Provinsi

SULAWESI TENGGARA

Profil | Sejarah | Arti Logo | Nilai Budaya

Profil

Nama Resmi

:

Provinsi Sulawesi Tenggara

Ibukota

:

Kendari

Luas Wilayah

:

38.067,70 Km2  *)

Jumlah Penduduk

:

2.494.711 Jiwa  *)

Suku Bangsa

:

Buton,  Muna, Bugis, Kalisoso, Toraja, Moronene, Tolaki, Wolio, Wowonii.

Agama

:

Islam, Kristen, Katolik

Wilayah Administrasi

:

Kab.: 15,  Kota : 2,  Kec.: 209,  Kel.: 377,  Desa : 1.820  *)

Lagu Daerah

:

Peia Tawa-tawa

Website:

:

http://www.sulawesitenggaraprov.go.id

*) Sumber : Permendagri Nomor 39 Tahun 2015

Sejarah

Seperti daerah-daerah lainnya di Indonesia, Sulawesi Tenggara memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan tidak dapat dilepaskan dari sejarah Indonesia secara keseluruhan.Tonggak terpenting dalam sejarah Sulawesi Tenggara pada abad ke 10 Suku Konawe mendirikan sebuah kerajaan yang terkenal yaitu Kerajaan Konawe yang diikuti oleh beberapa Kerajaan di Sulawesi Tenggara.

Pada tanggal 5 Januari 1613, Belanda menginjakkan kaki untuk pertama kali di daratan Buton dan mendapat perlawanan yang gigih dari rakyat Sulawesi Tenggara.

Arti Logo

 

Lambang ini terletak di dalam suatu bentuk perisai lima, yang menunjukkan bahwa masyarakat Sulawesi Tenggara dalam segala segi peri hidup dan kehidupan, tetap berada di dalam Falsafah Negara Republik Indonesia Pancasila. Pada bagian sebelah utara terdapat tulisan berwarna merah “Sulawesi Tenggara” yang menunjukkan : inilah lambang dari Sulawesi Tenggara, lambang mana adalah menjiwai setiap warga Sulawesi Tenggara di waktu apa dan di tempat manapun ia berada. Warna merah melambangkan, berani mempertahankan yang hak.

Warna: ada empat macam warna sesuai dengan pembagian perisai menunjukkan bahwa pada waktu dibentuknya Propinsi Sulawesi Tenggara meliputi empat daerah.

  1. Hijau, adalah perlambang kesuburan, dan warna ini menunjukkan Kabupaten Kendari. Bahwa di Kabupaten Kendari baik untuk masa kini maupun masa-masa yang akan datang, cukup banyak tersedia tanahtanah pertanian yang dapat ditanami dengan segala macam bahan-bahan makanan dan bahan-bahan kebutuhan pokok lainnya. Selanjutnya warna hijau ini menunjukkan warna hutan. Kabupaten Kendari cukup banyak hutannya yang menghasilkan berbagai macam kayukayuan yang membutuhkan pengolahan, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun keluar negeri. Warna hijau melambangkan doa harapan dan kepercayaan.
  2. Coklat, adalah menunjukkan tanah berwarna coklat yang mengandung nikel dan terdapat di Kabupaten Kolaka. Sebagaimana diketahui bahwa nikel adalah merupakan kebutuhan dunia., dimana nikel yang terdapat di Kabupaten Kolaka mempunyai daerah yang cukup luas serta kadar yang tinggi. Dengan nikel ini, Sulawesi Tenggara sudah dikenal dengan dunia luar.
  3. Kuning, adalah menunjukkan warna kayu jati yang terdapat di Kabupaten Muna. Kayu jati termasuk salah satu jenis kayu yang disenangi di dalam dan di luar negeri. Melalui kayu jati dari pulau Muna Sulawesi Tenggara dikenal oleh daerah-daerah lain di Indonesia maupun oleh dunia luar. Warna kuning melambangkan kejayaan masa silam, sekarang dan masa mendatang, keluhuran yang bijaksana dan cendekia.
  4. Hitam, adalah menunjukkan warna aspal yang terdapat cukup banyak di Kabupaten Buton. Aspal Buton ini udah dikenal sejak dahulu dan telah memberikan andilnya pada pembangunan tanah air kita khususnya dibidang prasarana jalan. Warna hitam melambangkan kemantapan, keteguhan dan kekekalan.

