Kabupaten

Kabupaten BUTON UTARA

Profil | Sejarah | Arti Logo | Nilai Budaya

Profil

Nama Resmi :Kabupaten Buton utara
Ibukota :Buranga
Provinsi :Sulawesi Tenggara
Batas Wilayah:
  • Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Wawoni
  • Sebelah Timur  berbatasan dengan Laut Banda
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten  Buton
  • Sebelah Barat  berbatasan dengan Kabupaten  Muna
Luas Wilayah:

1.864,91 Km2

Jumlah Penduduk:

62.058 Jiwa

Wilayah Administrasi

Website

:

:

Kecamatan: 6, Kelurahan: 8, Desa: 49

http://www.butonutarakab.go.id

(Permendagri No.66 Tahun 2011)

Sejarah

Kabupaten Buton Utara yang terletak di Jazirah Pulau Buton pada masa sebelum kemerdekaan  merupakan bagian dari Kesultanan Buton yang merupakan salah satu Barata sekitar tahun 1580 yang disebut Barata Kulisusu pada masa Sultan Buton Ke IV (Sultan Dayanu Ikhsanuddin).

Setelah Indonesia merdeka, Barata Kulisusu yang kini disebut Buton Utara masuk dalam wilayah Kabupaten Dati II Sulawesi Tenggara dengan Ibukota Bau-Bau dan disebut Distrik Kulisusu dengan Ibukota Ereke yang ketika itu Kabupaten Sulawesi Tenggara adalah bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan. Pada tahun 1964 Kab. Dati II Sulawesi Tenggara memisahkan diri dari Provinsi Dati I Sulawesi selatan membentuk sebuah Daerah Otonom yaitu provinsi Dati I Sulawesi Tenggara dengan lahirnya UU Nomor 13 Tahun 1964 dengan Ibukota Kendari terbagi menjadi 4 (empat) Kabupaten yaitu Kabupaten Kendari, Kabupaten Buton, Kabupaten Muna dan Kabupaten  Kolaka dan  Distrik Kulisusu masuk dalam wilayah Pemerintahan Kabupaten Muna. Pada tahun 1996 Kecamatan Kulisusu terbagi menjadi 2 (dua) Kecamatan yaitu Kecamatan Kulisusu dan Kecamatan Bonegunu.

Tahun 2007 Buton Utara berpisah dari Kabupaten Muna membentuk sebuah Daerah otonom dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2007 tanggal 2 Januari 2007 ( Lembaran Negara RI tahun 2007 Nomor 16 ) tentang pemekaran Kabupaten Buton Utara dengan Ibukota Buranga yang terdiri dari 6 (enam) Kecamatan yaitu Kecamatan Kulisusu, Kecamatan Kulisusu Utara, Kecamatan Kulisusu Barat, Kecamatan Bonegunu, Kecamatan Kambowa dan Kecamatan Wakorumba Utara.

sumber : http://www.butonutarakab.go.id/statis-5-sejarahbutonutara.html

Arti Logo

KETERANGAN WARNA

  
1. 
Ungu
 : Ketenangan dan kesehatan
  2.
Putih
 : Kesucian, keluruhan, dan kejujuran
  3.
Merah
 : Keberanian
  4.
Kuning 
 : Keagungan, kejayaan, dan kemuliaan
  5.
Hijau
 : Kesejukan, kesuburan, dan kedamaian
  6.
Biru
 : Kesegaran
  7.
Coklat  : Kesabaran, penopang, dan kedekatan dengan lingkungan tradisi dan kebudayaan

 

 

 

 

 

 

 

 KETERANGAN LUKISAN
  

1. 

Perisai melambangkan selalu ingin mempetahankan kebenaran dan harapan masa depan cerah. Dengan lima sudut yang terdapat pada perisai menggambarkan konsistensi mempertahankan Pancasila.

 

2. 

Telur berbentuk bulat lonjong memberi makna adanya gagasan, ide, atau cita-cita indah yang kelak menetas menjadi suatu kesejahteraan rakyat Buton Utara.

 

3.

Padi dan kapas mengandung makna kemakmuran dan kesejahtreraan seperti pada Pancasila. Terdapat 17 (tujuh belas) butir menggambarkan kemerdekaaan Indonnesia dan bunga kapas berjumlah 8 (delapan) menggambarkan kemerdekaan Indonesia pada bulan 8.

