Kabupaten

Kabupaten LUWU UTARA

Profil | Sejarah | Arti Logo | Nilai Budaya

Profil

Nama Resmi :Kabupaten Luwu Utara
Ibukota :Masamba
Provinsi :Sulawesi Selatan
Batas Wilayah:

Utara: Provinsi Sulawesi Tengah
Selatan: Kabupaten Luwu dan Teluk Bone
Barat: Kabupaten mamuju dan Kabupaten Tanah Toraja
Timur: Kabupaten Luwu Timur

Luas Wilayah:

7.502,58 Km2

Jumlah Penduduk: 

347.219 Jiwa


Wilayah Administrasi:

Kecamatan: 11, Kelurahan: 6, Desa: 165


Website:

http://www.luwuutara.go.id

 

(Permendagri No.66 Tahun 2011)

Sejarah

DESA kecil di bibir Danau Matano itu tak lagi menjadi desa yang sunyi. Desa yang berjarak sekitar 600 kilometer di sebelah timur laut Makassar itu rupanya menyimpan kekayaan alam yang luar biasa, berupa kandungan deposit nikel yang tak habis dieksploitasi hingga puluhan tahun.PT International Nickel Indonesia (Inco) beruntung mendapatkan daerah itu, dan pada tahun 1968 memperoleh kontrak karya untuk menambang. Sejak itu, Desa Soroako yang terletak di Kecamatan Nuha seakan tak pernah sepi dari suara ekskavator berukuran raksasa yang terus berderu mengais isi Bumi.itu, 54,17 persen berada di wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel), selebihnya berada di Sulawesi Tenggara (Sultra) dan Sulawesi Tengah (Sulteng). Produknya yang mencapai ratusan juta pon (puluhan ribu ton) dalam bentuk nikel matte terutama diekspor ke Jepang. Kegiatan eksplorasi tidak saja menjadi tambang dollar bagi Sulsel, tetapi juga menjadi andalan utama bagi kabupaten yang menaunginya kini, yaitu Luwu Timur.Kabupaten ini semula bagian dari Kabupaten Luwu Utara dan baru diresmikan sebagai daerah otonom pada 25 Februari 2003 lewat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2003. Sebagai kabupaten yang baru seumur jagung, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur masih berbenah. Belum terbentuknya DPRD membuat kabupaten ini belum memiliki lambang daerah, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), serta Dana Alokasi Umum (DAU). Berbagai data yang menyangkut perekonomian Luwu Timur sebagian besar masih belum dipisahkan dari kabupaten induk, Kabupaten Luwu Utara. Karena itu, data yang ditampilkan di sini pun sebagian besar masih berasal dari Luwu Utara.bagian dari Kabupaten Luwu Utara, pertambangan memang memberikan sumbangan yang besar bagi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Luwu Utara. Tahun 2001 sektor ini mempunyai peranan sebesar 57,86 persen. Penambangan nikel di Desa Soroako menjadi penyumbang terbesar. Keberadaan PT Inco tak dimungkiri memang menjadi ladang pemasukan kas daerah, terutama melalui bagi hasil pajak serta dari pajak bumi dan bangunan (PBB), yang pada tahun 2001 mencapai Rp 4,8 miliar.Kini, setelah Luwu Timur menjadi kabupaten otonom, dan Desa Soroako termasuk dalam wilayahnya, otomatis tambang dollar itu menjadi milik Luwu Timur. PDRB 2002 Luwu Timur menunjukkan kontribusi sektor pertambangan mencapai 69,51 persen, disusul sektor pertanian 25,62 persen. Sektor pertambangan tetap memegang peran penting bagi struktur perekonomian Luwu Timur.Kegiatan penambangan itu juga membawa perubahan besar, khususnya bagi Desa Soroako yang telah berkembang menjadi kawasan eksklusif. Walau letak Soroako terpencil di perbatasan tiga provinsi, Sulsel, Sultra, dan Sulteng, sarana komunikasi di desa itu tak memerlukan sambungan telepon interlokal, baik dari Makassar maupun Jakarta. Sebab, nomor telepon untuk kawasan PT Inco berkode area Makassar dan Jakarta. Infrastruktur di wilayah ini juga terbilang bagus. Jalan beraspal mulus dan fasilitas listrik yang terbilang royal.Sayangnya, segala fasilitas itu hanya bisa dinikmati di kawasan PT Inco dan permukiman karyawannya, serta program pembangunan masyarakat PT Inco yang baru bisa dinikmati sebagian penduduk yang tinggal di sekitar wilayah itu. Sementara di Kecamatan Towuti ada beberapa desa yang belum menikmati benderangnya cahaya lampu listrik. Desa Tokalimbo, Bantilang, dan Loeha, misalnya, walau sudah menikmati listrik, masih terbatas dari pukul 18.00-06.00. Bahkan, Desa Mahalona belum terjamah listrik sama sekali. Semua desa itu terletak di seberang Danau Matano, berseberangan dengan Desa Soroako.Penduduk Luwu Timur sebagian besar menggantungkan hidup dari lahan usaha pertanian. HasilSurvei Tenaga Kerja Daerah tahun 2002 menunjukkan, sektor pertanian menyerap 70,37 persen dari total 62.289 tenaga kerja. Tanah dan cuaca Luwu Timur memang sangat cocok untuk usaha pertanian dan perkebunan. Di Kecamatan Mangkutana, misalnya, saat masih menjadi bagian dari Kabupaten Luwu Utara, kecamatan ini merupakan produsen padi terbesar kabupaten itu. Tahun 2001 padi dari kecamatan ini memberi kontribusi sebesar 13,62 persen dari total produksi padi di Luwu Utara.jagung terluas di Kecamatan Burau mencapai 1.067 hektar, kedelai di Kecamatan Malili seluas 30 hektar, dan tanaman buah-buahan, seperti pisang, jeruk, dan durian.Kelapa sawit menjadi andalan kabupaten ini. Lahan perkebunan terdapat di Kecamatan Burau, Tomoni, dan Wotu. Selain perkebunan rakyat, kelapa sawit juga dikelola perkebunan besar swasta nasional dan perkebunan negara yang terbagi dalam perkebunan inti dan plasma. Perkebunan kelapa sawit milik rakyat tersebar di Kecamatan Mangkutana, Angkona, Malili, Tomoni, Burau, dan Wotu.

