Kabupaten

Kabupaten MOROWALI

Profil | Sejarah | Arti Logo | Nilai Budaya

Profil

Nama Resmi :Kabupaten Morowali
Ibukota :Bungku
Provinsi :Sulawesi Tengah
Batas Wilayah:

Utara: Kabupaten Kabupaten Tojo Una-Una
Selatan:  Prov. Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan
 Barat: Perairan Teluk Tolo dan Kabupaten Banggai
Timur: Kabupaten Poso, Tojo Una-Una, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah

Luas Wilayah:

13.041,32 Km2

Jumlah Penduduk:

179.810 Jiwa

Wilayah Administrasi:

Kecamatan: 13, kelurahan: 10, Desa: 232

Website:

http://www.morowalikab.go.id

 

(Permendagri No.66 Tahun 2011)

Sejarah

Kabupaten Morowali merupakan Kabupaten yang terbentuk dari hasil pemekaran wilayah Kabupaten Poso Propinsi Sulawesi Tengah berdasarkan Undang-undang RI Nomor 51 Tahun 1999. Kabupaten Morowali merupakan salah satu dari sembilan Kabupaten Morowali dan satu kota yang ada di propinsi Sulawesi Tengah. Sejarah perjuangan untuk melahirkan Kabupaten Morowali sudah lama tumbuh dan menggelora di hati masyarakat. Aspirasi tersebut terus berkembang yang kemudian sampai pada tingkat lahirnya kemampuan politik dari wakil-wakil rakyat di lembaga DPRD dengan dicetuskannya Resolusi DPRD-GR Propinsi Sulawesi Tengah nomor :  1/DPRD/1966 yang isinya meminta kepada Pemerintah Pusat agar Propinsi Sulawesi Tengah dimekarkan menjadi 11 (sebelas) daerah otonom tingkat II, yaitu 2 (dua) Kotamadya dan 9 Kabupaten, salah satu diantaranya adlah Kabupaten Morowali (waktu itu masih disebut Mori Bungku).

Sejarah perjuangan panjang ini ternyata tak pernah mengenal akhir, sehingga begitu masa reformasi, peralihan orde baru ke masa reformasi saat ini, di mana kebebasan demokrasi lebih digaungkan sebagai konsep pemerintahan, dengan kemudian diterapkannya konsep pemerintahan desentralisasi, yang diwujudkan melalui kebijakan otonomi daerah ditingkat Kabupaten, dimana Kabupaten diberi porsi yang lebih besar lagi untuk mengatur daerahnya sendiri. Maka semakin luaslah potensi bagi terbentuknya daerah Kabupaten baru. Oleh karena itu moment ini direspon oleh masyarakat seluruh lapisan di daerah Morowali untuk memperjuangkan kembali aspiral lamanya, yakni pembentukan Kabupaten Poso. Dan akhirnya perjuangan dan aspirasi masyarakat daerah ini berhasil, yakni dengan keluarnya kebijakan Pemerintah Pusat untuk membentuk daerah Morowali, berdiri sebagai Kabupaten sendiri, yang diberi nama Kabupaten Morowali, berdasarkan hasil pemikiran dan kesepakatan seluruh lapisan masyarakat.

Keputusan Pemerintah Pusat untuk membentuk Kabupaten Morowali ini kemudian dituangkan ke dalam UU RI Nomor 51 Tahun 1999. Setelah terbentuknya Kabupaten Morowali, langkah selanjutnya mempersiapkan perangkat wakil rakyat di DPRD dan pemilihan Bupati, Saat ini bupati terpilih pertama yang memimpin secara definitif Kabupaten Morowali adalah Andi Muhammad Abubakar dan Datlin Tamalagi sebagai wakil bupati definitif pertama dan Drs. H. Chaerudin Zen sebagai Sekertaris Kabupaten Morowali.

