Kabupaten

Kabupaten BARRU

Profil | Sejarah | Arti Logo | Nilai Budaya

Profil

Nama Resmi :Kabupaten Barru
Ibukota :Barru
Provinsi :Sulawesi Selatan
Batas Wilayah:

Utara:  Kota Pare-Pare dan Kabupaten Sidrap
Selatan:  Kabupaten Pangkajene Kepulauan
 Barat: Selat Makassar
Timur:
Kabupaten Soppeng dan Kabupaten Bone

Luas Wilayah:

1.174,71 Km2

Jumlah Penduduk:

206.008 Jiwa


Wilayah Administrasi:

Kecamatan: 7, Kelurahan: 14, Desa: 40


Website:

http://www.barrukab.go.id

 

(Permendagri No.66 Tahun 2011)

Sejarah

Kabupaten Barru dahulu sebelum terbentuk adalah sebuah kerajaan kecil yang masing - masing dipimpin oleh seorang Raja yaitu : Kerajaan Berru (Barru), Kerajaan Tanete,Kerajaan Soppeng Riaja dan Kerajaan Mallusetasi.
Dimasa pemerintahan Belanda dibentuk Pemerintahan Sipil Belanda dimana wilayah Kerajaan Berru,Tanete dan Soppeng Riaja dimasukkan dalam wilayah ONDER AFDELLING BARRU,yang bernaung dibawah AFDELLING PARE PARE sebagai kepala Pemerintahan Onder Afdelling diangkat seorang control Belanda yang berkedudukan di Barru, sedangkan ketiga bekas kerajaan tersebut diberi status sebagai Self Bestuur (Pemerintahan Kerajaan Sendiri) yang mempunyai hak otonom untuk menyelenggarakan Pemerintahan sehari-hari baik terhadap eksekutif maupun dibidang yudikatif. 
Dari sejarahnya, sebelum menjadi daerah-daerah Swapraja pada permulaan Kemerdekaan Bangsa Indonesia, keempat wilayah Swapraja ini merupakan 4 bekas Selfbestuur didalam Afdeling Pare-Pare masing-masing:

  1. Bekas Selbesteuur Mallusetasi yang daerahnya sekarang menjadi kecamatan MalluseTasi dengan Ibu Kota Palanro. Adalah penggabungan bekas-bekas Kerajaan Lili dibawah kekuasan Kerajaan Ajattapareng oleh Belanda sebagai Selfbestuur, ialah Kerajaan Lili Bojo dan Lili Nepo.
  2. Bekas selfbestuur Soppeng Riaja yang merupakan penggabungan 4 Kerajaan Lili dibawah bekas Kerajaan Soppeng (Sekarang Kabupaten Soppeng) Sebagai Satu Selfbestuur, ialah bekas Kerajaan Lili Siddo, Lili Kiru-Kiru, Lili Ajakkang, dan lili Balusu.
  3. Bekas Selfbestuur Barru yang sekarang menjadi Kecamatan Barru dengan lbu Kotanya Sumpang Binangae yang sejak semula memang merupakan suatu bekas kerajaan kecil yang berdiri sendiri.
  4. Bekas Selbestuur Tanete dengan pusat Pemerintahannya di Pancana daerahnya sekarang menjadi 3 Kecamatan masing-masing Kecamatan Tanete Rilau, Kecamatan Tanete Riaja, Kecamatan Pujananting.

Seiring dengan perjalanan waktu,maka pada tanggal 24 Pebruari 1960 merupakan tongkak sejarah yang menandai awal kelahiran Kabupaten Daerah TK.II Barru dengan Ibukota Barru berdasarkan Undang-Undang Nomor 229 tahun 1959 tentang pembentukan Daerah-Daerah Tk. II di Sulawesi Selatan. Kabupaten Barru terbagi dalam 7 Kecamatan dan 54 Desa/Kelurahan.

Sebelum dibentuk sebagai suatu Daerah Otonom berdasarkan UU No. 29 Tahun 1959 pada tahun 1961, Daerah ini terdiri dari 4 Wilayah Swapraja didalam kewedanaan Barru Kabupaten Pare-Pare lama, masing-masing Swapraja Barru Swapraja Tanete, Swapraja Soppeng Riaja dan bekas Swapraja Mallusetasi, Ibu Kota Kabupaten Barru sekarang bertempat di bekas ibu Kota Kewedanaan Barru.

Arti Logo

  1. Perisai dengan dasar warna hijau pinggir yang berwarna kuning melambangkan :
    • Kabupaten Barru terdapat diatas bumi dan tanah yang subur
    • Penduduknya beragama islam hampir 100%, sehingga kepatuhan pada rakyat ada
    • Rakyat Kabupaten Barru mempunyai banyak harapan untuk kemajuan daerahnya karena kesuburan buminya.
  2. Empat buah payung yang tertutup mengandung arti bahwa empat kerajaan dihapuskan lalu dilahirkan Kabupaten Barru.
  3. Pita berwarna biru mempunyai arti bahwa Kabupaten Barru adalah tenang dan setia.
  4. Tulisan ” BARRU ” dengan letter putih diatas pita yang berwarna biru mengandung arti bahwa Pemerintah Kabupaten Barru dipilih dari rakyat yang suci.
  5. Sebelah atas pita terdapat padi dan jagung, menggambarkan bahwa hasil utama Kabupaten Barru adalah padi dan jagung.
  6. Diantara padi dan jagung dalam lingkaran putih terdapat gunung dan lautan, mengandung arti bahwa rakyat Kabupaten Barru selain mempunyai banyak harapan juga mempunyai cita-cita dan pandangan yang sesuai dengan alam sekitarnya yakni cita-cita setinggi gunung dan pandangan seluas lautan, serta memiliki kemauan karena kemakmurannya untuk membawa daerah dan negaranya kearah kemajuan.