Meski di beberapa desa-terutama di desa-desa yang berada di seberang Danau Towuti-infrastruktur jalan dan transportasi belum tembus hingga ke sana, secara umum infrastruktur jalan dan transportasi bisa dibilang cukup memadai.

Semua potensi hasil pertanian dan perkebunan Luwu Timur di masa mendatang bisa menjadi andalan utama jika cadangan nikel di perut Bumi tak lagi bisa diandalkan. Apalagi melihat PDRB Luwu Timur apabila tanpa sektor pertambangan, kontribusi sektor pertanian menjadi yang utama. Sumbangannya bisa mencapai 84 persen.

Jumlah tenaga kerja di sektor ini pun menurut Survei Penduduk tahun 2000 menjadi yang terbesar, khususnya pertanian tanaman pangan (34,08 persen) dan perkebunan (25,9 persen). Pengembangan sektor pertanian ke arah agroindustri dan agrowisata agaknya bisa menjadi pertimbangan sejak sekarang.

Potensi lain yang juga bisa dikembangkan adalah sektor pariwisata. Di wilayah Luwu Timur terdapat tiga danau yang potensial sebagai obyek wisata alam. Selain Danau Matano, dua danau lainnya adalah Danau Towuti dan Danau Mahalona, yang semuanya masih asri. Obyek wisata alam lainnya berupa padang perburuan Matano di Kecamatan Nuha dan air terjun Salu Anoang di Kecamatan Mangkutana. Ada pula wisata sejarah Patung Megalit/Bolakodi, juga di Kecamatan Mangkutana.

Arti Logo

  1. Bintang Menggambarkan Ketuhanan Yang Maha Esa masyarakat Luwu Utara yang religius
  2. Payung Maejae Simbol Kekuasaan tertinggi raja Luwu yang (payung peroe) melambangkan kemanunggalan (masedi siri) antara pemerintah dan seluruh kornponen masyarakat Luwu Utara dan sekaligus simbol "pengayoman".
  3. Padi dan kapas Simbol kesejahteraan bagi masyarakat Luwu Utara yang cukup sandang dan pangan.
  4. Besi Pakkae Simbol kekuasaan raja Luwu maknanya adalah kesejahteraan egalitarian antara seluruh komponen masyarakat.
  5. Pohon sagu Simboi kerukunan, kekokohan, ketegaran masyarakat Luwu Utara.
  6. Wadah gambar Simbol dasar negara, wadah dalam kehidupan bersudut lima bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
  7. 7.Pita Simbol pengikat persaudaman.
  8. Payung dan besi Menggambarkan masyarakat Luwu Utara yang pakkae bermasyarakat dan berbudaya.

Nilai Budaya

Budaya dan adat istiadat sebagai identitas bangsa.

        Pada hakekatnya, awal lahirnya sebuah budaya atau adat istiadat adalah sebuah usaha sosial atau kelompok masyarakat untuk mempertahankan hidupnya terhadap desakan kebutuhan hidup yang diperhadapkan pada tantangan alam di sekitarnya. Akal dan pengetahuan manusia sebagai modal kreasi untuk menciptakan pola kebudayaan itu sendiri sehingga menciptakan nilai dan norma kehidupan yang diakui dan dipercaya sebagai sebuah kekuatan spiritual pada saat itu. Kreasi ini kemudian menjadi kekuatan moral untuk mengkontrol pola hubungan timbal balik antara manusia dan alam sekitarnya. 
       Kepercayaan ini tumbuh kuat secara kolektif dalam ranah kehidupan sosial bahkan dibeberapa tempat mengarah menjadi bentuk sebuah keyakinan. kekuatan mistik ini menjelma menjadi semacam pedoman untuk berprilaku secara pribadi maupun secara homogen. Pada prakteknya prosesi adat dan budaya ini  terlaksana dipimpin oleh seseorang yang dipercaya mampu menjembatani komunikasi metafisik antara alam nyata dan alam gaib. Istilah pemimpin mistik lokal ini sering kita dengan dengan sebutan dukun, atau pawang. 
Ket. Gbr : (Prosesi Manre Saperra atau Mappalesso Samaja di Desa Pattimang Kec. Malangke Kab. Luwu Utara pada tanggal 24 April 2012 - Dokumentasi Bid. Kebudayaan Dikominfobudpar Kab. Luwu Utara)
         Kekuatan kepercayaan masa lampau ini menjadi semakin kuat setelah mendapatkan legitimasi dari Pimpinan lembaga pemerintahan saat itu yaitu Raja, sehingga pada perkembangannya kebiasaan adat dan budaya setempat menjadi sangat terkontrol dan terkoordinir. Dibeberapa kawasan bekas kerajaan, kebiasaan ini menjadi terpelihara dan sangat sakral ketika prosesi adat dan budaya ini dikendalikan langsung oleh para pewaris kerajaan atau minimal mendapat restu dari pewaris kerajaan untuk melakukan ritual adat dan budaya tersebut. Inilah yang menjadi ciri khas masing - masing wilayah adat budaya sehingga kekuatan ini menjadi jati diri sebuah bangsa.
back