Keempat macam warna ini selain melambangkan jumlah kabupaten yang ada pada saat terbentuknya Provinsi Sulawesi Tenggara, juga sekaligus menunjukkan potensi yang ada di daerah ini cukup banyak, yang memberikan jaminan untuk masa depan daerah ini guna tercapainya kemakmuran dan keadilan yang diidamidamkan.

Dan inilah makna dan pengertian yang dikandung “padi dan kapas” yang secara nasional telah dikenal sebagai lambang untuk kemakmuran dan keadilan. Butir padi yang terdiri dari 17 butir, melambangkan tanggal 17, buah kapas yang terdiri dari 8 buah, melambangkan bulan 8/Agustus, tiap buah kapas dengan kelompok hijau 4 dan biji putih 5 melambangkan tahun 45. Hal ini mengingatkan Hari Proklamasi Negara RI. 17 Agustus 1945.

Mata Rantai yang disambung menjadi satu yang berjumlah 27 mata rantai merupakan perlambang kesatuan dan persatuan dari keempat kabupaten di Sulawesi Tenggara, yang dalam gerak langkah perjuangannya telah mempunyai kesatuan derap dan nada, yakni pembangunan di segala bidang; hal ini mengingatkan hari kelahiran Propinsi Sulawesi Tenggara pada tanggal 27 April 1964.

Kepala Anuang, mempunyai dua macam pengertian : Bahwa Anuang adalah suatu binatang yang mempunyai ciri khas yaitu: ulet, gesit dan militan. 
Bahwa Anuang itu hanya terdapat di Sulawesi Tenggara pada khususnya dan Sulawesi pada umumnya. Jadi perlambang sebagai ciri spesifik untuk Sulawesi Tenggara.

Warna Putih, yang menjadi dasar dari kepala Anuang menunjukkan kesucian dan kebersihan, itikad baik secara tulus ikhlas bagi warga Sulawesi Tenggara dalam melaksanakan pengabdiannya untuk kemajuan daerah dan perkembangan Daerah Sulawesi Tenggara pada khususnya dan Negara Republik Indonesia pada umumnya. Warna putih melambangkan kesucian dan bersih tanpa pamrih.

Warna Biru Laut, mempunyai tiga macam pengertian : Yang menjadi dasar dari pada Daerah Sulawesi Tenggara ini menunjukkan makna sebagian dari alam geografisnya terdiri dari gugusan pulau yang dipisahkan oleh laut-laut yang penuh dengan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Bahwa masyarakat Sulawesi Tenggara memiliki jiwa pelaut yang ulung. Warna biru laut melambangkan sifat kesetiaan, keluhuran dan kejujuran dalam pengabdiannya. 

Nilai Budaya

 

Daya tarik wisata di Sulawesi Tenggara merupakan perpaduan antara karakter Alam yang kuat dan kebudayaan,Seperti daerah lain yang juga memiliki nilai-nilai tradisi yang kental. Disulawesi tenggara juga terdapat upacara adat warisan turun temurun, keunikan upacara adat yang kita miliki tentunya wajib dilestarikan demi kemajuan budaya dan dan wisata Indonesia, disulawesi tenggara sendiri memiliki banyak upacara adat yang turun temurun menjadi warisan leluhur,berbagai warisan sejarah kepurbakalaan serta eksistensi sosial dan budaya yang unik dan khas ditengah masyarakat acara adat serta seni tradisional, Seperti daerah lain yang juga memiliki nilai-nilai tradisi yang kental Peninggalan budaya masa lalu memberikan karakteristik dan kekayaan nilai-nilai budaya yang hingga saat ini dapat dilihat pada pola/tradisi dikehidupan masyarakat . Eksisting budaya inilah yang memberikan fenomena unik bagi pengembangan pariwisata yang berbasis pada nilai-nilai budaya disulawesi tenggara sendiri memiliki banyak upacara adat yang turun temurun menjadi warisan leluhur antara lain: 

