Provinsi

NUSA TENGGARA BARAT

Profil | Sejarah | Arti Logo | Nilai Budaya

Profil

Nama Resmi

:

Provinsi Nusa Tenggara Barat

Ibukota

:

 Mataram

Luas Wilayah

:

18.572,32 Km2 *)

Jumlah Penduduk

:

5.155.440 Jiwa *)

Suku Bangsa

:

Sasak, Sumbawa, Mbojo

Agama

:

Islam, Kristen Protestan, Hindu, Katolik, Budha.

Wilayah Administrasi

:

Kab.: 8,  Kota : 2, Kec.: 116, Kel.: 142, Desa : 995 *)

Lagu Daerah

:

Orlen-orlen

Website:

:

http://www.ntbprov.go.id

*) Sumber : Permendagri Nomor 39 Tahun 2015

Sejarah

Keberadaan status provinsi, bagi NTB tidak datang dengan sendirinya. Perjuangan menuntut terbentuknya Provinsi NTB berlangsung dalam rentang waktu yang cukup lama. Provinsi NTB, sebelumnya sempat menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur dalam konsepsi Negara Republik Indonesia Serikat,dan menjadi bagian dari Provinsi Sunda kecil setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia. 

Seiring dinamika zaman dan setelah mengalami beberapa kali proses perubahan sistem ketatanegaraan pasca diproklamasikannya Kemerdekaan Republik Indonesia, barulah terbentuk Provinsi NTB. NTB, secara resmi mendapatkan status sebagai provinsi sebagaimana adanya sekarang, sejak tahun 1958, berawal dari ditetapkannya Undang-undang Nomor 64 Tahun 1958 Tanggal 14 Agustus 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah Swatantra Tingkat I Bali, NTB dan NTT, dan yang dipercayakan menja di Gubernur pertamanya adalah AR. Moh. Ruslan Djakraningrat. 

Walaupun secara yuridis formal Daerah Tingkat I NTB yang meliputi 6 Daerah Tingkat II dibentuk pada tanggal 14 Agustus 1958, namun penyelenggaraan pemerintahan berjalan berdasarkan Undang- undang Negara Indonesia Timur Nomor 44 Tahun 1950, dan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1957 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah. Keadaan yang tumpang tindih ini berlangsung hingga tanggal 17 Desember 1958, ketika Pemerintah Daerah Lombok dan Sumbawa di likuidasi. Hari likuidasi inilah yang menandai resmi terbentuknyaProvinsi NTB. Zaman terus berganti, konsolidasi kekuasaan dan pemerintahanpun terus terjadi. 

Pada tahun 1968 dalam situasi yang masih belum menggembirakan sebagai akibat berbagai krisis nasional yang membias ke daerah, gubernur pertama AR. Moh. Ruslan Tjakraningrat digantikan oleh HR.Wasita Kusuma. Dengan mulai bergulirnya program pembangunan lima tahun tahap pertama (pelita I) langkah perbaikan ekonomi, sosial, politik mulai terjadi. Pada tahun 1978 H.R.Wasita Kusuma digantikan H.Gatot Soeherman sebagai Gubernur Provinsi NTB yang ketiga. Dalam masa kepemimpinannya, usaha-usaha pembangunan kian dimantapkan dan Provinsi NTB yang dikenal sebagai daerah minus, berubah menjadi daerah swasembada. Pada tahun 1988 Drs. H. Warsito, SH terpilih memimpin NTB menggantikan H. Gatot Soeherman. Drs.H.Warsito, SH mengendalikan tampuk pemerintahan di Provinsi NTB untuk masa dua periode, sebelum digantikan Drs. H. Harun Al Rasyid, M.Si pada tanggal 31 Agustus 1998. 