Arti Logo

Lambang daerah yang mengambarkan unsur-unsur terdiri dari:

Makna gambar:

  • Bintang melambangakan ketaqwaan terhadadap Tuhan Yang Maha Esa.
  • Tulisan “Tepe Asa Moroso” melukiskan semboyan persatuan dan kesatuan masyarakat Kabupaten Morowali yang artinya bersatu kita teguh.
  • Rumah Adat Morowali melambangkan tempat musyawarah untuk mencapai mufakat di bawah semboyan “Tepe Asa Moroso”.
  • Padi dan Kapas melambangkan kesejahteraan dan keadilan.
  • Lekukan-lekukan pada luar melambangkan kondisi topografi kabupaten morowali yang bervariasi.
  • Pohon palem melambangkan potensi pertanian yang merupakan salah satu unggulan kekayaan wilayah Kabupaten Morowali.
  • Perahu melambangkan potensi perikanan dan kelautan.
  • Padi jumlah 12 (dua belas), kapas jumlah 10 (sepuluh), dan tiang rumah adat berjumlah 9 (sembilan) melambangkan tanggal, bulan, tahun terbentuknya Kabupaten Morowali 12 Oktober 1999.

Makna warna

  • Warna putih melambangkan ketulusan dan tekad masyarakat morowali membangun daerahnya untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.
  • Warna merah, hitam, dan kuning melambangkan warna khas seni dan budaya sebagai simbol kesatriaan, keteguhan, dan kematangan dalam membela kebenaran dan keadilan menuju kejayaan.
  • Warna hijau melambangkan potensi kehutanan dan perkebunan.
  • Warna coklat melambangkan potensi barang tambang.
  • Warna biru melambangkan potensi kelauta.

Nilai Budaya

 - MASJID TUA BUNGKU -


Suara merdu Muadzin kembali berkumandang di situs bersejarah Masjid tua Bungku, berada didalamnya, seperti menyelami kembali kehidupan para pendahulu negeri ini yang begitu religius

Kali ini kami sengaja menunaikan sholat dzuhur di masjid tua Bungku yang berada tepat disamping istana raja Bungku Marsaoleh. masjid yang berjarak sekitar 70 meter dari dermaga Kota Bungku ini, banyak menyimpan cerita tentang kebesaran dan kejayaan Kerajaan Bungku dimasa lampau.
Dalam sejarah diceritakan, seorang Musafir dari tanah Johor semenanjung Malaya (malaysia-red), Syaikh Maulana Ibrahim, dalam pengembaraanya menyebarkan Islam, sampailah ia di tanah Bungku sekitar tahun 1470-an Masehi. Takdir Allah Swt mempertemukannya dengan dua tokoh pemerintah kerajaan Bungku. Pertemuan itu terjadi di puncak bukit Fafon Sandeenga. Mereka kemudian bersepakat untuk menyebarkan risalah Rasulullah Saw di Tanah Bungku. Penyebaran Islam dikemudian hari menjadi mudah, Sangiang Kinambuka (Raja Bungku) menerima dakwah ini dan menjadi pemeluk Islam. Masyarakat yang berdiam di sekitar benteng kerajaan pun serta merta memeluk Islam. Kemudian membangun masjid pertama, di situs Benteng kerajaan Bungku.

