Kabupaten

Kabupaten TABALONG

Profil | Sejarah | Arti Logo | Nilai Budaya

Profil

Nama Resmi :Kabupaten Tabalong
Ibukota :Tanjung
Provinsi :Kalimantan Selatan
Batas Wilayah:

Utara: Provinsi Kalimantan Timur
Selatan: Kabupaten Hulu Sungai Utara
Timur: Provinsi Kalimantan Timur
Barat: Kabupaten Barito selatan, Provinsi Kalimantan Tengah

Luas Wilayah:

3.766,97 Km2

Jumlah Penduduk:

242.670

Wilayah Administrasi:

Kecamatan : 12, Desa : 9, Kelurahan : 122

Website:

http://tabalongkab.go.id/

 

(Permendagri No.66 Tahun 2011)

Sejarah

RIWAYAT NAMA TABALONG

Legenda tentang terciptanya nama Tabalong menurut hikayat lisan dari mulut ke mulut yang tersebar sejak tahun empat puluhan, ialah seperti yang di tulis seniman Tabalong dalam buku antologi puisi ” Duri duri Tataba ” tahun 1996 yang di terbitkan Dewan Kesenian Daerah (DKD) Tabalong, menyebutkan bahwa terwujudnya sebutan Tabalong yaitu bermula dari para perambah hutan yang mencari ladang dan huma hingga kakinya terinjak duri – duri Tataba sejenis pohon yang seluruh batangya penuh berduri keras, jenis tanaman ini mempunyai akar Tunjang dan berbuah hanya menjadi makanan burung-burung hutan. Mereka menjerit (dalam bahasa Banjar Hulu, dikatakan ” Jerit ” sama dengan Tahalulung atau sama dengan melolong), karena kesakitan terkena duri-duri Tataba, inilah akhirnya menjadi penyebutan ” TABALONG “. Artinya terinjak duri Tataba…..jadi Tahalulung menjadi nama …” Tabalong “.
SEJARAH SINGKAT TERBENTUKNYA KABUPATEN TABALONG
Pada tanggal 15 Maret 1958, atas permufakatan orang-orang terkemuka di Tanjung, yang di prakarsai oleh Bapak Baharuddin Akhmid yang waktu itu menjabat Asisten Wedana di Kecamatan Tabalong Selatan, maka di bentuklah Panitia sementara Penuntutan Daerah Swatantra Tingkat II Tabalong yang di susun kepengurusannyasebagai berikut:
1.      Penasehat : Baharuddin Akhmid
2.      Ketua : Juhri
3.      Wakil Ketua : A. Salman
4.      Sekretaris : Usnan. As
5.      Wakil Sekretaris : Abdullah Khairul
6.      Bendahara : H. Baderi
7.      Pembantu Umum : As,ad
8.     Anggota-anggota : A. Syamsi, H. A. Sudani, M. Salman

