Kabupaten

Kabupaten KOTA JAYAPURA

Profil | Sejarah | Arti Logo | Nilai Budaya

Profil

Nama Resmi :Kota Jayapura
Ibukota :Jayapura
Provinsi :PAPUA
Batas Wilayah:

Utara: Samudera Pasifik
SelatanDistrik Arso Kabupaten Keerom
Barat: Distrik Sentani dan Depapre Kabupaten Jayapura
Timur: NEGARA PAPUA NUGINI

Luas Wilayah:

935,92 Km2

Jumlah Penduduk:

377.773 Jiwa

 

Wilayah Administrasi:

Kecamatan: 5, Kelurahan:25, Desa:13


Website: http://www.jayapurakota.go.id/

 

(Permendagri No.66 Tahun 2011)

Sejarah

(SEJARAH PEMEINTAHAN KOTA)

Irian Jaya definitif kembali ke Indonesia 1 Maret 1963. Sejak 1 Mei 1963 sampai sekarang (2010) sudah 47 tahun berlalu. Banyak sekali kemajuan dan perubahan yang terjadi di Irian Jaya. Kabupaten Ibukota Kabupaten Jayapura dimekarkan menjadi kota Administratif (kotif) Jayapura. Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 26/1979 tanggal 28 Agustus 1979 tentang pembentukan Kota Administratif Jayapura, maka dengan ketentuan pelaksanaan Permendagri No. 5 tahun 1979 dan Instruksi Mendagri No. 30 tahun 1979, Kota Jayapura pada hari Jumat, 14 September 1979, di  resmikan sebagai Kota Administraratif oleh Bapak Haji Amir Machmud, Menteri dalam Negeri Republik Indonesia. Pada hari yang sama dilantik Drs. Florens Imbiri sebagai Walikota Jayapura oleh Bapak Haji Soetran, Gubernur KDH. Tingkat I Irian Jaya. Lokasi peresmian Kotif Jayapura adalah halaman kantor Dharma Wanita Propinsi Irian Jaya, Jl. Sam Ratulangi Dok 5 Atas.

Jadilah kota administratif yang pertama di Irian Jaya, dan yang ke 12 di Indonesia, Walikota Adminstratif pertama Drs. Florens Imbiri 1979-1989, Walikota Administratif kedua Drs. Michael Manufandu, MA 1989-1993. Berdasarkan UU No. 6 tahun 1993, Jayapura terjadi perubahan dibidang pemerintahan.

Kota Adminstratif Jayapura menjadi Kotamadya Dati II Jayapura oleh Bapak Mendagri Yogie S.M betempat di lapangan Mandala Jayapura. Pada hari yang sama dilantik Drs. R. Roemantyo sebagai WaliKota KDH. Tingkat II Jayapura.

WaliKota KDH. Tingkat II Jayapura menyusun dan melengkapi aparat, dinas otonom, dan dinas vertikal serta membentuk DPRD Kota, sesuai UU No, 5. tahun 1974 WaliKota KDH Tingkat II Jayapura dipilih oleh DPRD Kota dan terpilih Drs R. Roemantyo sebagai WaliKota yang definitif periode 1994/1995-1998/1999. Sekretariat Kota untuk pertama kali berkantor di Yoka menempati eks kompleks APDN di pinggir Danau Sentani. Setelah kantor baru berlokasi di Entrop selesai dibangun, pada bulan Juli 1998 kantor pindah ke Entrop di Jln. Balai Kota No. 1 Entrop Distrik Jayapura Selatan.
Tongkat estafet pembangunan dilanjutkan oleh    Bapak    Drs.  M. R   Kambu,  M.Si  sebagai Walikota Jayapura dan J.I Renyaan, SH sebagai Wakil Walikota Jayapura periode 1999/2000 – 2004/2005.