Seiring berjalannya waktu, di tahun 1835 M, raja  Bungku ke VII Muhammad Baba (peapua le fifi rombia) berinisiatif memperluas dan merenovasi masjid dengan memindahkan ke lokasi yang lebih strategis dekat pelabuhan laut. Jadilah masjid baru ini sebagai masjid kedua. Material masjid di pindahkan dari situs benteng ke lokasi yang sekarang (marsaoleh). Arsitek Pengerjaan renovasi masjid dipercayakan kepada Merodo atau yang dikenal sebagai sangaji tuka, seorang tukang kayu dari One ete, yang masih punya pertalian darah sebagai bangsawan kesultanan ternate. Setelah setahun pengerjaannya tepat pada tahun 1836 Masjid ini berdiri megah, sebagai hasil gotong royong masyarakat Bungku.
    Masjid ini memiliki menara yang berdiri 25 meter dari permukaan tanah, dikenal sebagai menara alif yang  berarti tauhid (keesaan) Allah, sumber sejarah menceritakan dulunya  menara alif ini terpasang  simbol bulan bintang. Dengan luas mencapai 20x13  meter, masjid ini mampu menampung seratus lebih jamaah. Konon tegel (lantai) yang digunakan saat itu dikirim dari singapura, dindingnya terbuat dari beton terdiri dari susunan batu kapur,yang direkatkan dengan menggunakan putih telur dan getah kayu waru dan bahan-bahan lainnya. Sekilas bangunan ini mengikuti arsitektur masjid yang populer di masa itu, bisa di bandingkan dengan masjid tua kesultanan demak,masjid tua kesultanan Buton dan ternate, dengan atap yang bersusun lima yang memilki makna Rukun Islam.
    Pada tahun 1936 -1937 atas inisiatif raja Bungku ke XII areal masjid ini mengalami perluasan. Masjid ini dipimpin seorang  kale atau berarti Imam besar. Keaslian masjid tua Bungku yang sekarang masih banyak yang  dipertahankan,termasuk kombinasi warna kuning dan hijau baik pada kayu maupun pewarnaan pada terali besi dan ornamen-ornamen lainnya. Namun sayangnya atap masjid tua tidaklah menggunakan seng pada waktu itu, tetapi menggunakan atap daun sagu (ato rombia). Mimbar khatib yang ada sekarang adalah peninggalan asli dari situs pertama masjid yang ada di benteng Bahontobungku.
    Di tahun 1972 masjid tua yang diberi nama  Baiturrahim ini dipensiunkan, karena konstruksinya dianggap tidak aman. Masyarakat setempat bermufakat untuk membangun masjid baru bernama Baiturrahman,  yang sekarang menjadi Masjid Raya kec. Bungku tengah. Sejak itu masjid bersejarah ini hanya menjadi bangunan tua yang terabaikan. Pada Tahun 1992-1994 Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Sejarah dan Purbakala pada Dirjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melakukan Pemugaran menyeluruh untuk menjaga keutuhan situs ini.
    Untuk saat ini Masjid Tua baiturrahim kembali dipergunakkan, menunggu selesainya pembangunan Masjid raya Kabupaten Morowali  (Islamic Centre) yang direncanakan selesai pada tahun 2012. Pada hari-hari tertentu seperti  jumat Masjid ini terasa begitu sempit saat jamaah membludak. Sebagai jalan keluar, pengurus masjid mengambil keputusan memperluas dan menambah bangunan beranda di depan situs masjid yang dilindungi ini. Bahkan Sumur dan bak penampungan yang menjadi bagian menyatu dengan cagar budaya ini telah berubah bentuk menjadi tempat wudhu dan toilet seperti yang terlihat sekarang ini.
    Situs Masjid Tua ini merupakan cagar budaya yang dilindungi Undang-undang No 5 tahun 1992, ancaman hukuman bagi yang merubah bentuk, memindahkan atau merusak cagar ini sangat berat, diancam kurungan badan 10 tahun dan denda 100 juta rupiah (Pasal 15  UU No 5 1992). Keputusan untuk menambah dan berakibat perubahan  sebagian bentuk (bagian depan halaman) dari situs ini terpaksa di ambil oleh pengurus masjid, demi kenyamanan para jamaah yang shalat di masjid ini, karena rencananya masjid ini akan tetap digunakan walaupun masjid raya baru telah selesai pembangunannya.
    Disebelah situs ini juga terdapat  peninggalan sejarah lainnya  yaitu Situs Rumah Raja,  dan Makam Raja Bungku , Sesekali anda meluangkan waktu berkunjung ke Masjid ini, dan rasakan dalamnya pengembaraaan spritual sambil menyelami kehidupan religi para pendahulu tanah Bungku. Siapa tahu melahirkan inspirasi dalam pencarian kehidupan spritual anda.



back