Setelah Panitia Sementara terbentuk , untuk kepentingan perjuangan serta terjadinya beberapa mutasi terhadap Pegawai Negeri yang sudah duduk dalam kepanitian, maka komposisi dan personalia panitia penuntut mengalami beberapa kali perubahan hingga sampai pada Panitia V, di mana orang-orang yang mempunyai andil besar dan pernah menjadi Panitia Penuntut adalah sebagai berikut :
1.   Abdussyukur
2.   Amir Hasan
3.   A. Sajeli
4.   Basuni Ulita
5.   A. Husaini
6.   Juhrani
7.   Majedi Effendi
8.   Abdurahman Hamud
9.   H. Baderi
10.  H. Juhri Taher
11.  H. Alikurdi Almas
12.  Kadirman
13.  H. Abdul Gani
14.  Syahrap
15.  H. Kurdi
16.  Yahya. Z
17.  H. Imansyah
18.  Hiskia Tiro
19.  H. Basuni (Kepala Desa)
20.  Idar
21.  Masran
Tak luput pula peran mass media dan RRI Banjarmasin selalu menginformasikan segala kegiatan masyarakat Tabalong, dengan kekompakkan perjuangan Panitia dalam segala bidang , akhirnya pada tanggal 5 Mei 1959 dalam sidang Pleno terbuka DPRD Hulu Sungai Utara telah memutuskan menyetujui sepenuhnya tuntutan rakyat Tabalong agar Kewedanaan Tabalong dapat di jadikan Daerah Swatantra Tingkat II Tabalong dengan ibukota Tanjung, yang terkenal dengan resolusi tanggal 5 Mei 1959 Nomor . 2/II DPRD -1959, yang isinya selain menyetujui juga mendesak Pemerintah Pusat agar tuntutan dimaksud dapat dikabulkan.
Perjuangan kearah yang di inginkan terlihat adanya titik terang, langkah semakin jelas, maka di perkuat lagi kedudukan Panitia untuk melancarkan arus perjuangan, maka Panitia sebelumnya di sempurnakan lagi dengan Panitia VI sebagai berikut :
·  Ketua Umum : Juhri
·  Ketua I : M. Salman
·  Ketua II : Maslan
·  Penulis I : Usnan. As
·  Penulis II : Abdullah
·  Bendahara : Norbek
·Pembantu-pembantu : Semua Camat Dalam Kewedanaan Tabalong, Semua Anggota DPRD Hulu Sungai Utara yang tinggal di Kewedanaan Tabalong.
·  Seksi Politik : H. Baijuri Y, Ruminto dkk
·  Seksi Bangunan : Anang Basar, Donarian dkk
·  Seksi Perencanaan : Abdurrahman Projakal dkk
·  Seksi Penerangan : A. Syamsi, Hamidhan Baseri
·  Seksi Organisasi : Makmod Asnawi, Hamad dkk
Panitia ini telah berusaha dengan sekuat tenaga dan dana uang ada, mengadakan hubungan dengan pihak Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan dengan DPRD GR-nya, serta Tokoh-tokoh politik dan Ormas yang di wakili dalam DPRD- GR Propinsi Kalimantan Selatan , agar dapat dukungan dari mereka atas tuntutan ini.

Dari adanya kegiatan tersebut serta kerja sama yang harmonis, maka dalam sidang istimewa DPRD-GR Kalimantan Selatan telah menyetujui tuntutan rakyat Tabalong, Tapin, dan Tanah Laut masing-masing dijadikan Daerah Swantantra Tingkat II.

DPRD-GR Propinsi Kalimantan Selatan mengeluarkan Resolusi yang di tujukan ke Pemerintah Pusat, memohon Pemerintah Pusat dapat menyetujui dan selanjutnya melahirkan Daerah Tingkat II.

Panitia dalam usahanya memperjuangkan ketingkat Pusat telah menghubungi Gubernur Kalimantan Selatan (waktu itu) Bapak Haji Maksid, untuk memohon nasehat dan petunjuk serta do’a restu untuk berangkat ke Jakarta oleh Bapak Gubernur di berikan Petunjuk-petunjuk dan sekaligus merestui keberangkatan Panitia menemui Bapak Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah, sertya Pejabat-pejabat Tinggi lainnya guna menyampaikan hasrat Rakyat Tabalong di maksud.

Berangkatlah Saudara Juhri dan Usman. As masing-masing selaku ketua Umum dan sekretaris Panitia dan pula oleh Bapak Muhyar Usman selaku wakil dari Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan.

Dalam waktu yang relatif singkat , rombongan Panitia telah dapat di terima    oleh Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Bapak IPIK Gandamana dalam percakapan akhir beliau mengatakan, bahwa pada prinsipnya saya dapat menyetujui tuntutan ini dan akan di ajukan pada Sidang DPR-GR yang akan datang.

Sebagai realisasi dari kunjungan Panitia, oleh DPR-GR telah mengutus ketua Komisi ” B ” yaitu Bapak I.S. HandokoWijoyo untuk meninjau ketiga calon Daerah Tingkat II dimaksud , dalam kunjungan ke Tabalong Bapak I.S. Handoko Wijoyo mengatakan ” Tidak ada alasan untuk tidak menyetujui tuntutan Rakyat Tabalong ini.

Perjuangan kita telah meningkat lebih jauh , dimana pada tanggal 5 September 1964 Kewadenaan Tabalong telah di tingkatkan statusnya menjadi Daerah Persiapan Tingkat II Tabalong dengan Kepala Kantornya Bapak Usman Dundrung Bekas Wedana Barabai.