 

4.

Kerang raksasa adalah lambang kebesaran masyarakat Buton Utara, diyakini bahwa setiap orang yang berkunjung ke Buton Utara belum sampai di Buton Utara sebelum menyentuh kerang tersebut. Kerang raksasa (Tridacna giags) di samping menjadi simbol kebesaran, juga secara hukum dan ilmiah merupakan hewan yang dilindungi serta menghasilkan mutiara.  Hal tersebut bermakna bahwa kekayaan sumber daya alam harus dilestarikan. Juga, kerang bersifat memfilter/menyaring bermakna bahwa masyarakat Buton Utara selalu selektif dan berhati-hati dalam segala perbuatannya.

 

5.

Benteng adalah lambang pertahanan dan keamanan untuk mempertahankan harkat, martabat kemanusiaan, dan moral. Juga bermakna mempertahakan jati diri terhadap pengaruh negatif dari luar. Keamanann harus terjamin agar pembangun dapat berjalan dinamis, menjaga/melestarikan kekayaaan alam di darat dan di laut. Tidak semua daerah mempunyai benteng karena itu pencitraan atau karakter ini harus dipertahankan.

 

6.

Gunung dengan tiga puncak yang saling berhubungan menggambarkan bahwa filosofi dasar masyarakat Buton Utara ada tiga prinsip:

 

 

  (1). Bolimo karo somanamo lipu.
  (2). Bolimo lipu somanamo sara.
  (3). Bolimo sara somanamo adati agama.

 

7.

Pita mempunyai makna keinginan masyarakat Buton Utara untuk menyerap, merekam, dan memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

8.

Rantai mempunyai makna adanya pengakuan persatuan dan kesatuan dalam kerangka Bhineka Tunggal Ika. Rantai mempunyai makna adanya kebersamaan, persatuan dalam wilayah Kabupaten Buton Utara. Terdapat enam rantai yang saling berkaitan menggambarkan bahwa diawal pemekaran Buton Utara mempunyai 6 wilayah kecamatan yang bersatu padu.

 

9.

Riak ombak terdapat 2 gelombang dan setiap gelombang terdapat 7 riak. Hal tersebut menunjukkan bahwa Buton Utara mekar pada tanggal 2 tahun 2007. Riak ombak mengggambarkan kekayaan alam pada matra laut beserta segala isinya.

 

10. 

Buku yang terbuka melambangkan keinginan masyarakat untuk siap meraih prestasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi serta iman dan taqwa secara terus menerus dengan meningkatkan sumber daya manusia.

 

11.

Perahu, terdapat satu perahu bahwa Buton Utara mekar pada bulan 1 (Januari). Juga menyatakan bahwa di mana pun kita berada tetap tidak kehilangan identitas diri sebagai bangsa.

 

12.

Bintang mengandung makna global, jika dikaitkan dengan cita-cita yang tinggi ”gantungkan cita-cita setinggi bintang di langit”. Bintang yaitu lambang keagamaan, sehingga selaras dengan filosofi “adat besendikan sara dan bersendikan kitabullah”.

 

13..

Tulisan LIPU TINADEAKONO SARA bahwa berdasarkan sejarah Buton Utara adalah negeri yang didirikan dan dibangun oleh SARA.

sumber : http://www.butonutarakab.go.id/statis-7-artilambang.html

 

Nilai Budaya

Upacara Tradisional

Kabengka (Perere / Sunatan)
Proses peralihan dari masa kanak – kanak ke masa pra remaja yang ditandai dengan pengislaman atau sunatan yang artinya anak tersebut sudah siap bertanggung jawab atas agama yang dianutnya. Biasanya syarat wajib diikutsertakan dalam proses sunatan ketika anak tersebut berusia di atas tujuh (7) tahun atau sebelum remaja.

Alionda    

Alionda merupakan bentuk persatuan masyarakat kulisusu dalam sebuah tari yang dilaksanakan di saat menyambut bulan suci ramadhan. Pelaksanaan alianda adalah tiga hari sebelum Bulan Ramadhan dan tiga hari setelah Bulan Ramadhan/Idul Fitri.Tarian tersebut dipertunjukkan oleh semua kalangan dengan tidak mengenal usia. Peserta tari membentuk sebuah lingkaran yang di dalam lingkaran tersebut ada beberapa pertunjukan antara lain: pencak silat, tari ngibi, pengkalumba (kejar-kejaran).