Untuk pertama kalinya pada tahun 2004 - 2005 dalam sejarah demokrasi di Indonesia pada umumnya dan Kota Jayapura pada khususnya dilakukan pemilihan kepala daerah secara langsung oleh rakyat, dimana masyarakat Kota Jayapura  masih memberi kepercayaan kepada Bapak Drs. M.R Kambu, M.Si sebagai Walikota Jayapura dan Sudjarwo, BE sebagai Wakil Walikota Jayapura periode 2005 – 2010. Kemudian dilanjutkan oleh Drs. Benhur Tommy Mano MM, dan DR. H. Nur Alam SE, M.Si sebagai Wakil Walikota Jayapura periode 2011 – 2016.

(SEJARAH JAYAPURA)

Kota Jayapura telah sejak lama bersentuhan dengan dunia luar. Hal ini ditunjukkan dengan adanya  Orang-orang luar yang pernah singgah di tanah Papua ini adalah orang Spanyol yang pernah mengarungi samudera dan bersentuhan dengan orang-orang Indonesia pada umumnya dan orang-orang Irian pada khususnya. Sejarah arung samudera telah mencatat secara baik seseorang berbangsa Spanyol bernama YNICO ORTIS DE FRETES. Dengan kapalnya bernama “SAN JUAN“ pada tanggal 16 Mei 1545   berangkat dari Tidore ke Mexico. Dalam perjalanan Ortis de Fretes tersebut tiba disekitar muara sungai Mamberamo pada tanggal 16 Juni 1545 memberikan nama NOVA GUINEA kepada orang-orang dan tanah Papua atau Irian Jaya.

Sesudah Ortis de Frets menyusul lagi pengarung - pengarung samudera yang lain antara lain ALVARO MEMDANA DE NEYRA (1567), ANTOMIO MARTA (1591–1593), dan lain-lain. Dapat disimpulkan bahwa orang-orang Spanyol pun pernah ada kontak dan sentuhan dengan penduduk di Jayapura dan sekitarnya.

Secara khusus sejarah tentang Kota Jayapura sebagai berikut :

Selanjutnya Besleit (Surat Keputusan) Gubernemen Hindia Belanda Nomor 4 tanggal 28 Agustus 1909 kepada Asisten residen, di Manokwari diperbantukan 1 detasemen  (4 Perwira + 80 tentara). Dalam surat keputusan tersebut antara lain tertera (dalam bahasa Belanda) diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Sebagai lanjutan dari pelaksanaan surat keputusan ini, maka pada tanggal 28 September 1909 kapal “EDI” mendaratkan satu detasemen tentara dibawah komando Kepten Infanteri F.J.P SACHSE, segera dimulai menebang pohon-pohon kelapa sebanyak 40 pohon, tetapi segera pula pembayaran ganti rugi harus dilakukan kepada pemiliknya seharga 40 ringgit atau 40 x f2,50 = f100,- (seratus gulden/rupiah). Suatu jumlah uang yang sangat besar waktu itu – 1910 seorang ahli lain bernama KIELICH menulis ”Hollandia kostte vierting (40) rijk daalders“ Jayapura harganya 40 ringgit atau f100,- (seratus gulden/rupiah).

Berdirilah kompamen pertama yang terdiri dari tenda-tenda, tetapi segera diusahakan untuk mendirikan perumahan-perumahan dari bahan sekitar tempat itu. Penghuni-penghuni pertama terdiri dari 4 Perwira, 80 anggota tentara, 60 pemikul, beberapa pembantu dan isteri-isteri para angkatan bersenjata ini, total keseluruhan berjumlah 290 orang.

Ada 2 sungai masing-masing Numbai dan Anafri yang menyatu dan bermuara di teluk  Numbai  atau  Yos Sudarso, dengan sebutan populer muara sungai Numbai. Sungai Numbai-Anafri mengalir melalui satu ngarai yang berawa-rawa penuh dengan  pohon-pohon sagu dan bermata air di pegunungan Cycloop. Karena patroli perbatasan memberi nama ”Germanihoek” (pojok Germania/Jerman) kepada kompamennya, maka Kapten Sachse memberi nama “HOLLANDIA” untuk tempat mereka/Belanda.