Lahirnya Undang-undang Noor 8 Tahun 1965 Tanggal 14 juni 1965, yang mendorong daerah pesiapan Tingkat II Tabalong ini di tingkatkan lagi menjadi Daerah Otonomi Tingkat II Tabalong, yang menjalankan roda Pemerintahan sendiri baik eksekutif maupun Legislatif dan untuk ini juga Pemerintah tetap di percayakan kepada Bapak Usman Dundrung.

Pada tanggal 1 desember 1965 jam 11.00 pagi bertempat di lapangan ” GIAT ” Tanjung oleh Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Bapak Dr. Soemarno Sosro Atmodjo dengan di saksikan puluhan ribu rakyat Tabalong dan Pejabat-pejabat tinggi Kalimantan Selatan lainnya, maka papan nama yang di selubungi kain bledru hijau dengan untaian sutra kuning keemasan, telah di buka dengan resmi oleh Bapak Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah dan di balik selubung yang terbuka itu terpampang kalimat yang bersenjata yang berbunyi

“DAERAH TINGKAT II TABALONG DIRESMIKAN 1 DESEMBER 1965.

Demikianlah sejarah singkat terbentuknya Panitia Penuntutan dan Proses Peresmian berdirinya Daerah Tingkat II Tabalong.

NoN a m aDilantikAkhir Masa
Jabatan
Keterangan
1Usman Dundrung1 Desember 196512 Desember 1966Penguasa Daerah
2Usman Dundrung12 Desember 196615 Desember 1971Bupati Kepala Daerah
3Usman Dundrung15 Desember 197114 Maret 1972Pejabat Bupati KDH
4Badaruddin Kasim,BA14 Maret 197226 Maret 1977Bupati KDH
5Badaruddin Kasim,BA26 Maret 197725 Januari 1979Bupati KDH
6M. Syarkawi D.25 Januari 197915 Pebruari 1979Pejabat Bupati KDH
7H.M. Ismail Abdullah15 Pebruari 197915 Pebruari 1984Bupati KDH
8Dandung Suchrowardi15 Pebruari 198415 Pebruari 1989Bupati KDH
9Dandung Suchrowardi15 Pebruari 198915 Pebruari 1994Bupati KDH
10Obar Sobari18 Pebruari 199418 Pebruari 1999Bupati KDH
11Drs.H. Noor Aidi17 Maret 199916 Maret 2004Bupati Tabalong
12Drs.H. Rachman Ramsyi, M.si17 Maret 200416 Maret 2009Bupati Tabalong
13H. Murhan Effendie, BA17 Maret 200416 Maret 2009Wakil Bupati Tabalong
14Drs.H.Rachman Ramsyi, M.Si17 Maret 2009SekarangBupati Tabalong
15H.Muchlis, SH17 Maret 2009SekarangWakil Bupati Tabalong

Sumber data : Bappeda Kabupaten Tabalong


Arti Logo

Lambang Daerah Kabupaten Tabalong berupa sebuah perisai berbentuk jantung dengan warna dasar hijau tua dan kuning emas.

  • Perisai mengandung arti sebagai alat pelindung yang berarti Pemerintah menjamin dan melindungi kepentingan sosial, serta ekonomi rakyat dan jantung berarti sumber atau pusat kehidupan masyarakat Tabalong.
  • Warna hijau tua berarti kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Tabalong dengan kekayaan yang di kandung bumi Tabalong.
  • Kuning emas melambangkan kebesaran, kejayaan dan keagungan yang di cita-citakan oleh rakyat Tabalong untuk negara Republik Indonesia pada umumnya dan Tabalong pada khususnya.

Didalam Perisai tersebut terdapat lukisan-lukisan :
Padi warna kuning emas dan kapas,
 melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan, daerah Tabalong yang sebagian besar terdiri dari masyarakat petani. Padi dan kapas melukiskan dalam satu tangkai yang terdiri dari :

o        Dua belas butir biji padi
o        Enam helai daun kapas warna hijau muda
o        Lima tangkai bunga kapas warna putih.
Rantai baja warna kuning emas enam buah berkait, menggambarkan kesatuan yang kokoh membaja dari semua golongan dan aliran yang ada di Kabupaten Tabalong pada khususnya dan Republik Indonesia pada umumnya. Jumlah mata rantai membelah berarti pula bahwa pada waktu Daerah Otonomi Kabupaten Tabalong diresmikan telah mempunyai enam buah Kecamatan.