 
- upacara adat Bangka mbule-mbule dikabupaten Wakatobi
- Upacara adat religi Qunua oleh masyarakat Buton Raya 
- Upacara adat Posuo oleh Masyarakat Buton Raya
Selain upacara adat yang kental akan nilai-nilai tradisi disulawesi tenggara juga kaya akan seni lainya yaitu Seni tari tradisional


seperti Tarian Rakyat Malulo. Tarian Malulo atau Lulo (dari bahasa tolaki: Molulo), merupakan salah satu jenis kesenian tari tradisional dari daerah Sulawesi Tenggara. Suku Tolaki sebagai salah satu suku yang berada di daerah inimemiliki beberapa tarian tradisional, salah satu tarian tradisional yang masih sering dilaksanakan hingga saat ini adalah tarian persahabatan yang disebut tarian Lulo. Pada zaman dahulu, tarian ini dilakukan pada upacara-upacara adat seperti: pernikahan, pesta panen raya dan upacara pelantikan raja, yang diiringi oleh alat musik pukul yaitu gong. Tarian ini dilakukan oleh pria, wanita, remaja dan anak-anak yang saling berpegangan tangan, menari mengikuti irama gong sambil membentuk sebuah lingkaran. Filosofi tarian Lulo adalah persahabatan, yang biasa ditujukkan kepada muda mudi suku tolaki sebagai ajang perkenalan, mencari jodoh, dan mempererat tali persaudaraan. Tarian ini dilakukan dengan posisi saling bergandengan tangan dan membentuk sebuah lingkaran. Peserta tarian ini tidak dibatasi oleh usia maupun golongan, siapa saja boleh turut serta dalam tarian Lulo, kaya-miskin, tua-muda bahkan jika Anda bukan suku Tolaki atau dari negara lain bisa bergabung dalam tarian ini, yang penting adalah bisa mengikuti gerakan tarian ini.


Aduan Kuda. Merupakan tradisi kuno rakyat Muna, Kapogihara Adhara atau aduan kuda, salah satunya. Tradisi yang menggambarkan betapa pentingnya kuda dalam kehidupan orang Muna. Aduan kuda menjadi kegiatan rutin setiap HUT Kemerdekaan RI dan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Kecuali di Desa Lathugo Kecamatan Lawa, aduan kuda ini diselenggarakan tiap bulan. Makana aduan kuda ini adalah mencerminkan kekuatan dan keuletan dalam melaksanakan tugas, kewajiban yang diamanatkan sekalipun dengan mempertaruhkan jiwa dan raga. Pada jaman Kerajaan di Muna, aduan kuda ini selalu dipertontonkan kepada tamu-tamu kerajaan.


Kerajinan Perak Kendari. Kerajinan perak Kendari sudah terkenal akan keindahan, keanggunan dan kehalusannya yang tidak kalah dengan beberapa pusat kerajinan perak di Indonesia misalnya: di Jawa ada di Kotagede (Yogyakarta), Bangil (Jawa Timur), Celuk di Bali, Sumatera di Padang. Konon motivasi kerajinan perak di Kendari ini diawali dengan mengamati seekor laba-laba sedang membuat sarangnya, dengan sebuah jarum dan benang perak mulailah dibuat segala bentuk hiasan, bingkai-bingkai perak dan mengisinya dengan jaringan benang perak yang halus. Kemudian perhiasan diciptakan berbentuk bunga anggrek, mawar atau bahkan sarang lab-laba. Juga bentuk-bentuk yang lebih besar seperti kapal layar, cerek dan lain sebagainya. Lokasi tepanya di pusat Kota Kendari.


Mesjid Muna. Mesjid ini berada di dalam kompleks kerajaan Muna. Kompleks kerajaan Muna dibangun sekitar tahun 1.600 M yang dikelilingi oleh tembok sepanjang 8.073 m. Didalamnya terdapat situs sejarah seperti mesjid pertama di Muna dan batu pelantikan para raja.


Tari Ntiarasino. Tari ini menggambarkan ungkapan bahasa sastra Muna kepada orang yang menjadi patriot sebagai pejuang tanah air dan juga ungkapan rasa harus mereka yang sangat mendalam. Biasanya tari ini dibawakan oleh 6 orang putra putri dengan menggunakan perisai dan tombak.

back