Pemberi nama Hollandia adalah seorang Belanda-Kapten Sachse, tidak mau tahu dan tidak minta persetujuan pemilik tanah lokasi itu. Yang penting selera saya Sachse dari Holland / Belanda. Apa arti Hollandia ? Hol = lengkung; teluk, land = tanah; tempat. Jadi Hollandia artinya tanah yang melengkung atau tanah/tempat yang berteluk. Negeri Belanda atau Holland atau Nederland–geografinya menunjukkan keadaan berteluk teluk. Georgrafi kota Jayapura hampir sama dengan garis pantai utara negeri Belanda itu. Kondisi alam yang lekuk-lekuk inilah yang mengilhami Kapten Sachse untuk mencetuskan nama Hollandia di atas nama asli Numbay. Numbay ditimpa atau diganti nama sampai 4 kali; Hollandia - Kotabaru-Sukarnopura - Jayapura, yang sekarang dipakai adalah “JAYAPURA”.

Irian Jaya definitif kembali ke Indonesia 1 Maret 1963. Sejak 1 Mei 1963 sampai sekarang (2010) sudah 47 tahun berlalu. Banyak sekali kemajuan dan perubahan yang terjadi di Irian Jaya. Ibukota Kabupaten Jayapura dimekarkan menjadi kota Administratif (kotif) Jayapura. Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 26/1979 tanggal 28 Agustus 1979 tentang pembentukan Kota Administratif Jayapura, maka dengan ketentuan pelaksanaan Permendagri No. 5 tahun 1979 dan Instruksi Mendagri No. 30 tahun 1979, Kota Jayapura pada hari Jumat, 14 September 1979, di  resmikan sebagai Kota Administraratif oleh Bapak Haji Amir Machmud, Menteri dalam Negeri Republik Indonesia. Pada hari yang sama dilantik Drs. Florens Imbiri sebagai Walikota Jayapura oleh Bapak Haji Soetran, Gubernur KDH. Tingkat I Irian Jaya. Lokasi peresmian Kotif Jayapura adalah halaman kantor Dharma Wanita Propinsi Irian Jaya, Jl. Sam Ratulangi Dok 5 Atas.

Jadilah kota administratif yang pertama di Irian Jaya, dan yang ke 12 di Indonesia, Walikota Adminstratif pertama Drs. Florens Imbiri 1979-1989, Walikota Administratif kedua Drs. Michael Manufandu, MA 1989-1993. Berdasarkan UU No. 6 tahun 1993, Jayapura terjadi perubahan dibidang pemerintahan.

Kota Adminstratif Jayapura menjadi Kotamadya Dati II Jayapura oleh Bapak Mendagri Yogie S.M betempat di lapangan Mandala Jayapura. Pada hari yang sama dilantik Drs. R. Roemantyo sebagai WaliKota KDH. Tingkat II Jayapura.

WaliKota KDH. Tingkat II Jayapura menyusun dan melengkapi aparat, dinas otonom, dan dinas vertikal serta membentuk DPRD Kota, sesuai UU No, 5. tahun 1974 WaliKota KDH Tingkat II Jayapura dipilih oleh DPRD Kota dan terpilih Drs R. Roemantyo sebagai WaliKota yang definitif periode 1994/1995-1998/1999. Sekretariat Kota untuk pertama kali berkantor di Yoka menempati eks kompleks APDN di pinggir Danau Sentani. Setelah kantor baru berlokasi di Entrop selesai dibangun, pada bulan Juli 1998 kantor pindah ke Entrop di Jln. Balai Kota No. 1 Entrop Distrik Jayapura Selatan.

Tongkat estafet pembangunan dilanjutkan oleh Bapak Drs. M. R Kambu, M.Si sebagai Walikota Jayapura dan J.I Renyaan, SH sebagai Wakil Walikota Jayapura periode 1999/2000 – 2004/2005.