Nilai Budaya

Kehidupan Beragama. Jumlah sarana peribadatan mengalami peningkatan yaitu 205 unit masjid tahun 1995 menjadi 223 unit tahun 2000, 237 unit tahun 2005, dan 256 unit tahun 2008. Demikian pula jumlah mushalla dan sejenisnya yang meningkat dari 49 unit tahun 1995 menjadi 52 unit tahun 2005, dan menjadi 63 unit tahun 2008. Jumlah gereja meningkat dari 2 unit tahun 1995 menjadi 3 unit tahun 2008. Pemeluk agama Islam mencapai 99 persen pada tahun 2008 dan hampir tidak mengalami perubahan dari tahun-tahun sebelumnya, selebihnya adalah pemeluk agama Kristen dan Budha. Jumlah kelompok pengajian dan majelis taklim juga mengalami peningkatan yakni dari 53 kelompok tahun 1995 menjadi 85 kelompok tahun 2008.

Kelembagaan Masyarakat. Kelembagaan asli masyarakat meliputi berbagai pranata sosial gotong-royong dan tolong-menolong, ikatan patron-klien, serta bentuk-bentuk arisan. Kelembagaan yang dibentuk oleh program pembangunan juga berkembang dalam bentuk kelompok tani, kelompok peternak, kelompok nelayan, kelompok PKK, kelompok Posyandu, dan sebagainya. Lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak dalam pemberdayaan masyarakat juga berkembang, pada tahun 2008 setidaknya berfungsi tujuh LSM.

Adat-istiadat, Nilai dan Norma Sosial-budaya. Berbagai tradisi budaya telah berjalan dalam kehidupan masyarakat Kabupaten Barru, namun dalam dekade terakhir jenis dan intensitasnya cenderung berkurang. Jumlah jenis tradisi dan adat istiadat dalam kehidupan masyarakat Kabupaten Barru sebelum tahun 2000 sekitar 22 jenis dan pada tahun 2008 hanya 18 jenis yang bertahan. Selain itu, dari 18 jenis tersebut terdapat delapan jenis tradisi budaya dan adat istiadat yang cenderung mengalami kepunahan antara lain mallemmang, mabbette, seruling lontarak dan maggenrang riwakkang. Tradisi budaya dan adat istiadat yang masih bertahan dalam kehidupan masyarakat antara lain budaya yang terkait dengan aktivitas pertanian dan kelautan-perikanan seperti mappalili, mappadendang, maddojabine, massure, macceratasi, dan budaya yang terkait dengan keagamaan seperti aqiqah, mabbarasanji dan massikkiri pacci. Jumlah kelompok pelestari budaya mengalami peningkatan dari 10 kelompok pada tahun 2005 menjadi 17 kelompok pada tahun 2008.

Kesetaraan Jender dan Peran Perempuan. Komposisi anggota DPRD menurut jenis kelamin mengalami peningkatan dari dua anggota perempuan pada tahun 2000 menjadi tiga anggota perempuan pada tahun 2008. Dalam pemerintahan, 40 persen pegawai adalah perempuan. Peran perempuan dalam organisasi profesi dan LSM, terlihat bahwa jumlah perempuan yang terlibat sebagai anggota secara umum lebih sedikit dibandingkan dengan laki-laki. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa peran perempuan pada sektor publik relatif lebih kecil dibandingkan dengan peran laki-laki. Pada sektor pendidikan, jumlah perempuan buta-huruf lebih banyak dibanding laki-laki pada tahun 2003 yakni 15,77 persen dan 10,63 persen, pada tahun 2005 menjadi 15,40 persen berbanding 11,31 persen. Aspek lainnya yakni persentase perempuan yang menikah pada usia muda (16 tahun kebawah) cenderung menurun dari 29,57 persen pada tahun 2003 menjadi 24,96 persen pada tahun 2004 dan menjadi 24,65 persen pada tahun 2005. Persentase kepala rumah tangga perempuan mengalami penurunan dari 7,99 persen pada tahun 2003 menjadi 7,80 pada tahun 2004 dan 7,61 persen pada tahun 2005. Jumlah perempuan yang bekerja pada sektor primer mengalami penurunan dari 28,45 persen pada tahun 2003 menjadi 16,34 persen pada tahun 2004 dan menjadi 16,24 persen pada tahun 2005; sedangkan pada sektor tersier mengalami peningkatan dari 64,50 persen pada tahun 2003 menjadi 76,19 persen pada tahun 2004 dan 76,33 persen pada tahun 2005.

Ketertiban dan Keamanan. Salah satu indikator tingkat keamanan suatu daerah adalah tingkat kriminalitas atau kejahatan yang terjadi di daerah tersebut. Kriminalitas yang terjadi di Kabupaten Barru mengalami penurunan yang berarti dari 1.581 kali pada 22 jenis/bentuk kriminalitas tahun 2007 menjadi 596 kali pada 13 jenis/bentuk kriminalitas pada tahun 2008. Jumlah tindakan kriminalitas yang mampu diselesaikan pada tahun 2007 mencapai 1.488 kasus atau mencapai 94,12 persen dan pada tahun 2008 mencapai 576 kasus atau mencapai 96,64 persen. Secara umum masyarakat Kabupaten Barru hidup dalam kondisi aman dan tertib serta memiliki kohesivitas sosial yang relatif kuat.

back