Drs. H. Harun Al Rasyid M.Si berjuang membangun NTB dengan berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui Program Gema Prima. Tahun 2003 hingga 1 september 2008 Drs. H. Lalu Serinatadan wakil Gubernur Drs.H.B. Thamrin Rayes memimpin NTB. Pada masa ini berbagai macam upaya dilakukan dalam membangun NTB dan mengejar ketertinggalan diberbagai bidang dan sektor. Di zaman ini,sejumlah program diluncurkan, seperti Gerbang E-Mas dengan Program Emas Bangun Desa. Selain itu, pada masa ini pembangunan Bandara Internasional Lombok di Lombok Tengah mulai terealisasi dan ditargetkan rampung pertengahan 2009. 

Dalam usianya yang ke-52 Provinsi NTB kini dipimpin oleh salah satu putra terbaiknya yaitu Gubernur Dr. KH. M. Zainul Majdi dan Wakil Gubernur Ir. H. Badrul Munir, MM. Pada tahun 2010 ini, kedua pasangan pemimpin menggenapkan dua tahun pemerintahannya di ProvinsiNTB untuk mengemban amanah dan harapan masyarakat Nusa Tenggara Barat dalam mencapai kesejahteraan dan pembangunan daerah menuju NTB yang Beriman dan Berdaya Saing. .


Arti Logo

Unsur-unsur yang tertulis dalam Lambang Daerah Provinsi NTB.

Rantai yang terdiri dari 4 berbentuk bundar dan yang 5 berbentuk segi empat, melambangkan tahun 45 (1945)

Padi dan kapas. Butiran padi sebanyak 58 butir, dan daun kapas sebanyak 17 dan bunga kapas sebanyak 12 kuntum yang semuanya melambangkan tanggal 17 Desember 1958 yaitu saat berdirinya Provinsi NTB.

Bintang segi lima yang melambangkan 5 sila dari Pancasila.

Gunung yang berasap menunjukkan Gunung Rinjani, gunung berapi yang tertinggi di Pulau Lombok

Kubah melambangkan penduduk Provinsi NTB yang taat dan patuh melaksanakan perintah-perintah agamanya

Kijang, melambangkan binatang khas yang banyak terdapat di Pulau Sumbawa.

Prisai sebagai bentuk luar atau latar belakangnya, melambangkan kebudayaan/kesenian rakyat Provinsi NTB dan juga melambangkan jiwa kepahlawanannya.

Tulisan berbunyi: NTB, ialah nama Daerah yang berpemerintahan sendiri yang terdiri dari Pulau Lombok dan Sumbawa.

Arti-arti warna yang dipakai:

Biru: kesetiaan, Daerah Provinsi NTB adalah Daerah yang selalu setia pada perjuangan Bangsa Indonesia.

Hijau: kemakmuran, kemakmuran adalah cita-cita kita semua dan juga tanda kesuburan dari Daerah Provinsi NTB.

Putih: Kesucian, keluhuran rakyat Provinsi NTB yang senantiasa taat bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa yang langsung pula menjiwai rakyatnya, bercita-cita luhur dan suci serta tindak tanduk baik rokhaniah maupun jasmaniah berdasarkan kesucian.

Kuning: kejayaan, keberanian berjuang atas dasar kesucian itu maka membawa kita pada kejayaan.

Hitam: abadi, kejayaan yang berdasarkan atas landasan yang luhur akan abadi.

Merah: keberanian, kepahlawanan, berjiwa hidup dan dinamis untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.


Nilai Budaya

 

Setiap tahun masyarakat sasak, khususnya di Lombok Tengah selalu melaksanakan tradisi bau nyale┬Ł, sebuah tradisi yang sudah mengakar di kalangan masyarakat, dan telah dilaksanakan secara turun temurun sebagai pesta tahunan.

Tradisi Bau Nyali berawal dari kisah legenda Putri Mandalika, seorang Putri Raja Tanjung Beru yang sangat cantik nan Jelita. Dikisahkan, Putri Mandalika mulai tumbuh dan menginjak dewasa. Seiring dengan perjalan hidupnya, kecantikan Putri Mandalika-pun menyebar hampir keseluruh pelosok negeri. Kecantikan dan keharuman budi pekerti putri mandalika selalu menjadi buah bibir rakyat di seantero negeri. Karena kecantikan dan keharuman budi pekertinya itulah sehingga para pangeran dan putra mahkota negeri tetangga semuanya ingin mempersunting putri mandalika. Para Pangeran dinegeri tetangga saling berembut ingin mempersunting sang putri. Tak satupun diantara para raja yang mau mengalah, bahkan rela mati demi mendapatkan Sang Putri. Para Pangeran bahkan telah siap untuk melakukan pertumpahan darah atau turun ke medan laga memenangkan sayembara demi mendapatkan Sang Putri.