Untuk pertama kalinya pada tahun 2004 - 2005 dalam sejarah demokrasi di Indonesia pada umumnya dan Kota Jayapura pada khususnya dilakukan pemilihan kepala daerah secara langsung oleh rakyat, dimana masyarakat Kota Jayapura masih memberi kepercayaan kepada Bapak Drs. M.R Kambu, M.Si sebagai Walikota Jayapura dan Sudjarwo, BE sebagai Wakil Walikota Jayapura periode  2005 – 2010.

Kemudian dilanjutkan oleh Drs. Benhur Tommy Mano MM, dan DR. H. Nur Alam SE, M.Si sebagai Wakil Walikota Jayapura periode 2011 – 2016.

( sumber : http://www.jayapurakota.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=122&Itemid=268 )

Arti Logo

Berdasarkan Peraturan Daerah No. 17/1995 telah ditetapkan lambang dan motto Kota Jayapura sebagai berikut :

Bentuk Dan Arti Lambang Daerah

Wadah lambang daerah berbentuk perisai berpaju lima berwarna dasar kuning emas dan di dalamnya terdapat tulisan KOTA JAYAPURA yang menggambarkan unsur-unsur sebagai pusat pemerintahan, pembangunan, perdagangan, industri, pendidikan, wisata, dan olah raga yang keseluruhannya merupakan  satu kesatuan dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia pada umumnya dan masyarakat di daerah pada khususnya.

Dalam lambang daerah ini digambarkan beberapa hal sebagai berikut :

  • Setangkai padi berwarna kuning dengan jumlah biji 21 buah dan setangkai bunga kapas terdiri dari 9 (sembilan) buah yang berwarna putih serta kelopak kapas berwarna hijau daun yang diikatkan dengan pita berwarna merah putih dengan lilitan  9 (sembilan) kali dan ujung pita berjurai 3 (tiga) yang kesemuanya melambangkan terbentuknya Kotamadya Daerah Tingkat II Jayapura pada tanggal 21 September 1993 di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  • Dua buah perisai warna dasar putih berukur motif khas Jayapura masing-masing perisai berjumlah 4 (empat) dengan ukiran warna hitam, menggambarkan monumen sejarah rakyat Irian Jaya khususnya di Jayapura untuk kembali ke wilayah Republik Indonesia, disamping itu kota Jayapura merupakan kota yang memiliki potensi budaya yang tinggi.
  • Pondasi/pondamen bersusun 3 (tiga ) ditandai dengan warna hijau tua, biru laut dan merah menggambarkan bahwa daerah ini wilayahnya terdiri dari tanah berbukit, lautan bebas serta posisi dan letaknya berada di wilayah paling timur Indonesia yang berbatasan dengan Negara Papua New Guinea (PNG).
  • Motto “PRASETYA ADI KARYA“ berarti tekad untuk mewujudkan karya yang terbaik.

Arti warna dalam lambang daerah :

  • Warna Kuning : keadilan, kekuasaan, kewibawaan dan keagungan.
  • Warna Biru : pengabdian, kesetiaan dan kebijaksanaan.
  • Warna Merah Putih : Semangat dinamis yang berani dan dilandasi ketulusan dan kesucian.
  • Warna Hijau : Kesuburan, kemakmuran, untuk  menuju kesejahteraan.

(Sumber : http://www.jayapurakota.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=145&Itemid=282)

Nilai Budaya

Latar Belakang Monumen Jepang

 
Monumen Perang Dunia II Tentara jepang yang dibangun oleh Pemerintah kabupaten Jayapura pada tahun 2009 dimaksudkan untuk mengenang sejarah orang-orang dari jepang dan para prajurit gagah berani dari tentara kekaisaran Jepang yang kehilangan nyawa mereka selama perang dunia II di atas tanah ini pada tahun 1943 dan 1944. Saat itu di tempat ini pada 30 April 1944, Mayor Jenderal Masazumi Inada beserta 7.220 pasukan tentara kekaisaran Jepang melakukan long march (perjalanan panjang) sejauh 125 mil ke arah barat menuju Sarmi-Pulau – Wakde karena serangan dan kepungan pasukan sekutu.