Kompangia
Sebuah tarian yang dipertunjukan saat penjemputan tamu terhormat.

Benda Cagar Budaya Desa Tomoahi

  1. Benteng Gundu

    Menurut cerita masyarakat dikisahkan bahwa setelah Benteng Lipu diduduki oleh suku Tobelo, maka seluruh masyarakat lari bertahan di puncak bukit Bangkudu. Versi lain dikisahkan oleh karena letak Epe sangat jauh dengan bukit Bangkudu, maka masyarakatnya naik bermukim di 3 buah bukit sebelah Barat perkampungan yakni Gundu, bukit Laihori, dan Tomoahi. Di puncak 3 buah bukit inilah masing-masing kelompok masyarakat Epe mendirikan benteng-benteng pertahanan yang dipimpin oleh masing-masing Sangia.


    Benteng Gundu berada di atas sebuah bukit yang berjarak + 2,5 km arah Barat kampung Epe. Data awal Benteng Gundu adalah sebagai berikut:

    • Benteng Gundu berbentuk seperti huruf U
    • Panjang dinding benteng 88 meter, tinggi 90 cm dan lebar 30 cm.
    • Susunan dinding benteng sangat kecil (hanya satu batu), mungkin berfungsi juga sebagai pelindung dari serangan binatang buas.
    • Benteng Gundu berhadapan langsung dengan teluk Wa Ode Buri.

      Oleh karena permukaan dinding benteng sangat kecil (tidak tebal), maka kekuatan bangunan ini jelas akan berkurang. Faktor yang menyebabkan runtuhnya dinding benteng antara lain diakibatkan desakan akar pohon, gempa bumi, maupun tertimpa batang-batang kayu yang roboh.

  2. Benteng Laihori

    Benteng ini didirikan oleh Sangia Laihori yang bertujuan untuk mempertahankan diri dari serangan suku Tobelo. Di samping itu dapat pula berfungsi sebagai pelindung masyarakatnya dari gangguan binatang.
    Benteng Laihori berada + 4 km arah barat kampung Epe. Data awal benteng ini sebagai berikut:

    • Benteng didirikan mengikuti dua buah bukit kecil.
    • Terdapat satu buah pintu masuk yang masih utuh dan berada pada bagaian dasar bukit.
    • Bentuk bangunan benteng kemungkinan besar seperti huruf U, membujur dari bawah ke atas bukit dan menghadap ke kampung Epe.
    • Bangunan dinding benteng belum dapat diidentifikasi karena hampir seluruh permukaan kedua bukit banyak terdapat reruntuhan batu-batu benteng.

    • Dinding benteng Laihori hampir seluruhnya runtuh kecuali pada pintu masuk di bagian dasar bukit.

  3. Benteng Tomoahi

    Benteng ini didirikan oleh Sangia Tomoahi yang bertujuan disamping mempertahankan diri dari serangan musuh, juga untuk melindungi diri dari gangguan binatang buas.


    Benteng Tomoahi berada di atas sebuah bukit yang berjarak + 3,5 km sebelah barat daya kampung Epe. Data awal benteng ini sebagai berikut:

    • Benteng Tomoahi membujur arah Timur Laut – Barat Daya menghadap pada daratan rendah yang luas hingga ke bukit Laihori.

    • Batu-batu benteng banyak berserakan dalam lingkungan kompleks benteng.

    • Pintu masuk benteng belum dapat diidentifikasi karena banyak bagian dinding yang terputus.

    • Pengukuran tidak dilakukan oleh tim BCB karena reruntuhan batu-batu benteng masih susah diidentifikasi karena keadaan hutan yang sangat lebat dan padatnya semak belukar yang menutupi puncak bukit.

    • Kerusakan dinding benteng utamanya disebabkan oleh desakan akar-akar pohon dan tertimpa oleh batang-batang kayu yang roboh. Faktor lain bisa terjadi karena dinding benteng sangat  tipis (satu buah batu) sehingga tidak tahan terhadap gempa maupun gangguan binatang liar.

back