Namun dari seluruh Pangeran yang berniat mempersunting Sang Putri Raja yang cantik dan termashur tersebut, semuanya diterima secara santun dan diperlakukan terhormat, tetapi tak satupun yang diberi harapan atau jawaban pasti.

Waktupun terus berlalu, Sang putri semakin dewasa dan bertambah usia, Raja Beru-pun khawatir akan penerus tahtanya, karena putri Mandalika adalah penerus tunggal kerajaan tersebut, sehingga didesak untuk segera memiliki pendamping dan melahirkan keturunan yang kelak akan melanjutkan tahta kerajaan.

Oleh Karena itu Raja kemudian meminta Putri Mandalika dapat segera menjatuhkan pilihan kepada salah satu dari seluruh pangeran yang sudah melamarnya. Hal ini demi kelangsungan tata kerjaan dan keamanan negeri, ujar raja kepada putrinya. Namun sang Putri memohon kepada sang Ayah agar diberi waktu, dan akan memberi jawaban pada suatu hari yang tepat untuk mengumunkan pilihannya. Sang Putri tak ingin terjadi pertumpahan darah, sebab bila terjadi pertumpahan darah akan sangat merugikan semua pihak dan akan menyengsarakan rakyat dan seluruh negerinya. Jika memilih satu dari pengeran itu, tentu akan terjadi keributan dan pertumpahan darah.

Akhirnya tibalah saatnya Sang Putri harus mengumpunkan pilihan dihadapan pejabat dan seluruh rakyatnya. Pada suatu malam gelap bertempat di Bagian Selatan disekitar pantai Seger Kute Lombok Tengah, Raja Beru mengadakan Pesta upacara untuk menyambut Putri Mandalika akan mengumumkan pilihan pendamping hidupnya. Pesta begitu meriah, para tamu dan rakyat-pun sudah tak sabar menunggu pilihan Sang Putri.

Tibalah saatnya sang putri mengumumkan pilihannya, tetapi ternyata didepan rakyatnya sang putri berkata agar seluruh negerinya menjaga kedamaian, meniadakan pertumpahan darah serta meningkatkan silaturahmi dan keharmonisan. Demi kedamaian, aku rela berkorban untuk rakyat dan seluruh negeri, ucap Sang Putri seraya langsung menceburkan diri ke laut.

Menyaksikan momen yang tak pernah dibayangkan tersebut, semua pangeran yang hadirin pun menjadi panik dan berusaha mencari Sang putri di tengah kegelapan malam yang terbawa oleh derasnya gelombang lautan. Setelah lama dicari, sang Putri tidak ditemukan, yang didapat hanyalah cacing-cacing laut, yang memancarkan kemilauan yang sangat indah. Cacing laut ini hanya muncul setahun sekali pada saat tertentu saja, dan sejak saat itulah dirayakan dirayakan pesta rakyat bau nyale setiap tahun, bertempat di pantai kute lombok tengah.

Dari kisah legenda tersebut, pelajaran penting yang dapat dipetik adalah perenungan terhadap legenda putri nyale yang dengan rela mengorbankan hidupnya demi terciptanya sebuah kedamaian.

Kerelaan putri nyale mengorbankan hidupnya supaya tidak terjadi konflik ini menggambarkan keluhuran kepribadian masyarakat NTB khususnya di Lombok, yang mengutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi, cinta akan kedamaian, serta tulus memberikan dan mengorbankan jiwa dan raga demi sebuah persatuan.

Oleh karena itu, masyarakat NTB masa kini dapat memetik hikmah hikmah dari legenda tersebut serta tidak mudah terpengaruh dengan provokasi oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab.




back