Dari 7.220 prajurit yang berkumpul di sini, selama perjalan mereka, hanya 500 tentara tiba di Sarmi dengan Mayor Jenderal Masazumi Inada pada 17 Mei 1944. Lebih dari 6.700 tentara tewas dan dikuburkan di antara sini dan Sarmi. Tentara jepang yang tewas pada saat itu kebanyakan adalah mantan karyawan sipil yang akhirnya tewas karena dilanda kelaparan, tragedi tersebut terjadi sekitar bulan maret sehingga disebut “tragedi maret” sebanyak 90% tentara jepang yang ada saat itu tewas karena kelaparan dan penyakit lainnya (bukannya serangan tentara sekutu).

Di kampung Kuase, Genyem (tepatnya di sekitar kamp kopasus saat ini) banyak ditemukan kerangka dan peralatan perang dan masak, salah satunya di dekat rumah Mr. Martin (sekarang adalah anggota MRP Papua). Di tempat tersebut sering sekali orang-orang jepang datang berziarah dan bersembahyang untuk mengenang keluarga mereka yang tewas.

Pada April 1998, salah seorang mahasiswa jepang yang sedang belajar di Universitas Indonesia bernama “Rei Makoto Okawa” mengunjungi genyem dan bertemu dengan Mr. martin (salah seorang yang mengumpulkan kerangka tentara jepang dan beberapa peralatan masak dan peralatan perang dan menumpuknya di salah satu sudut rumahnya, berupa tonggak kayu, dan di tempat itulah banyak orang jepang yang mengunjungi dan bersembahyang untuk mengenang arwah keluarga mereka.
Sampai saat itu, pemerintah Kabupaten Jayapura belum mengetahui secara pasti tempat tersebut, baru pada tahun 2006 Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Jayapura, Alexander Griapon, yang juga salah satu putra kelahiran Genyem, mendapatkan informasi tentang tempat tersebut. Pada suatu pertemuan antara masyarakat, pemerintah kabupaten jayapura yang diwakili oleh Alexander Griapon selaku Kepala Dinas Parsenibud Kabupaten Jayapura dan beberapa orang jepang yang kebetulan berada di Genyem, menyepakati untuk membangun monumen di daerah itu guna mengenang tewasnya tentara jepang, dan juga untuk memberikan tempat bagi orang-orang jepang yang ingin berziarah
dan bersembahyang ke tempat tersebut.Hingga akhirnya, melalui dana Otsus Kabupaten Jayapura tahun 2009 dibangunlah monumen (kurang lebih berukuran 4 x 6 m) tersebut yang diberi nama “Monumen Perang Dunia II Tentara Jepang”.
Pada monumen tersebut terdapat prasasti yang bertuliskan :
“This memorial is dedicated to the people of japan and to the brave and courageous soldiers of the Japanese imperial army who lost their lives during the world war II on this land in 1943 and 1944. It was on this spot on April 30th 1944 that Major Jenderal Masazumi Inada assembled 7220 troops of the Japan imperial army for a 125 mile long march westward to sarmi-wakde in retreat againts the advancing allied forces. Of the 7220 soldiers who were gathered here to start the walk, only 500 soldiers arrived in sarmi with Major jenderal Masazumi Inada on May 17th 1944. More than 6700 troops died and were buried between here and Sarmi. This war memorial stands here in remembrance to all those and who lost their lives on this land during the world war II campaign and also as a symbol of world peace. MAY THEIR SOULS REST IN PEACE”.
Selain sebagai objek wisata sejarah, maka pembangunan tugu ini juga dimaksudkan sebagai lambang perdamaian bagi seluruh umat manusia, dan perwujudan dari keterbukaan Pemerintah dan Masyarakat Kabupaten Jayapura untuk bekerjasama dengan berbagai pihak dalam membangun kabupaten Jayapura secara berkelanjutan dan bermartabat.
Location of Japanese Army Monument (Monuments of World War II Japanese Army)
back