertuliskan Selidah (pita berwarna merah dan jingga serta tulisan Selidah dengan warna biru), melambangkan tali ikatan dalam hubungan kekeluargaan dan kata Selidah bermakna satu dalam perkataan, perbuatan, ruhui rahayu, seia sekata, terapung sama hanyut, terendam sama basah.

Nilai Budaya

-

back