Menara obor minyak warna hitam dan pohon karet warna coklat, melukiskan kekayaan alam yang di kandung bumi Tabalong yang telah di eksploitasi adalah minyak dan karet.

Tiang gapura warna hitam dua buah kiri dan kanan, menggambarkan letak geografis daerah Kabupaten Tabalong yang di apit dan berbatasan dengan dua buah propinsi yaitu Kalimantan Timur dan Kalimantan tengah, dimana Tabalong merupakan pintu masuk dan keluar dari dan ke propinsi Kalimantan Selatan.

Bintang bersegi lima berwarna putih, mengandung arti repleksi umum keagamaan yang menggambarkan keyakinan umat beragama, yaitu yang berkeTuhanan Yang Maha Esa dan berdasarkan Pancasila.

Sehelai pita merah tua dengan tulisan Saraba Kawa warna putih, untuk menyatakan bahwa “motto” dari lambang ini adalah “Saraba Kawa” kata Saraba Kawa adalah bahasa daerah asli yang memberi pengertian tentang perjuangan dan tekad rakyat di daerah ini untuk melaksanakan tugas kewajibannya terhdap Bangsa, Negara dan Agama. Saraba Kawa berarti serba bisa (semua tugas/pekerjaan selalu dapat di kerjakan) merupakan satu-satunya tekad dari rakyat Tabalong di dalam merencanakan dan mengawasi/memelihara bidang pembangunan mental spiritual dan pembangunan fisik material di daerah Tabalong ini.

Dua buah mandau warna putih genggam coklat bersilang dengan mata ke atas, adalah senjata ampuh yang di pakai penduduk Kalimantan, sebagai senjata pusaka dan merupakan kebudayaan nenek moyang dan melambangkan kepribadian, peradaban, keperwiraan dan kesatriaan. Dua buah mandau mengarah keatas melukiskan kesiap-siagaan dan kesaktian dalam membela dan mempertahankan hak-hak asasi Rakyat Tabalong pada khususnya dan RI pada umumnya.

Tulisan Tabalong warna putih, pada bagian atas sebelah dalam perisai di atas sebuah garis panjang mendatar yang berada di atas bintang lima, hanya untuk menyatakan bahwa lambang ini adalah daerah Kabupaten Tabalong.


Nilai Budaya

Acara Khusus & Cerita Rakyat

Di dalam kehidupan masyarakat Tabalong yang sudah berproses berabad-abad lamanya, telah mengukir suatu bentuk kebudayaan dan tradisi orang Banjar pada umumnya dan juga masyarakat Tabalong pada khususnya, suatu bentuk kebudayaan dan tradisi tersebut di atas merupakan perpaduan antara Suku Dayak dan Bangsa Melayu dan Jawa. Ajaran Islam yang dibawa oleh pedagang Arab dan Persia memasuki masyarakat Banjar, banyak mempengaruhi, campuran ini yang jelas terlihat pada kehidupan penduduk.Upacara tradisional masih memegang peranan penting dalam setiap tahap kehidupan orang Banjar. Sebagai contoh, seorang anak yang menginjak dewasa dan telah menyelesaikan pelajaran Kitab Suci Al-Qur’an dirayakan dengan upacara “BATAMAT”


Kemudian, contoh lain seorang bayi yang lahir diberi nama dalam suatu upacara “TASMIAH”;. Semua ini adalah ciri yang mewarnai kehidupan orang atau masyarakat Tabalong. Tarian juga memegang peranan penting dalam upacara-upacara tradisional, demikian juuga dengan beberapa tarian dan pertunjukan, seperti Tarian Dadas Suku Dayak, Madihin, Lamut, Mamanda, Silat, Gentor, serta pertunjukan yang diiringi dengan menaiki pohon Manau (Rotan besar yang berduri) sebagai pengujian kekebalan.

Untuk daerah Tabalong, terdapat wadah untuk para seniman, yaitu:

DEWAN KESENIAN TANJUNG (DKT) Alamat: Extravagansa Komplek Stadion Pembataan Tanjung.


back